Bab 4 : Malangnya
Bianca
2 minggu yang lalu sebelum Bianca
meninggal, disebuah rumah mewah tampak ada sebuah pesta meriah. Disanalah Bianca
bersama suaminya berada saat ini, ia sedang menghadiri pertunangan kakaknya
dengan wanita cantik yg sangat dicintai kakaknya. Bianca merasakan kebahagian
disekelilingnya. Tentu saja ia bahagia karena akhirnya kakaknya juga akan
menikah dengan pilihan hatinya. Ia tahu betul sikap kakaknya selama ini kepada
wanita, dingin. Itulah kata yg paling cocok menggambarkan pribadi kakaknya. Walaupun
kakaknya bersikap dingin kepada para wanita tapi tetap saja ia dipuja &
digilai para perempuan manapun, selain dingin kakaknya juga berwajah tampan.
Parempuan manapun pasti akan jatuh cinta padanya.
Sudah 1 jam lamanya ia berdiri sambil
minum, ia melirik suami disampingnya sudah gak ada. Kemana dia ya? batin
Bianca. Ia mencari suaminya memintanya agar mereka pulang cepat karena saat ini
ia sudah mengantuk dan ingin cepat tidur. Bianca kemudian bertanya kepada
pelayan yg kebetulan lewat didepannya. Pelayan itu menjawab kalau ia melihat
suaminya naik keatas. Bianca menyusul suaminya keatas, ia melihat kamar tertutup
semua kecuali satu kamar yg paling ujung agak terbuka sedikit dimana ia sering
menempati kamar itu kalau ia sedang menginap dirumah kakaknya. Bianca berjalan
kearah kamar tersebut, ia berhenti tak jauh dari kamar tersebut ketika ia
mendengar suara orang bercakap-cakap. Bianca merapatkan telinganya kedinding,
itu suara tak asing ditelinganya. Ya itu suara suaminya dengan perempuan
lain...ya ampun ia tau suara perempuan itu, itu calon kakak iparnya. Bianca
menutup mulutnya karena kaget, bahkan ia sangat luar biasa terkejut ketika ia
mendengar percakapan itu.
“sayang, kapan kita
bisa bersama-sama lagi, aku udah bosan menunggu”ujar suara laki-laki itu yg tak
lain suara suaminya.
“sabar honey, sebentar
lagi... tunggu kalau aku sudah menikah dengan pria dingin itu, tapi sebelumnya
kau harus menceraikan Bianca dulu” jawab calon kakak ipar Bianca itu.
“ya sayang, 3 hari
lagi aku akan menceraikannya”
“hmmm bagus”
Bianca mengintip adegan dimana suaminya
sedang mencium mesra kakak iparnya.Bianca terduduk lemas, ia tak menyangka
kalau suaminya dengan calon kakak iparnya itu bermain api dibelakangnya.
Rasanya jijik ingin muntah ia melihat adegan tadi. Cepat-cepat Bianca menjauh
dari sana dan memikirkan strategi untuk membalas mereka.
Bianca mengambil air
putih dan meminumya ketika ia sudah turun dan bergabung dengan para tamu. Tak
berapa lama suaminya turun, ia tak melihat calon kakak iparnya turun. Well
kalau calon kakak iparnya turun bersamaan dengan suaminya semua pasti akan
curiga, batin Bianca. Bianca mencoba tersenyum tulus kepada suaminya ketika
suaminya menghampirinya dan memeluknya.
“sayang, kita pulang
yuk.aku udah ngantuk nih” ujar Bianca sambil melepaskan pelukannya, sebenarnya
ia sangat muak bahkan jijik memanggil suaminya dengan sebutan sayang ketika ia
tau apa yg dilakukan suaminya
dibelakangnya.
“baiklah kalau begitu,
kita pamitan dulu pada kakakmu”
Bianca mengikuti
suaminya menuju kakaknya yg sedang tersenyum bahagia berbicara pada tamu.
Setelah kakaknya sendirian mereka pamitan, sebenarnya kakaknya masih ingin
Bianca menemaninya karena Bianca adalah satu-satunya saudara dekatnya saat ini.
Orangtuanya sedang berada diluar negeri, papanya sangat sibuk dengan urusan
bisnis yg tak bisa ditinggalkan begitu saja sedangkan mamanya setia menemani
suaminya kemanapun. Orangtuanya akan datang ketika kakaknya sudah benar-benar
akan menikah.
Bianca cepat-cepat tidur ketika
mereka tiba dirumah, ia tak ingin berlama-lama
bersama suaminya. Sayup-sayup ia mendengar suara kaki menuju kearah
ranjangnya. Diliriknya suaminya sudah berbaring disampingnya. Tak berapa lama
bunyi hp disebelahnya berdering, suaminya mengangkat hp tersebut. Dengan pelan
suaminya menjawab telepon tersebut.
“ya ini aku, aku belum
tidur” jawab suaminya sangat pelan takut kalau Bianca terbangun.
“Oh...Bianca udah
tidur” lanjut suaminya sambil meliriknya. Suaminya bangun dan menuju kamar
mandi sambil terus menelepon. Bagus, batin Bianca. Ia bisa mendengar percakapan
suaminya dengan jelas. Dirapatkannya tubuhnya ke dinding kamar mandi.
“ya sebentar lagi kita
akan bersatu... aku udah gak sabar”
Bianca makin panas
hatinya mendengar perkataan itu.
“ya setelah aku
menceraikan Bianca, dan kau menghabisi kakaknya tentu saja dengan harta
berlimpah yg kita miliki, hahahaha...”
Bianca sangat terkejut
mendengarnya, lama ia terdiam mematung
di dekat kamar mandinya. Ia melangkah dengan gontai menuju ranjangnya sebelum
ia kepergok suaminya sedang menguping pembicaraannya. Ia harus melakukan
sesuatu, batin Bianca
Keesokan paginya, Bianca sudah bulat
mengambil keputusan, sebelum dia didahului oleh musuh dalam selimut.
“ehm... aku mau cerai
dari kamu” Bianca membuka percakapan pagi itu tanpa basa-basi. Dilihatnya
suaminya langsung menghentikan makannya, dan melepaskan sendok ditangannya.
“kenapa sayang? Kenapa
kamu berkata begitu?”
Bianca menatap tajam laki-laki yg ada didepannya itu, huh pura-pura terkejut dia padahal sebenarnya itu yg dinginkannya selama ini, batin Bianca dongkol.
Bianca menatap tajam laki-laki yg ada didepannya itu, huh pura-pura terkejut dia padahal sebenarnya itu yg dinginkannya selama ini, batin Bianca dongkol.
“ya...karena aku sudah
gak mencintai kamu lagi” jawab Bianca dengan muka dingin tanpa ekspresi.
Buatlah ini menjadi mudah, kan bukankah hal inilah yg dinginkan oleh Laki-laki
ini batin Bianca lagi. Suaminya yg ada
didepannya itu mengangkat bahunya.
“ya sudah kita akhiri
pernikahan ini, sebenarnya aku juga gak mencintai kamu lagi. Daripada ada yg
sakit hati lebih baik kita akhiri saja” jawab suaminya dengan entengnya
seolah-olah sudah direncanakan sebelumnya, ya memang sudah direncanakan sih
batin Bianca.
“siang ini aku akan
mengirimkan pengacara untuk mengurusi perceraian kita, dan aku minta hak asuh
anak ada ditanganku, dan mulai siang ini aku tinggal dirumah kakakku” ujar
Bianca panjang lebar. Suaminya hanya mengangguk, Bianca beranjak dari tempat
duduknya menuju keatas, diliriknya sebentar laki-laki yg akan menjadi mantan
suaminya, tertawalah sepuasnya batin Bianca dengan geram.
Bianca sudah tau apa yg akan
dihadapinya ketika ia berbicara pada kakaknya soal perceraiannya ketika ia
sudah sampai dirumah kakaknya. Tapi kakaknya tak bisa berbuat apa-apa, kakaknya
tau betul sifat keras kepala Bianca. Ia hanya bisa menasehati adiknya itu,
kakak akan terkejut suatu saat nanti apabila tau yg sebenarnya,batin Bianca
sedih.
Bianca duduk merenung diteras
rumahnya ketika ia sudah mengantar anaknya ke TK. Hari ini hari Jum’at, sudah 3
hari ia bercerai dari suaminya secara agama. Tiba-tiba ia teringat cincin
pemberian ibunya yg berharga ketinggalan dimeja riasnya dirumah mantan
suaminya. Tanpa pikir panjang lagi ia mengambil kunci mobil dan melaju kerumah
mantan suaminya. Ia tak sempat memberitahukan kepada kakaknya bahwa ia akan
kerumah mantan suaminya & mungkin akan pulang terlambat.
Bianca langsung menuju keatas tempat
kamarnya, ketika ia sudah sampai dirumah mantan suaminya. Ia menghentikan langkahnya
ketika ia mendengar suara desahan dari dalam kamarnya. Tak salah lagi ini pasti
2 iblis itu, pikir Bianca. Dengan sangat emosi ia membanting pintu kamar, yg
beruntungnya ia masih punya kunci serep kamarnya. Mata Bianca terbelalak
meilhat pemandangan didepannya, mantan suaminya
sedang bercumbu dengan calon kakak iparnya.
“ahkkk apa yg kalian
lakukan, dasar manusia iblis!!!” teriak Bianca dengan nada melengking. 2 orang
yg didepannya sangat terkejut, ketika melihat Bianca sudah berdiri didepan
pintu kamar.
“kalian tak bisa
didiamkan saja, aku harus lapor polisi” Secepat kilat Bianca berlari menjauh
namun sial tiba-tiba tanpa diduga Bianca, calon kakak iparnya mengambil keramik
agak besar & membenturkannya kekepala Bianca. Bianca tersungkur kelantai dengan
darah mengalir deras dari kepalanya. Calon kakak iparnya itu menarik kepala
Bianca dengan paksa & mendongakkannya menghadap kearahnya sambil berbicara
“Bianca sayang, kamu terlalu jauh melihat
semuanya. Kami harus melenyapkanmu!”
“huh tak semuda itu
wanita iblis, aku akan mengungkapkan kebenaranannya meskipun aku harus mati”
jawab Bianca dengan tegas walaupun ia merasakan tubuhnya lemah tak berdaya.
“kita lihat saja
nanti”
Bianca merasakan
tubuhnya ringan seperti melayang, setengah membuka mata ia melihat mantan
suaminya membopongnya turun menuju garasi tempat ia meletakkan mobilnya.
Setelah ia di dudukkan kemobil dengan paksa, dilihatnya mantan suaminya sedang
menyetir disampingnya. Ia ingin meronta namun apa daya tubuhnya sudah lemah
sekali, mau kemana ia dibawa? Pikir Bianca. Ketika ia setengah sadar, ia
melihat sekelilingnya, hutan?. Mau diapakan dia? Pikir Bianca cemas. Melihat
Bianca masih setengah sadar, dengan beringas mantan suaminya memukul kepalanya
dengan kayu. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya, samar-samar ia
mendengar mantan suaminya berucap.
“selamat tinggal
sayang, tidurlah selamanya”
Ia merasakan mobilnya
meluncur kedasar jurang dan terdengar ledakkan disertai api. Ketika ia sadar,
ia melihat dirinya sendiri sedang terbaring kaku diatas tanah, ia melihat
wartawan sedang mengambil potonya tak berapa lama kakaknya datang dengan wajah
amat sangat sedih. Mereka tak menghiraukan dirinya yg berdiri mematung melihat
tubuhnya sendiri.
“begitulah Sya
ceritanya...” terang Bianca mengakhiri ceritanya. Tanpa Ariesya sadari air
matanya terus menetes dipipinya saat ia mendengar cerita mengharukan itu.
“kasihan sekali dirimu
Bianca, sudah dikhianati oleh mantan suamimu & calon kakak ipar” Ariesya
menghapus air matanya. Bianca hanya mengangkat bahunya.
“oh ya Bianca, aku ada
sedikit permintaan”
“apa itu?”
“bisa gak sih kamu
menampakkan dirimu tanpa ada noda darah di seluruh tubuhmu, jujur.aku ngeri
banget lihatnya”
Bianca melihat
tubuhnya sendiri, well itu memang benar, ia penuh dengan noda darah. Bianca
tersenyum kepd Ariesya, tak berapa lama ia menghilang sebentar kemudian ia
muncul dengan tubuh tanpa noda darah
“nah gitu dong,
sekarang kalau kau muncul tiba-tiba, aku gak perlu kaget plus ngeri melihatnya”
Ariesya mengancungkan jari jempolnya pada Bianca tanda senang melihat
penampakan Bianca sekarang ini. Tiba-tiba hp Ariesya berbunyi, membuat kaget
keduanya. Tanpa dikomando Bianca sudah menghilang dr pandangan, Ariesya hanya
mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi tak terjadi apa-apa, dilihatnya
layar hp-nya, Rista calling.
“ya Ris....”
Bersambung Sebuah Fakta Part 5