Sebuah Fakta Part 10

Sore ini Ariesya dan Ara berada ditaman di kediaman Biyon, Ara duduk diayunan yang didorong Ariesya. Beberapa menit kemudian Bianca ikut bergabung. Mereka tampak gembira sambil bercanda. Ariesya melirik jam mungil ditangannya, menunjukkan pukul lima sore saatnya ia pulang.  “ummm... sudah jam lima, bu guru mau pulang dulu”  mendengar Ariesya hendak pulang, Ara langsung memegang tangan Ariesya begitu erat.
“gak, bu guru gak boleh pulang” teriak Ara menolak
“tapi.... hari sudah sore” Ariesya memberi penjelasan. Ara menggeleng ia tak mau mendengar penjelasan Ariesya, kini ia memeluk Ariesya erat. “pokoknya gak boleh pulang...” Ara merengek. Ariesya memandang Bianca berharap Bianca mengatakan sesuatu.
“yeah... tunggu beberapa menit lagi aja Sya, mungkin Ara bisa dibujuk nantinya” akhirnya Bianca berbicara memberi solusi, Bianca mengedipkan sebelah matanya kepada Ara yang disambut Ara dengan menujukkan jari jempolnya. Melihat isyarat mereka berdua Ariesya langsung mengernyitkan alisnya.
“permainan apa lagi sih yang direncanakan kalian?” tanya Ariesya kepada Bianca, Bianca hanya mengedikkan bahunya membuat Ariesya makin penasaran dibuatnya. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, suara geledek kecil-kecil mulai bersahutan.
“duh sepertinya mau hujan lagi nih” Ariesya memandang kelangit yang kini diselimuti awan hitam yang menggumpal. Selang beberapa menit kemudian hujan turun. Mereka berlari kedalam rumah sebelum pakaian mereka basah. Kini mereka duduk diruang keluarga. Bianca dan Ara saling berpandangan, kini mereka tersenyum.
“apaan sih kalian... bikin penasaran saja” ujar Ariesya memperhatikan mereka berdua bergantian. “ada deh... kayaknya rencana makin terlaksana dengan ditambah hujan” sahut Bianca. “maaf mengganggu... ini teh panas buat nona Ariesya dan susu panas buat nona Ara” ujar bi Sastri mengagetkan mereka bertiga. Bi Sastri meletakkan nampan yang berisi minuman panas tersebut. “dan ini cookies untuk menemani minum kalian” sambung bi Sastri lagi. Ariesya mengucapkan terima kasih sebelum bi Sastri berlalu dari hadapan mereka. Ariesya dan Ara menikmati minumannya masing-masing. Ariesya sesekali melihat keluar jendela berharap hujan akan mereda.
@@@@@@
Biyon menyandarkan tubuhnya kekursi empuk miliknya. Rasa penat menghampirinya setelah beberapa menit yang lalu ia menyelesaikan rapat tertutup dengan beberapa staf ahli karyawannya. Diliriknya jam ditangannya, menunjukkan pukul lima sore. Masih lama untuk ia pulang, biasanya ia akan beranjak keluar dari kantornya paling cepat pukul 9 malam setelah ia memeriksa dokumen hasil pekerjaan karyawannya. Biyon menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. Entah kenapa ia malas untuk membuka setumpuk dokumen didepannya ini. Diambilnya ponsel dari kantongnya dan memencet nomor tunanganannya, sudah beberapa hari ini ia tidak berkomunikasi dengan Monica. Tapi niatnya ini diurungkan. Monica juga sama saja seperti dirinya, tidak pernah memberitahukan keadaannya. Apakah begini kalau orang bertunangan? Tidak saling ingin mengetahui keadaaan masing-masing. Sebenarnya Biyon tidak mencintai Monica, lalu untuk apa ia bertunangan? Biyon mengusap wajahnya. Setiap pertanyaan itu muncul dalam benaknya ia merasa pusing. Well setiap pria dewasa seperi dirinya pastilah ditanya kapan menikah? Dan itulah kenapa Biyon bertunangan dengan Monica, untuk menghindari pertanyaan yang selalu dilontarkan dari mulut mamanya. Mamanya setiap pulang dari negara Rusia selalu berbicara ia ingin menggendong cucu dari Biyon, ya meskipun mamanya sudah dapat cucu dari putrinya sendiri Bianca yaitu Ara. Biyon beranjak dari kursinya dan menuju jendela kaca menatap langit sore. Biyon kembali melamun, mengingat masa lalunya ketika ia pertama kali berjumpa dengan Monica. Biyon berkenalan dengan Monica melalui adik iparnya Bayu Pratama yang tak lain suami adik kembarnya Bianca. Monica sendiri merupakan sahabat Bayu begitu kata mereka berdua. Tiba-tiba terlintas ide gila dalam pikirannya melihat Monica yang cantik, enerjik, dan smart untuk melakukan ikatan pertunangan dan gayung pun bersambut ternyata Monica setuju untuk melakukan hal gila tersebut. Entah motif apa Monica setuju melakukannya, hingga kini ia tak tau. Pernah ia berpikir Monica mau melakukannya karena hartanya tapi dengan wajah memelas Monica bilang ia mencintainya sejak pertama ia bertemu dengan Biyon. Biyon akhirnya percaya, mungkin dengan berjalannya waktu ia akan mencintai Monica. Mencintai Monica? Biyon menghembuskan nafasnya keras-keras, tepatkah pilihannya sekarang ini? Apakah ia telah menyesal? Batin Biyon berkecamuk. Teringat ia akan kejadian pagi tadi, yang hampir saja membuat dunianya kacau balau. Ariesya gadis mungil itu telah membuat hatinya bergetar.

Suara menggelegar dari langit mengagetkan Biyon, ia pun tersadar dari lamunannya. Langit telah ditutupi oleh awan hitam yang tebal pertanda hari akan hujan deras. Dilihatnya ponsel masih dalam genggaman tangannya dan tertera dilayar nama Monica, ia tadi urung meneleponnya. Biyon menimbang-nimbang, baiklah ia akan menelepon Monica sekedar basa-basi menanyakan kabarnya. “ nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi” begitulah suara operator itu terdengar setiap kali ia menghubungi ponsel Monica. Biyon mengerutu kesal, terlihat sekali diwajahnya yang tampan. Kemana sih kamu Monica gumam Biyon, kembali ia melihat langit sore yang mulai terlihat titik-titik air hujan. Akhir-akhir ini cuaca kurang bersahabat, karena itulah ponakannya yang manis Ara jatuh sakit. Dan sekarang ini Ara ditemani oleh gurunya, Ariesya? Bagaimana dengan gadis itu ya? Apakah ia sudah pulang, mengingat hujan deras tersebut apakah ia masih menemani Ara? Beberapa pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Biyon mendesah, baiklah untuk memastikannya ia akan menelepon rumahnya. Tapi untuk apa? Kembali pertanyaan memenuhi pikirannya. Sial-sial apa yang terjadi pada dirinya hari ini?, maki Biyon. Baiklah ia akan memastikan Ara apakah baik-baik saja, itu cukup menjadi alasan. Tanpa banyak berpikir lagi ia menelepon rumahnya. Selang beberapa menit kemudian Biyon mematikan ponselnya setelah ia mengetahui keadaan rumahnya dari bibi Sastri. Sesungging senyuman kini menghiasi wajah tampannya.  Ternyata gadis mungil itu belum pulang dan penyebabnya tak lain adalah keponakannya Ara yang tak mau Ariesya pulang. Biyon merenggangkan otot-ototnya yang kaku, entah mengapa ia merasa senang. Baiklah ia akan pulang sejenak melihat Ara, Ara atau Ariesya? Ejek dirinya sendiri. Oke dua-duanya, Biyon akhirnya menyerah. Kembali ia duduk dan memanggil sekretarisnya.
“suruh pak Marwan untuk bersiap-siap, aku mau pulang sekarang!” perintah Biyon ketika sekretarisnya sudah berada diruangannya. Sekretaris itu hanya mengangguk.
“tunggu dulu, Sheila. Kamu juga pulanglah!” sambung Biyon bersiap-siap untuk beranjak dari duduknya. Sheila yang ternyata nama sekretarisnya itu tiba-tiba bingung dengan sikap bossnya ini. Biasanya bosnya ini selalu pulang larut malam meskipun ibu atau ponakannya terkadang meminta bossnya pulang cepat. Dan selalu tak pernah digubrisnya. Bahkan kejadian pagi tadi juga membuatnya bertanya-tanya, selama ia berkerja belum pernah ia mendapati bossnya ini telat. Biasanya bossnya sudah standby didepan mejanya dan akan memarahi karyawannya apabila mereka telat. Dingin, terkontrol dan perfect. Ya begitulah sikap sehari-hari bos mudanya yang tampan ini bahkan digilai para wanita. Tapi sekarang ini banyak wanita yang patah hati bahkan dirinya karena bosnya telah bertunangan dengan seorang model cantik nan sexy.

“Sheila... aku tak membayarmu hanya untuk berdiri mematung seperti itu!” bentak Biyon yang seketika itu juga mengembalikan Sheila kedunia nyata. Sheila tergagap mendengar bentakan bosnya. “Sheila, cepat kerjakan perintahku!” bentak Biyon kedua kalinya. Secepat kilat Sheila keluar dari ruangan Biyon. Biyon menghela nafasnya, benar-benar aneh bahkan Sheila sekretarisnya yang bertahun-tahun telah berkerja dengannya saja bingung atas sikapnya, karena mereka tau betul sifat Biyon selama ini.

@@@@@@

Hujan turun dengan derasnya ketika Biyon masuk kedalam rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar suara tertawa riang dari ruang keluarga, membuat ia mengurungkan niatnya untuk langsung menuju kekamarnya. Tanpa sadar, kakinya sudah melangkah keruang keluarga dan melihat keponakannya Ara sedang terguling-guling dilantai yang dialasi dengan karpet tebal empuk sedang digelitiki oleh Ariesya. Tampaknya mereka sangat akrab sekali seperti ibu dan anak saja.
“hahaha....!” teriak Ara kegelian
“menyerah sekarang?”tanya Ariesya antusias, tangannya tetap bergerilya diatas perut Ara. Ara hanya menggeleng, wajahnya kini memerah menahan serangan bertubi-tubi dari Ariesya. “ayo katakan rencana apa yang kalian bicarakan dengan....” suara Ariesya terhenti ketika melihat Mr Dingin sudah berdiri dipintu menyaksikan ia dan Ara saling bercanda. Penampilannya kusut tak serapi ketika Ariesya bertemu tadi pagi. Dasinya sudah longgar, kemeja putihnya sudah tak dimasukkan lagi kecelana dasar hitamnya. Sedangkan blezer hitamnya hanya dipanggulnya. Rambutnya sedikit basah terkena hujan,titik-titik air hujan itu perlahan-lahan jatuh memantulkan cahaya karena berpadu dengan warna rambut Biyon yang pirang keemasan. Membuat Biyon bertambah tampan meskipun dirinya sedikit berantakan. Dengan kagum Ariesya memandangnya tanpa berkedip. Tanpa sengaja mata mereka berdua bertemu, lama mereka saling memandang baik Ariesya maupun Biyon tak ada yang berniat untuk berpaling melihat sekeliling. Mata mereka saling mengunci satu sama lain, dengan pikirannya masing-masing.
“papa Biyon….!” Teriak Ara mengagetkan mereka berdua, seketika itu juga Ariesya dan Biyon tersadar. Biyon tersentak ketika Ara berlari kearahnya dan memeluknya seakan-akan mereka lama tak bertemu.
“Oopsss! Papa basah Ara, nanti kamu tambah sakit” ujar Biyon mencoba menjauhkan Ara dari dirinya. Tapi terlambat karena Ara sudah memeluknya duluan, terpaksa Biyon menggendongnya. “gak apa-apa papa, Ara sudah sembuh kok!” ujar Ara riang, tangannya mengacak-acak rambut Biyon yang basah. Biyon tak menepisnya, dibiarkannya Ara mengacak rambutnya.
“apa benar sudah sembuh?” tanya Biyon sambil berjalan kearah dimana Ariesya duduk. Ara mengangguk “ya papa! Benarkan bu guru, Ara sudah sembuh”  ujar Ara meminta persetujuan dari Ariesya yang kini Ara sudah duduk disampingnya.
“ya benar… bahkan panasnya sudah normal kembali !” jawab Ariesya, ia kini tak berani menatap Biyon. Samar-samar Ariesya mencium aroma wangi dari tubuh Biyon yang kini sedang menunduk mensejajarkan dirinya dengan Ara dan ditempelkannya telapak tangannya kekening Ara, mencoba memeriksa suhu tubuh Ara. Ariesya menggigit bibirnya mencoba menahan rasa yang tak menentu ketika ia berada sedekat ini dengan Mr Dingin. Beruntung ketika Biyon menoleh kearahnya, Ariesya sudah bisa menguasai dirinya. Ariesya tersenyum manis menatap mata cokelat Biyon. “ya kau benar Sya, panasnya sudah turun” ujar Biyon kembali menatap Ariesya dan membalas senyum Ariesya. Kini Ariesya tak tahan menatap mata cokelat Biyon sehingga ia memalingkan pandangannya keluar. Dilihatnya hujan sudah reda, saatnya pulang, pikir Ariesya.
“sepertinya hujan mulai reda, aku….”
“gak, pokoknya bu guru gak boleh pulang!”  teriak Ara memotong perkataan Ariesya yang sepertinya ia tau akan maksud Ariesya. Bianca hanya manggut-manggut yang tentu saja Biyon tak bisa melihatnya meskipun Bianca berdiri disampingnya. “tapi Ra, hujan sudah berhenti” sambung Ariesya. Ara menggeleng dan menghentakkan kakinya kelantai.
“pokoknya gak boleh pulang…” Ara kemudian menatap Biyon dengan wajah memelas
“ya kan papa?” sambung Ara lagi. Biyon menggaruk kepalanya, bingung dengan pertanyaan Ara. “apanya?” Biyon balik bertanya.
“bu guru boleh menginap dirumah kitakan?” Ara meminta persetujuan dari Biyon. Seketika itu juga Ariesya menutup mulutnya, kini ia tau rencana dua makhluk cantik ini. Ariesya melotot kearah Bianca ketika Biyon dan Ara saling berhadapan, sehingga ia tak perlu khawatir Biyon melihatnya sedang menatap tajam ke Bianca. Bianca tersenyum senang. Bianca dan Ara saling mengerlingkan matanya satu sama lain ketika Ara kembali digendong Biyon. “kalau itu papa gak bisa memutuskan, hanya bu Riesya yang bisa memutuskan. Apakah ia mau menginap atau tidak…. “  jawab Biyon sekenanya, sebenarnya ia sangat senang apabila gadis mungil ini jadi menginap dirumahnya. Kali ini ia setuju akan sifat keras kepala keponakannya ini. Ariesya bingung, duh bagaimana ini. Tak mungkin ia menginap disini tanpa alasan yang jelas. Seorang gadis menginap dirumah lelaki yang tak begitu dikenalnya, apa kata orang nanti? Batin Ariesya. Sepertinya Ariesya benar-benar harus menginap, cuaca benar-benar mendukung rencana Bianca. Tiba-tiba saja hujan kembali deras dan semakin deras dibandingkan dengan tadi. Ara dan Bianca tersenyum penuh kemenangan, tanpa disadari mereka, Biyon juga tersenyum bersyukur dengan cuaca sekarang. “sepertinya mau tak mau kamu harus menginap Sya, mengingat hujan sepertinya tak akan reda” ujar Biyon mencairkan suasana karena lama mereka semua menatap keluar jendela yang kini ditutupi dengan hujan deras. Ariesya menjilat bibirnya, ya tak ada pilihan selain menginap batin Ariesya.
“baiklah… aku akan menginap disini” akhirnya Ariesya menyerah. “horeee…!”  teriak Ara kegirangan sambil melepaskan diri dari Biyon yang sedari tadi digendong Biyon. Ara  memutari tubuh Ariesya dan Biyon secara bergantian. “ummm tapi…” Ariesya memandang dirinya sendiri yang sedari tadi belum berganti pakaiannya.
“kalau soal baju, kamu bisa pinjam baju Bianca, mamanya Ara. Kebetulan pakaian Bianca ada beberapa disini”  ujar Biyon yang bisa membaca maksud Ariesya. Bianca kembali manggut-manggut “ya, ya benar itu, kau bisa pinjam bajuku Sya” Bianca menimpali perkataan Biyon saudara kembarnya yang suaranya hanya bisa didengar oleh Ariesya dan Ara. “ya sekarang kau puas Ca” sorot mata Ariesya seakan berbicara kepada Bianca. Bianca mengerti makna mata Ariesya, ia hanya mengedikkan bahunya.
“ehmmm…. Bagaimana Sya? Setuju?” tanya Biyon kembali ketika tak mendapat respon dari Ariesya. Ariesya mengedikkan bahunya.
“ya tak ada pilihan lain” jawab Ariesya singkat.
“nanti tidurnya dengan Ara ya bu Riesya!” ujar Ara antusias, ia sangat senang sekali. Ariesya hanya mengangguk. “kalau kamu keberatan tidur dengan Ara, kamu bisa tidur diruang tamu Sya” Biyon menunjuk sebuah kamar tak jauh dari kamarnya. Ara cemberut mendengar penuturan Biyon.
“uuh… bu guru tidur dengan Ara saja, ranjang Ara gede loh” ujar Ara sambil merentangkan tangannya seakan-akan mengukur ranjangnya. “iya sih, benar juga mengingat bu Riesya tubuhnya mungil” Biyon menimpali perkataan Ara sambil tersenyum dikulum. Ariesya hanya manyun, duh beginilah gak enaknya jadi orang pendek, makin pendek bila berhadapan dengan Mr Dingin ini, keluh Ariesya.
“ya walaupun mungil bu Riesya cantik kok” puji Biyon dengan tulus, ia meralat kata-kata pertamanya tadi. Membuat Ariesya terbang kelangit ke tujuh, ia merasa tak berpijak kebumi setelah mendengar pujian Biyon.
“bu guru emang cantik kok…!” Ara ikut membenarkan pernyataan Biyon. Ariesya makin tersipu mendengar pujian dua keponakan ini.
“oke… obrolan kita sambung lagi nanti, sebaiknya kalian berdua ganti baju sana sekalian mandi” Biyon mencairkan suasana dan membawa Ariesya kembali berpijak kebumi.
“untuk pakaianmu sendiri Riesya, nanti bi Sastri akan mengantarkannya kekamar Ara” ujar Biyon yang mulai dengan sifat-sifatnya yang memerintah dan suka mengontrol semaunya. “oke bos…!” ujar Ara memberi hormat kepada Biyon yang disambung gelak tawa oleh mereka.
“ayo bu kita mandi…” Ara menarik tangan Ariesya berlalu dari Biyon. Tetapi sebelum berlalu dari hadapan Biyon, Ariesya menahan tubuhnya agar tetap disana sebentar.
“anda juga harus mandi, agar tidak masuk angin” Ariesya tersenyum sambil berlalu dari hadapan Biyon dan mengikuti Ara bergerak lincah menuju kekamarnya. Biyon tersenyum mendengar perkataan Ariesya. “terima kasih atas perhatiannya” Ariesya masih sempat mendengar Biyon berkata sebelum ia menaiki tangga.

@@@@@@@
“yeah sukses lagi rencana kita” Bianca berkata puas. Ketika mereka bertiga sudah berada dikamar. Kembali Bianca dan Ara saling tos meskipun mereka tak bisa saling menyentuh. Ariesya ingin berkata sesuatu tetapi niatnya diurungkan ketika ia melihat bi Sastri datang membawa sehelai handuk dan baju tidur ukuran besar berbentuk dress panjang yang meyerupai gaun tidur para gadis bangsawan dikerajaan yang pernah ia tonton di tv. “ini nona Ariesya, pakaian tidur nona untuk malam ini dan juga handuk” tanpa dikomando lagi seperti sudah tau tugasnya bi Sastri meletakkan handuk dan baju tidur diatas ranjang Ara. “terima kasih bi” ujar Ariesya canggung, belum pernah ia dilayani seperti layaknya para puteri bangsawan sekarang ini. Seperti tau rasa canggung Ariesya, bi Sastri tersenyum “tidak usah sungkan nona, sudah menjadi tugas saya untuk melayani tamu nona kecil Ara dan tuan muda Biyon”
“eh ya… “ sahut Ariesya pendek dan kemudian tersenyum tulus kepada bi Sastri. Diam-diam Ariesya menaruh rasa kagum pada wanita paruh baya itu. “benar-benar baik ya bi Sastri itu” ujar Ariesya penuh kagum ketika mereka hanya tinggal bertiga lagi.
“ya begitulah bi Sastri, wanita tua yang berwibawa. Ia sudah mengabdi pada keluarga kami hampir tiga generasi. Dimulai dari generasi papa, kemudian generasiku dan Biyon hingga generasi Ara. Aku dan Biyon besar melalui asuhan bi Sastri.” Sahut Bianca menjelaskan sedikit tentang bi Sastri. “wow…” begitulah suara yang keluar dari mulut Ariesya, ia makin kagum terhadap pembantu senior Bianca itu.
“yeah… ketika kami masih kecil dulu bi Sastri itu gak sekalem sekarang. Ia sangat cerewet sekali terhadap kami, apapun harus berdasarkan aturan yang dibuat dirumah ini. Makanya Biyon tumbuh dengan aturan yang selalu dipegangnya hingga saat ini” Bianca menambahkan perkataannya sambil mengenang masa kecilnya yang penuh dengan aturan-aturan dimana-mana. Oh jadi begitu, makanya sifat Mr Dingin seperti itu, dingin, penuh control dan punya kendali yang besar dalam hidupnya bahkan hidup seseorang yang ia kenal Ariesya manggut-manggut mengerti. “dan mungkin juga bi Sastri masa mudanya cerewet karena menghadapi Biyon kecil dan Bianca kecil yang tak mau diatur” Ariesya coba menganalisa perkataan Bianca.
“binggo, seratus buat bu guru Riesya, hehehe!” sahut Bianca cengar-cengir. “dan tentunya juga ia sekarang kalem karena umurnya yang semakin menua” Bianca kembali menambahkan kata-katanya.
“bu guru… Ara sudah siap nih, kita mandi berdua ya” Ara mengagetkan Ariesya dan Bianca yang sibuk bercerita dari tadi. Dilihatnya Ara sudah berselimut handuk bersiap menuju kekamar mandi yang berada dikamarnya sendiri. “baiklah kalau begitu ibu mau buka baju dulu, tunggu sebentar ya” Ariesya menutup pintu kamar mandi dan mengganti pakaiannya, sebelum membuka pintu kembali Ariesya mengisi air di bathup.
“oke waktunya kita mandi” teriak Ariesya dari dalam kamar mandi. “horeee, mama mau  ikut mandi?” tanya Ara polos. “gak sayang, mama tunggu diluar saja” Bianca menolak halus pertanyaan putrinya ini. “kenapa, mama? Mama kan belum mandi sama kayak Ara dan bu guru” kembali Ara bertanya dengan bingung.
“karena mama sudah gak butuh mandi  lagi sayang” getir Bianca menjelaskan kepada putri kecilnya ini. Mata Bianca berkaca-kaca, rasanya ia ingin menangis kalau ia masih bisa mengeluarkan air matanya. Bahkan Ariesya yang berdiri dipintu kamar mandi juga ikut berkaca-kaca matanya ketika mendengar Bianca berkata seperti itu.
“cepat Ra, keburu airnya dingin tuh” Ariesya mengalihkan perhatian Ara dengan menunjuk bathup yang kini penuh dengan busa. Seketika itu juga Ara tertarik dengan busa tersebut dan berlari menuju Ariesya yang sudah berdiri dipintu kamar mandi. “makasih Sya” ujar Bianca, beberapa detik kemudian sudah menghilang dari pandangan. Ariesya mengangguk dan menutup pintu kamar mandi dan segera bergabung dengan Ara yang sibuk dengan busa sedari tadi.

@@@@@@
“seger ya” ucap Ariesya ketika keluar dari kamar mandi bersama Ara, mereka mengenakan handuk sebagai pembalut tubuh mereka.
“sini ibu bantu” Ariesya melihat Ara kesulitan mengenakan pakaiannya. Sebelum Ara mengenakan pakaiannya Ariesya membubuhi minyak telon agar Ara tak kedinginan.
“yup, selesai.” Ujar Ariesya ketika ia selesai mengancingkan pakaian Ara dari belakang. Kini Ariesya juga mengenakan pakaian yang diberikan oleh bi Sastri tadi.
“wow, cocok Sya kau mengenakan gaun tidur milikku” puji Bianca yang kini sudah berdiri disamping Ariesya didepan cermin meskipun tubuh Bianca tak kelihatan yang tampak didepan cermin hanyalah Ariesya seorang.
“tapi tangannya sedikit kebesaran” ujar Ariesya sambil menggulung lengan bajunya sedikit agar tangannya kelihatan kemudian Ariesya memutar tubuhnya kebelakang melihat dirinya dari belakang didepan cermin. “iya sih…, gaun ini tak pernah kupakai” ujar Bianca  sambil memperhatikan gaun tidur yang dipakai Ariesya.
“apa? Jadi ini masih baru Ca?” tanya Ariesya kaget, ia berhenti sejenak dari aktifitas memutar tubuhnya kemudian duduk diranjang dimana Ara sedang memakai bedak bayi sambil menggunakan cermin kecil. Ya tentu saja belepotan, karena tak ada yang membantunya. Ariesya dan Bianca tertawa melihat lucunyan wajah Ara. “ya begitulah, karena gaun itu kekecilan buatku ketika membelinya, jadi kubiarkan saja dan ternyata muat denganmu” kembali Bianca menjelaskan.
“kenapa gak diukur dulu ketika membelinya?”
“yeah, namanya juga belanja di online shop, hanya melihat gambar” Bianca mengedikkan bahunya. “salah satu dukanya belanja melalui dunia maya” timpal Ariesya yang diiringi dengan anggukan Bianca. Ariesya kini membetulkan bedak yang belepotan diwajah Ara kemudian menyisir rambut pirang Ara yang tergerai panjang. Dan terakhir ia juga menyisir rambutnya sendiri.
“oh jadi ini rencana kalian, iya kan” Ariesya teringat kembali akan rencana Bianca. Ariesya berdiri dari ranjang dan berkacak pinggang sambil melotot kepada dua mahkluk pirang didepannya ini. Bianca dan Ara saling berpandangan kemudian tersenyum senang kepada Ariesya.
“saatnya makan malam nona-nona” teriak bi Sastri dari luar kamar tak berapa lama kemudian terdengar langkah bi Sastri menjauh dari kamar tersebut. “sana saatnya kalian berdua makan” ujar Bianca yang tak berapa lama kemudian telah menghilang dari pandangan. Ara menarik tangan Ariesya menuju ruang makan. Yang ternyata Biyon sudah menunggu mereka dimeja makan dengan berpakain t–shirt putih. Membuat Ariesya menjadi gugup ketika mereka bertemu kembali, apalagi mereka saling bertatapan. Biyon terpaku dan hanya bisa menatap gadis mungil dihadapannya ini.
“akhirnya datang juga, tuan puteri” cibir Biyon kepada keponakannya Ara sambil tersenyum kecil. Bi Sastri melonggarkan kursi agar Ara bisa duduk, dengan susah payah Ara naik kekursinya karena ukuran kursinya lebih besar ketimbang ukuran tubuhnya.  
“silahkan duduk Sya… jangan berdiri saja” Biyon mengagetkan Ariesya yang sedari tadi memperhatikan Ara. Ariesya pun duduk berhadapan dengan Ara karena sekarang ini ditengah-tengah mereka ada Biyon. Ariesya sangat gugup makan bersama Biyon.
“ kau cantik Sya”puji Biyon tak bisa menahan diri untuk memuji gadis mungil disampingnya ini yang sedari tadi hanya diam menikmati makanannya. Ariesya hampir saja tersedak mendengar kedua kalinya Mr Dingin ini memuji dirinya. Beruntung ia bisa menguasai keadaan meskipun Biyon dengan jelas bisa melihat wajahnya memerah karena tersipu-sipu. “terima kasih atas pujiannya” jawab Ariesya menunduk tak berani memandang lansung wajah Biyon. Biyon memperhatikan Ariesya dengan seksama membuat gadis mungil ini semakin salah tingkah dibuatnya. “sepertinya bajunya pas dengan ukuran tubuhmu, meskipun lengan tangannya sepertinya kepanjangan" ujar Biyon sambil mengunyah makanan, matanya tetap tak beranjak mengamati gadis mungil disampingnya. Ariesya mengamati pakaiannya, benar-benar manusia pengontrol. Hal kecil seperti ini saja ia tau detilnya. “ya begitulah… menurut Bianca sewaktu membeli katanya kekecilan” jawab Ariesya teringat akan perkataan Bianca. Biyon berhenti mengunyah dan melepaskan sendoknya, ia terdiam sejenak lalu diambilnya gelas yang sudah berisi air disampingnya  dan meminumnya hingga tersisa setengah airnya. Ada apa dengan Mr Dingin ini? Apakah ia menyinggung sesuatu hingga membuat Mr Dingin ini tak nyaman? Batin Ariesya, dan oh ya ampun, tentu saja ia tadi menyinggung nama Bianca, yang si Mr Dingin ini taunya ia tak kenal. Duh betapa gobloknya dirimu Sya! Hardik diri Ariesya sendiri.
“dari mana kau tau Bianca? Bicara dengan Bianca? Bianca sudah meninggal beberapa minggu yang lalu.” Ucap Biyon, ia melembutkan suaranya ketika mengucapkan kata meninggal. Takut kalau Ara mendengarnya.
“eng… itu sebenarnya aku mendengar dari… dari…!” Ariesya bingung. Bagaimana sebaiknya mengatakannya? Diliriknya Ara sedang asyik mengunyah makanan. Dan ia melihat kesebelah Ara yang ternyata Bianca ada sambil tersenyum kepadanya. Ariesya mencoba mengatakan sesuatu kepada Bianca melalui matanya. Bagaimana ini Ca? seakan tau isyarat dari Ariesya, Bianca kemudian berbisik kepada Ara entah apa yang dibicarakan oleh mereka.
“dari siapa Sya?” tanya Biyon mengagetkan Ariesya.
“dari… dari…. “ Ariesya gugup.
“dari aku papa…! Aku memberi tau bu guru tadi” jawab Ara tiba-tiba. Biyon kini menoleh kepada Ara. Ariesya menghela nafasnya, syukurlah batin Ariesya. “oh ya… kapan mama bilang begitu?” tanya Biyon tak percaya. Lalu kenapa gadis mungil tadi gugup kalau ia taunya dari Ara. “barusan…!” jawab Ara sambil tetap mengunyah. Mendengar perkataan Ara barusan membuat Ariesya tersedak makanan tak ayal ia batu-batuk.
“minum ini” Biyon menyodorkan segelas air putih yang diambilnya dari samping Ariesya. “terima kasih” ujar Ariesya sambil terus batuk hingga membuat wajahnya memerah barulah berhenti batuknya ketika ia sudah meminum segelas air.
“barusan?” kembali Biyon mengernyitkan dahinya.
“apa anda tak merasakan sesuatu? Seperti kehadiran seseorang disini misalnya?” Ariesya balik bertanya sambil melirik ke Bianca. Bianca mengacungkan jari jempolnya tanda setuju dengan pertanyaan barusan Ariesya. Biyon menghela nafasnya, kenapa gadis mungil ini menjadi ngelantur bicaranya? Apakah ia takut berada dirumahnya? batin Biyon.
“tidak… aku tidak merasakan seseorang disini selain kita bertiga!” bantah Biyon keras. “ya sudah, kita teruskan makannya dan kau Ara jangan berbicara lagi tentang mama kepada bu Riesya” bentak Biyon. Ara hanya mengangguk. Kini mereka kembali makan tanpa berkata-kata lagi. Sunyi, semua diam menyantap makanan masing-masing. Bianca sangat kesal sekali, ia memukul kepala Biyon tetapi hanya tembus. Berulang-ulang kali ia mencoba, tetapi gagal. Kini ia melototi Biyon tepat diwajah Biyon. Tetapi Biyon hanya biasa saja. Ariesya melirik Bianca sekilas saja. “halooo Biyon, ini aku saudaramu!” teriak Bianca lagi  keras-keras, tetapi Biyon tetap saja tidak mendengar. Ia tetap makan. “Biyooooon… apakah kau tidak merasakan kehadiranku?” teriak Bianca lagi ia benar-benar kesal, kenapa saudara kembarnya sendiri tak merasakan kehadirannya. Bianca cemberut itu terlihat jelas diwajahnya yang putih pucat. Ariesya pura-pura tak mendengar ia pokus kemakanannya seperti yang dilakukan oleh Mr Dingin disampingnya ini.

@@@@@@@@
Biyon merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah menyelesaikan pekerjaannya. Diambilnya gelas kosong yang berada disampingnya dan berjalan menuju meja kecil tak jauh dari meja kerjanya kemudian ia mengisi kembali gelasnya dengan air dari dispenser. Ia meneguk airnya hingga tak tersisa, rasanya nikmat sekali meminum air ketika kerongkongannya terasa kering. Ia duduk kembali untuk melanjutkan aktifitasnya, tetapi moodnya tiba-tiba menjadi jelek hingga ia tak semangat lagi untuk memeriksa dokumen-dokumen yang ia bawa dari kantor tadi. Biyon menghela nafasnya, kini tubuhnya benar-benar ia baringkan dikursi besarnya yang empuk. Biyon menerawang memandang langit-langit ruang kerjanya. “apa yang terjadi denganmu hari ini men, tak biasanya kau tak semangat mengerjakan sesuatu” bisik hati kecil Biyon. Biyon beberapa kali mendesah gelisah. Ini benar-benar bukan sifatnya, ia yang dingin, tak banyak bicara menjadi tak karuan seperti ini hanya karena seorang gadis mungil. Ariesya. Nama itu kembali muncul dibenaknya dan bukan hanya namanya saja wajahnya pun sekelebat melintas dipikirannya. Setelah makan malam tadi, mereka tak bicara satu sama lain. Kembali kekamar masing-masing. Ia tadi tak seharusnya membentaknya bahkan keponakannya Ara ia juga bentak hingga membuat suasana makan malam mereka menjadi sunyi senyap. Hanya karena Ariesya dan Ara menyebut nama Bianca, bagaimana bisa Ara berkomunikasi dengan seseorang yang sudah meninggal. Benar-benar tak masuk akal, ia tak percaya akan adanya mahkluk dunia lain, ia hanya percaya akan logika dan realistis. Dan itu yang dibutuhkan olehnya untuk menjalankan perusahaannya. Berbeda dengan dirinya, gadis mungil ini malah percaya akan kata-kata Ara yang tak masuk diakal. Mungkin itulah yang membuat gadis mungil ini sepertinya ketakutan hingga mengatakan hal-hal yang aneh. Dan sekarang ini apa yang dilakukan oleh gadis mungil dikamar Ara? Apakah gadis mungil belum tidur? Diliriknya jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, pasti ia sudah tertidur lelap. Entah apa yang dimimpikan gadis mungil ini. Batin Biyon.
Biyon menguap, saatnya tidur,pikirnya. Ia beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang kerjanya menuju kekamar tidurnya. Sambil mengunci pintu ruang kerjanya, ia mendongak ke lantai 2, berharap pintu kamar Ara belum dikunci. Ternyata benar, pintunya masih terbuka sedikit dan lampunya juga belum dimatikan. Apakah gadis mungil belum tidur? Tanya Biyon dalam hati, sesungging senyuman menghiasi wajah tampan Biyon, entah kenapa ia menjadi senang. Biyon sendiri ingin menuju kekamarnya dan tentunya kamar dimana gadis mungil tidur ia lewati.
@@@@@@
“ini benar-benar mengesalkan, kenapa Biyon tak merasakan keberadaanku. Padahal kami sendiri saudara kembar” ujar Bianca berdiri disamping Ariesya yang memandang langit malam hari dibalkon. “sttt… jangan keras-keras. Ara baru saja tertidur lelap” Ariesya menoleh ke Bianca dan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Bianca memutar kepalanya melihat kedalam dimana Ara sedang tertidur lelap.
“sama, aku juga heran. Atau mungkin sifatnya yang realistis itu membuatnya tak bisa merasakan dirimu” Ariesya memberikan suatu pemikiran yang logis. Teringat ketika mereka dimeja makan tadi saat ia menyinggung nama Bianca, Biyon benar-benar tak percaya akan keberadaan mahluk dunia lain. Bahkan tak ada yang berani berkata setelah mendengar Biyon membantah dan terlebih lagi membentak mereka. Akhirnya makan malam mereka berakhir begitu saja dengan kesunyian. Bianca kembali memutar tubuhnya menghadap Ariesya. “yeah mungkin saja” Bianca mengangkat bahunya setuju dengan pernyataan Ariesya.
“belum tidur?” suara dingin dan berat yang baru saja dikenal Ariesya membuat ia menoleh kearah pemilik suara tersebut. Ternyata benar dugaannya Mr Dingin sudah berada disampingnya tepat dimana Bianca berdiri tadi. Tetapi Bianca sudah menghilang duluan. Ariesya hanya mengangguk dan kembali menatap langit malam yang tanpa disadarinya langit tersebut sudah berhiaskan bintang-bintang. Biyon ikut-ikutan memandang kelangit. “anda sendiri kenapa belum tidur?” Ariesya balik bertanya, yeah hanya sekadar basi-basi pikir Ariesya. “ya, jam segini aku belum tidur, biasanya aku tidur setelah menyelesaikan dokumen-dokumen atau mempersiapkan bahan untuk kekantor esok harinya” jawab Biyon tanpa menoleh ke Ariesya, ia sangat menikmati bintang-bintang dilangit.
“indah sekali langit malam ini berhiaskan bintang-bintang, apa kamu sering memandang langit malam Sya?” ujar Biyon lagi. “ya begitulah, aku sering memandang langit malam hari ketika aku tak bisa tidur” jawab Ariesya. Biyon menoleh ke Ariesya, dan memandang wajah gadis mungil ini lekat-lekat. “seperti malam ini?” Biyon mencoba menebak. Ariesya hanya mengangguk. Lama Biyon dan Ariesya sama-sama diam, mereka hanya memandang langit.
“umm…. Soal tadi saat makan aku minta maaf” akhirnya Biyon berkata memecahkan kebisuan diantara mereka. Ariesya memandang Biyon, tanpa disadarinya ternyata Mr Dingin ini sudah berganti dengan pakaian tidur. “ya tak apa-apa, aku mengerti kok!” Ariesya menunduk dan memandang jari-jarinya sendiri.
“dari mana kau tau Sya, kalau Bianca sudah meninggal?” selidik Biyon. Ia tak pernah menyinggung soal Bianca kepada gadis mungil ini.
“itu dari perkataan Ara, sewaktu aku pertama kali bertemu dengannya. Ara bilang ibunya pergi jauh sekali, kelangit yang tak terjangkau. Dari sana aku bisa menilai kalau ibunya sudah meninggal” Teringat Ariesya ketika pertama kali ia bertemu dengan Ara ketika Ara menunggu jemputannya.
“anda pintar sekali, bisa menganalisa maksud perkataan orang. Dan kalau tau nama Bianca dari mana?”
“kalau itu… membaca biodatanya dari sekolah, aku kan gurunya” Ariesya menjelaskan. Biyon bernafas lega, itu berarti gadis mungil ini tau kalau Biyon bukan papa kandungnya Ara. Entah kenapa ia merasa senang sekali.
“Bianca adalah saudara kembarku, ia meninggal akibat kecelakaan 3 minggu yang lalu” Biyon terdiam sejenak, mencoba berpikir keras. Kalau itu aku juga tau, sebenarnya sih bukan kecelakaan tepatnya dibunuh,sahut Ariesya dalam hati.
“maka itulah aku bilang ke Ara kalau ibunya pergi jauh, entah mengerti atau tidak anak umur 4 tahun seperti Ara. Itulah kenapa Ara tak mengijinkan dirimu pulang, ia rindu akan sesosok ibunya” lanjut Biyon. “malangnya Bianca” Biyon berucap lirih, menahan gejolak hatinya yang sedih memikirkan nasib tragis saudara kembarnya. Ariesya ikut sedih mendengarnya, ia tak sanggup berkata apa-apa. “ini semua terjadi karena aku kurang perhatian terhadap dia. Ia baru bercerai dari suaminya tiga hari sebelum ia meninggal. Mungkin itu yang membuat kecelakaannya, karena kurang konsentrasi.” Suara Biyon parau membayangkan betapa ia tidak perhatian terhadap saudaranya sendiri.
“Bahkan ketika Bianca berada dimasa yang paling sulit, ia hamil dengan kekasihnya dan malangnya Bianca, setelah ia berbicara dengan kekasihnya bahwa ia mengandung dua bulan buah cintanya, kekasihnya meninggal akibat serangan jantung. Dan aku yang dingin dengan kejam berkata kalau….” Biyon menghentikan kata-katanya ia tak sanggup membayangkan betapa kejam dan bodoh dirinya saat itu. Ariesya terpaku diam membisu mendengar cerita Biyon barusan, ia menunggu Biyon melanjutkan ceritanya.
“kalau sebaiknya ia menggugurkan kandungannya, itu hanya akan menjadi aib bagi dirinya dan juga keluarga besar kami. Tetapi Bianca yang keras kepala tak mau menggugurkan kandungannya, ia tetap ngotot ingin melahirkan janin yang ia kandung. Setelah seminggu kemudian muncullah Bayu Pratama, ia datang kepadaku dan berkata kalau ia adalah sahabat Bianca dan mau bertanggung jawab atas Bianca. Bagai angin segar Bayu datang kekeluargaku, aku menerima keputusan Bayu begitu juga  dengan Bianca. Tetapi entah ada apa dengan mereka berdua, 3 minggu yang lalu Bianca memutuskan untuk bercerai dari Bayu dan peristiwa itu harus terjadi. Seandainya saja aku menemani dan menghibur Bianca hari itu, mungkin Bianca tak mengalami kecelakaan dan bahkan hingga hari ini ia masih hidup” Biyon tertunduk sedih memikirkan itu semua. Ariesya merasakan kepedihan yang dialami oleh Biyon. Tanpa sadar Ariesya menggenggam tangan Biyon dengan lembut, mencoba berbagi rasa apa yang dialami oleh Mr Dingin ini. Biyon mendongak, dan menatap gadis mungil yang menggenggam tangannya. Iapun balik menggenggam tangan Ariesya.
“aku mengerti kok… Bianca meninggal karena sudah takdirnya dan semua ini bukan kesalahanmu… mungkin Bianca kecelakaan bukan karena ia sedih tapi…” Ariesya menghentikan perkataannya bagaimana ya bilangnya kalau ia dibunuh oleh Bayu dan Monica, Biyon hanya tau kalau Bayu itu sangat baik. Ariesya menatap mata cokelat Biyon, tanpa ia sadari Biyon juga menatapnya. Biyon memandang wajah Ariesya, lama ia menatap kedua bola mata hitam milik gadis mungil ini. Ia melihat mata gadis mungil didepannya berkaca-kaca menahan agar air matanya tak jatuh.
“beruntung Bianca tak menggugurkan janinnya, dan lihatlah sekarang. Kau mendapatkan seorang gadis kecil yang lucu nan imut, sebagai pengganti Bianca” Ariesya mengalihkan perkataanya tadi. Ia kemudian melepaskam genggaman tangannya dari Biyon dan melihat kekamar dimana Ara sedang tertidur pulas secara bersamaan Biyon juga memperhatikan Ara. “ya, dan tentunya kau bisa mengasuh Ara sekaligus kau bisa menebus kesalahanmu dengan terus menjaga dan memberinya perhatian lebih dari Bianca” hibur Ariesya. Biyon sangat terkesima dengan pernyataan gadis mungil ini tak disangka ia sangat mengerti dirinya. Dan sedetik kemudian gadis mungil ini sudah berada dalam pelukannya.
“maafkan aku, biarkan aku begini sejenak!” ujar Biyon parau menahan tangis sambil terus memeluk Ariesya. Ariesya ragu-ragu untuk membalas pelukan Mr Dingin ini.  Tangannya gemetaran, perlahan-lahan tangannya yang sedari tadi kaku untuk digerakkan kini sudah berada dipinggang Mr Dingin dan kini mereka benar-benar berpelukan dalam diam ditemani semilir angin yang berhembus perlahan.

****
Bersambung ke Sebuah Fakta Part 11


Sebuah Fakta Part 9

Pagi ini udara terasa agak panas, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi matahari pagi sudah siap menyinari segala makhluk yang ada di bumi. Seperti biasa Ariesya sudah duduk dimeja sambil menikmati secangkir teh dan sebuah roti untuk menambah tenaga memulai aktifitasnya hari ini. Tepat setengah delapan pagi ia bergegas untuk berangkat kesekolah.
Ariesya duduk dihalte menunggu bis, tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini hitam mengkilap berhenti didepannya, kaca mobil yang menghadap ke Ariesya lambat laun terbuka dan ia melihat ternyata pemiliknya adalah Biyon. Ariesya tersenyum manis melihat siapa yang ia lihat itu. Biyon melambaikan tangannya dan kepalanya dijulurkan keluar.
“Lagi menunggu bis ya Sya?” Tanya Biyon, kali ini ia memanggil wanita mungil didepannya ini dengan nama saja. Ia teringat ketika kemarin Ariesya keberatan jika ia dipanggil ibu oleh Biyon. Seperti seorang wanita yang sudah tua saja, begitu Ariesya berbicara sambil menirukan seorang tante-tante dewasa yang malah membuatnya semakin kelihatan lucu dan innocent. Biyon tertawa melihat perubahan wajah Ariesya, sedangkan Ariesya hanya manyun dan beberapa menit kemudian iapun ikut tertawa.
“ya benar lagi menunggu bis” suara Ariesya membuat Biyon tersadar dari lamunannya.
“kalau kamu gak keberatan boleh aku antar sekolah kebetulan jalan tempat tujuan kita sama” tawar Biyon.
“tapi… nanti anda sendiri terlambat kekantor” mendengar penuturan Ariesya, Biyon tertawa.
“hahaha… kalau soal itu gak usah dipikirkan, lagian siapa yang berani memarahi saya?”
Ia juga sih, Biyon kan punya perusahaan sendiri. Mana ada yang berani memarahi bosnya sendiri, pikir Ariesya.
“Sya kamu gak usah banyak mikir loh, nanti terlambat, bisa-bisa kamu yang dimarahi oleh kepsek” Biyon pun membuka pintu mobil disebelahnya dan mempersilahkan Ariesya masuk. Dengan canggung Ariesya duduk disamping Biyon. Samar2 ia mencium aroma parfume Biyon yang membuatnya ingin sekali merasakan kehangatan tubuh Biyon. Bagaimana ya rasanya dipeluk lelaki tampan yang digilai banyak wanita, pikir Ariesya. Duh lagi-lagi melamunkan Mr Dingin disebelahnya ini, Ariesya menggigit bibirnya. Ia kesal sendiri dengan dirinya mengapa ia selalu berfantasi liar bila didekat Mr Dingin ini. Ariesya memalingkan mukanya keluar jendela berpura-pura melihat pemadangan, tak ingin ia tertangkap oleh Biyon sedang mengaguminya. Selang beberapa menit kemudian mereka sampai dihalaman sekolah.
“terima kasih sudah mengantar sampai sekolah” Ariesya tersenyum manis
“Ya sama-sama, tapi apakah nanti kamu akan kerumah lagi Sya?” tanya Biyon sebelum Ariesya benar-benar keluar dari mobilnya.
“ya sepertinya begitu, memang ada apa? Apakah kamu keberatan kalau aku kesana?” tanya Ariesya dengan heran dan sedikit kecewa.
“ah kamu jangan salah sangka dulu Sya, aku senang kok kamu kesana. Malah aku benar-benar mengharapkan kamu berkunjung kerumahku lagi, soalnya kalau kamu sampai gak kerumahku Ara pasti sedih, sebab tadi pagi ia sudah bersemangat ingin bertemu denganmu lagi” Ariesya tersenyum lebar mendengar penuturan Biyon.
“kalau begitu aku pergi dulu ya, dan selamat berkerja” Biyon pun menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari pandangan Ariesya.
******
Biyon termangu dimobil sambil menatap lurus sekolah Ara dari kejauhan. Teringat percakapan ia tadi pagi dengan Ara.
“pokoknya Papa Biyon harus menjemput bu guru Riesya dari sekolah” teriak Ara dari kamarnya. Ara menggembungkan pipinya sambil terus memegang boneka Bear besar yang hampir sepantar dengan dirinya. Biyon kewalahan menghadapi anak adik kembarnya itu, apa yang dimaui oleh Ara harus dituruti, benar-benar sifatnya Ara ini diwariskan oleh dirinya. Biyon menghembuskan nafasnya, rasanya itu tak mungkin ia menuruti kemauan Ara. Kenal dengan Ariesya saja tidak, ia hanya tahu kalau Ariesya itu adalah guru Ara, hanya sebatas itu yang ia tahu. Ia salut dengan Ariesya karena bisa cepat akrab dengan Ara, dan seakan-akan Ara sudah kenal dengan Ariesya bertahun-tahun.
“kenapa papa harus menjemput bu Riesya, Ara? Ara taukan kalau papa sibuk” terang Biyon sambil sedikit kesal.
“pokoknya Ara tak mau tau, bu guru Riesya harus datang mengunjungi Ara. Kemarin bu guru Riesya udah janji mau datang” rengek Ara keras kepala.
“tapiiii… papa….”
“nggak, Ara nggak mau dengar. Pokoknya papa harus menjemput bu Riesya” teriak Ara makin keras sambil menutup telinganya, ia tau papanya Biyon tidak akan mau menuruti permintaannya. Biyon menghembuskan nafasnya, ia benar-benar kewalahan menghadapi Ara.
“oke baik, papa akan menjemput bu guru Riesya… tapi yang menjemputnya nanti pak Marwan saja bagaimana?” bujuk Biyon, ia duduk disamping Ara yang duduk sambil memeluk boneka kesayangannya.
“pokoknya papa yang harus menjemput bu guru Riesya” pekik Ara makin kuat sehingga Biyon harus menutup telinganya. Mendengar jeritan Ara yang kuat bibi Sastri langsung menuju kekamar Ara dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan tanpa disadari mereka, Bianca juga ada disitu.
“ oke, oke papa jemput bu guru Riesya. Tapi apa yang membuat Ara ingin papa menjemput bu guru?” ujar Biyon bingung, kenapa Ara memaksakan kehendaknya agar ia menjemput Ariesya.
“karena bu guru Riesya udah janji kemarin mau menemani Ara, dan kalau papa gak jemput bu Riesya nanti bu Riesya gak jadi datang… dan Ara kesepian karena gak ada teman, lagian papa sama bu Riesya melarang Ara sekolah” ujar Ara sedih, matanya memancarkan rasa kesepian yang teramat dalam. Wajahnya ditundukkan kebawah sembari tangannya memegang erat bonekanya. Biyon merasakan apa yang dirasakan oleh keponakan tersayangnya itu, ia hampir lupa bahwa Ara sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Bahkan selamanya keponakannya ini takkan bisa bertemu dengan ibunya. Mungkin inilah kenapa Ara ingin Ariesya menemaninya, karena Ara rindu terhadap ibunya dan sosok Ariesya benar-benar mirip seperti Bianca, hanya Bianca keras kepala dan Ariesya lemah lembut.  Biyon memeluk Ara, menandakan bahwa ia mengerti apa yang dirasakan oleh keponakannya itu.  Ara menangis seketika itu juga, air matanya tak bisa ia bendung lagi.
“sudah, sudah jangan menangis lagi” Biyon menyeka airmata Ara dan menggendongnya ke balkon. 
“maafkan papa kalau Ara kesepian dan papa sangat menyesal tidak punya banyak waktu untuk menemani Ara, sekarang papa mengerti kenapa Ara ngotot ingin papa menjemput bu guru Riesya” ujar Biyon sambil terus menyeka airmata Ara yang masih terus mengalir dipipinya yang mungil itu. Mendengar penjelasan Biyon, raut wajah Ara seketika berubah ceria kembali dan sesungging senyuman  terlihat jelas diwajah Ara.
“janji? papa akan jemput bu guru Riesya?” tanya Ara kembali, Biyon pun tersenyum, kemudian ia memberikan jari kelingkingnya tanda kalau ia berjanji dengan Ara, yang dibalas  Ara dengan mengaitkan jari kelingking mungilnya, begitulah Biyon kalau berjanji dengan Ara. Ara kemudian memeluk Biyon dengan manja seakan ia tak mau melepaskan Biyon. Tanpa disadari oleh Biyon yang kepalanya menghadap kearah taman, Ara mengacungkan jari jempolnya kearah Bianca dan tersenyum puas yang dibalas dengan senyuman pula oleh Bianca. Mata Ara mengisyaratkan kalau rencana ia dan ibunya berjalan mulus.

Dan disinilah ia sekarang, didalam mobil yang ia pakirkan tak jauh dari sekolah. Biyon mengetuk jari-jarinya kestir mobil sambil menatap lurus ke pintu gerbang sekolah. Diliriknya arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 10 tepat. Terdengar suara bel pulang berbunyi, selang beberapa menit kemudian anak-anak seumuran dengan Ara berhamburan keluar menghampiri ibu atau nenek yang setia menunggu mereka sedari tadi. Biyon menghembuskan nafasnya, rasanya berat untuk bertemu kembali dengan Ariesya. Apalagi untuk memintanya pulang bersamanya. Jarang sekali atau bahkan ia tak pernah menjemput wanita kalau bukan karena bisnis, kecuali wanita itu adalah ibu atau adik kembarnya sendiri yang meminta dijemput, dan bahkan tunangannya Monica saja jarang sekali ia jemput. Pagi tadi saja ia tak sengaja melihat Ariesya menunggu bis dan menawarinya untuk mengantarnya kesekolah, untung saja wanita mungil tersebut mau diantarnya walaupun terlihat dibola matanya yang hitam sedikit agak sungkan. Dan siang ini juga ia akan menawarinya untuk menjemputnya pulang. Biyon menertawakan dirinya sendiri, betapa konyolnya ia mau saja diperintah oleh keponakannya yang imut tersebut, tapi apa mau dikata keponakannya yang keras kepala itu merengek dengan memelas bahkan menangis didepannya. Biyon paling tak suka melihat wanita yang menangis, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia sayangi. Biyon pun luluh hatinya dan menyanggupi permintaan keponakannya itu. “well kita lihat saja nanti, pria dingin seperti ku mau menjemput seorang wanita yang tak begitu lama ia kenal”  gumam Biyon menghidupkan mobilnya dan melaju kearah gerbang sekolah ketika ia melihat sesosok gadis mungil sudah terlihat keluar gerbang.
@@@@@@@@

Ariesya menghempaskan pantatnya dikursi ketika ia sudah sampai diruang guru. Hari ini ia telah selesai mengajar muridnya. Tak berapa lama rekan kerjanya juga beranjak pulang dan tinggallah ia sendirian diruang guru. Sesosok hantu cantik duduk diatas meja kerjanya yang tak lain adalah Bianca. Tampaknya Bianca bahagia, itu terlihat jelas dari wajahnya yang sedari tadi tersenyum-senyum.
“mikirin apa sih? Dari tadi kamu senyum-senyum saja?” ujar Ariesya, ia menatap lekat-lekat hantu cantik didepannya ini.
“mikirin kejadian pagi tadi Sya” jawab Bianca sambil memainkan rambutnya yang panjang pirang bergelombang.
“apaan tuh” Ariesya mulai tertarik dengan perkataan Bianca. Kemudian ia bercerita kalau pagi tadi Ara memaksa Biyon untuk menjemput  Ariesya siang ini. Terbayang jelas di ingatan Bianca kalau Biyon sangat keberatan akan permintaan Ara tersebut. Ya namanya juga Ara yang mau tak mau harus menuruti kemauannya.
“ya jangan kaget kalau nanti setelah keluar dari gerbang kau akan menemui kakakku Biyon menjemputmu” ujar Bianca panjang lebar. Ariesya tersenyum membayangkan wajah dingin Biyon yang keberatan itu.
“apakah ini juga bagian dari rencana kamu Ca?” tanya Ariesya “apakah tadi pagi juga rencana kamu?” lanjut Ariesya tiba-tiba saja ia ingat akan pagi tadi yang tak sengaja Biyon mengantarnya kesekolah. Bianca mengerutkan dahinya mendengar penuturan Ariesya.
“kalau menjemput kamu pulang dari sekolah iya, tapi kalau mengantar kamu rasanya gak direncanain deh”
“jadi gak direncanain yang pagi tadi ya?” tanya Ariesya kembali, Bianca hanya mengangguk membenarkan. Jadi apakah itu suatu keberuntungan? Pikir Ariesya. Ariesya pun tersenyum memikirkannya.
“hayo jangan senyum-senyum sendirian, cepat sana pulang. gak baik kakakku dibiarkan menunggu lama” suara Bianca memecah lamunan Ariesya.
“oke,” Ariesya pun beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tasnya. Sebelum ia keluar ruangan Bianca mengingatkan kembali walaupun sudah tau kalau Biyon menjemputnya berpura-puralah seakan-akan ia tak tau. Dan benar saja ketika ia  sudah berada didepan gerbang sekolah tampak dari kejauhan ia melihat mobil Biyon menuju kearah dirinya. Ariesya memasang wajah pura-pura bingung. Biyon menghentikan mobilnya tepat dimana Ariesya berdiri, sebelum ia menurunkan pintu kaca mobilnya ia menghembuskan nafasnya.
“hai ketemu lagi” Biyon melambaikan tangannya. Kali ini ia turun dari mobilnya dan menghampiri Ariesya.
“ada perlu apa ya? Ara hari ini kan gak masuk” tanya Ariesya. Sebenarnya ia tau akan maksud kedatangan Mr Dingin ini kemari. Tapi ia ingin melihat bagaimana cara Mr Dingin yang kaku ini menyampaikan maksud kedatangannya. Biyon menyelinapkan jari-jari tangannya kerambut dan menyisirnya yang semulanya rapi malah jadi berantakan dan itu tampak lebih cool dimata Ariesya sedangkan tangan yang satu lagi ia masukkan kesaku celananya.
“ummm… sebenarnya aku ingin mengantar kamu pulang kalau gak keberatan” ujar Biyon kaku dan sesungging senyuman tipis menghias wajahnya. Benar-benar Mr Dingin yang tampan hanya dengan tersenyum sedikit saja bisa membuat Ariesya meleleh dibuatnya. Sebelum Ariesya sempat menjawab Biyon sudah berbicara lagi.
“meskipun kamu gak mau, aku tetap memaksa” tanpa banyak bicara lagi Biyon sudah membukakan pintu dan mempersilahkan Ariesya masuk. Ariesya hanya menggigit bibirnya dengan lembut. Ckckckc benar-benar Mr Dingin yang mempunyai sifat dominan yang berkuasa, apapun yang diperintahkan harus dituruti. Ariesya menuruti perintah Biyon dan masuk kemobil.
“maaf kalau aku sedikit memaksa” ujar Biyon ketika mereka sudah berada didalam mobil dan mulai meninggalkan gerbang sekolah. Ternyata Mr Dingin ini punya sisi baiknya juga, pikir Ariesya.
“ya tak apa-apa, tapi apa tidak akan mengurangi waktu anda yang berharga ini hanya untuk meluangkan waktu untuk menjemput  seorang gadis sepertiku? Sedangkan bagi anda waktu adalah uang” Ariesya menoleh kearah Biyon, dan untuk kesekian kalinya Ariesya terpana dengan Mr Dingin ini.
“ya itu benar, waktu adalah uang bagiku yang seorang gila kerja ini. Tapi tak ada salahnya juga menuruti kemauan seorang gadis kecil yang keras kepala itu yang juga bagiku satu-satunya keluargaku saat ini” jawab Biyon tanpa menoleh kearah Ariesya dan tetap focus menyetir. Gadis kecil yang dimaksud tentu adalah Ara, pikir Ariesya.
“apakah Ara meminta kamu untuk menjemputku?” Biyon menghentikan mobilnya dan menatap Ariesya. Mata mereka saling bertemu, lama mereka saling berpandangan. Hingga akhirnya Ariesya tak tahan akan pandangan sejuta watt milik Mr Dingin ini dan memalingkan mukanya keluar jendela.
“ya itu benar, dan kita sudah sampai didepan kostmu” jawab Biyon, Ariesya tak sadar kalau mereka sudah sampai didepan kostnya sendiri. Dengan enggan ia mau membuka pintu, seketika itu juga Biyon mencegah Ariesya keluar dan tangan mereka saling bersentuhan. Seperti ada aliran listrik yang dirasakan oleh mereka berdua dan menimbulkan sensasi yang aneh, Ariesya merasakan ada getaran dihatinya. Sama seperti ketika ia jatuh cinta dengan mantannya dahulu, tapi kali ini getaran dihatinya begitu kuat ia rasakan terhadap Mr Dingin ini. Refleks Ariesya membebaskan tangannya dari sentuhan Biyon. Biyon pun demikian ia merasa ada sesuatu dihatinya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“maaf, kalau mengagetkanmu Sya.” Ujar Biyon yang kini menjadi salah tingkah dihadapan Ariesya. “ sebenarnya aku mengantarmu pulang hanya untuk menyuruhmu ganti baju, dan kau harus ikut aku kerumahku setelah itu”  sambung Biyon lagi.
“apa? Kenapa harus kerumahmu?” tanya Ariesya bingung.
“ya karena kamu sudah janji dengan Ara akan menemaninya seharian ini. Maka itulah Ara memaksaku untuk menjemputmu, ia pikir kamu lupa akan mengunjunginya lagi. Ia tak ingin kesepian” Biyon menjawab kebingungan Ariesya. Ariesya mengerti dan memakluminya.
“baiklah kalau begitu aku akan ganti baju, tapi sebenarnya aku tak lupa akan janjiku kemarin. Hanya saja mungkin sedikit agak telat” ujar Ariesya turun dari mobil . “tunggu sebentar ya, aku tak akan lama ganti baju” sambung Ariesya, tanpa mendengar jawaban dari Biyon iapun sudah berlari kearah kostnya. Biyon menatap punggung wanita mungil yang berlari didepannya itu, hingga Ariesya sudah tak terlihat lagi. Biyon kembali termangu menatap tangannya yang bersentuhan dengan Ariesya tadi. Masih tersimpan sisa-sisa gelenyar aneh menyeruak dihatinya. Ia sendiri aneh melihat perubahan dirinya ketika ia berada dekat dengan Ariesya apalagi ketika ia bersentuhan dengan gadis mungil ini. Apakah hatinya sudah jatuh cinta kepada gadis mungil ini?. Biyon menepuk-nepuk kepalanya berusaha menghilangkan perasaaan itu.
“damm… menjauh dari pikiran itu men! Bahkan kau sudah bertunangan dengan Monica, tak mungkin kau jatuh cinta dengan gadis mungil ini.” Tiba-tiba saja kata hati Biyon berbicara seakan-akan mengingatkan Biyon kejalur yang semestinya. Biyon benar-benar gelisah dibuat oleh hatinya sendiri dan ia harus mengakui baru pertama kali ini ia merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, bahkan ketika ia bertunangan dengan Monica saja ia tak pernah merasakan getaran dihatinya bahkan untuk wanita lainnya.
“menjauhlah dari cinta atau kau akan dibuatnya sengsara, cinta itu hanya akan membuat dirimu lemah dan saat itu juga musuh-musuhmu akan menghabisimu dan tetaplah menjadi manusia berhati dingin selama ini” kembali pikiran yang tak mengenakkan menyelimuti pikiran Biyon. Beruntung gadis mungil yang ditunggunya bahkan hampir membuat dunianya kacau balau datang.  Biyon membukakan pintu mobilnya dan gadis mungil ini sudah berada disampingnya. Biyonpun menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan perlahan.
“maaf sudah menunggu lama” kali ini Ariesya membuka percakapan yang kaku diantara mereka berdua. Ariesya melihat Biyon diam saja ketika ia datang, apakah Biyon marah? Karena ia lama menunggunya ganti baju?, ya tentu saja marah karena bagi Mr Dingin ini waktu adalah uang begitu semboyannya. Sungut Ariesya dalam hati. Biyon tak mendengar Ariesya berbicara, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“ehem…” Ariesya berdehem membuat Biyon tersentak dari lamunannya. Biyon pun menoleh kearah Ariesya dan kembali tersenyum walau hanya senyum kecil.
“ya ada apa?”
“maaf, apa kamu marah sama aku karena lama ganti baju?” tanya Ariesya dengan wajah sedikit agak takut, ia belum pernah melihat Mr Dingin ini kalau marah. Biyon tertawa mendengar perkataan Ariesya, ia memandang gadis mungil disampingnya ini. Benar-benar senang melihat orang kalau takut kepada dirinya, hanya dengan diam saja membuat gadis mungil ini saja takut, pikirnya.
“hahaha…. Kamu ini. Aku tak marah kok, kamu gak lama ganti bajunya” Biyon tertawa lepas, sedangkan Ariesya hanya memandang dengan perasaan heran. Kalau Mr Dingin ini tertawa ia sangat tampan bahkan lebih tampan dari sifatnya yang dingin ini. Lama mereka terdiam tak satupun dari mereka yang berani berbicara. Dering suara ponsel Biyon memecahkan kesunyian diantara mereka, Biyon melirik ponselnya dan melihat siapa yang calling, ternyata Ara.
“ya Ara ada apa?”
“Apa papa udah jemput bu guru Riesya?” tanya Ara diseberang sana
“ya” jawab Biyon singkat.
“mana buktinya kalau papa udah jemput bu guru!” kembali Ara bertanya dengan nada tidak percaya. Biyon menghela nafasnya, tergambar diwajahnya ia kesal dengan sikap Ara tersebut. Kalau bukan Ara adalah keponakannya, ia pasti sudah memarahinya habis-habisan, tak ada yang berani memerintahnya kecuali orang tuanya dan sekarang bertambah satu orang lagi seorang gadis kecil keras kepala. Biyon menoleh ke Ariesya dan memberikan ponselnya, Ariesya bingung dengan tindakan Biyon tersebut.
“Bicara pada Ara tuh… sepertinya ia tak percaya padaku” ujar Biyon kesal yang kemudian ponselnya tersebut sudah berada ditangan Ariesya, sepertinya Ariesya tau maksud Biyon.
“ya Ara! Ini bu guru Riesya” ujarnya lembut.
“bu guru!” ujar Ara gembira mendengar suara Ariesya, kemudian Ariesya memberikan kembali ponsel Biyon kepadanya.
“bagaimana? udah percayakan? Sudah ya papa lagi nyetir nih!” perintah Biyon tampaknya ia tak ingin diganggu ketika lagi menyetir.
“ya ya Ara percaya, dah papa… dah bu guru Riesya” tak lama kemudian Ara memutuskan sambungan telponnya.
“ya begitulah sikap keponakanku, kalau ada maunya harus dituruti….” ujar Biyon geleng-geleng kepala. Ariesya tersenyum melihat Biyon yang kewalahan menghadapi keponakannya itu. Baru pertama kali ini ia melihat seorang Biyon sejak pertama kali bertemu dengan Mr Dingin ini yang biasanya ahli mengendalikan keadaan kini harus menuruti perintah seorang gadis kecil yang lucu nan imut.
“ya namanya juga anak-anak…” ujar Ariesya tersenyum, Biyon menoleh dan membalas senyuman Ariesya. Ia hanya mengangkat bahunya. Rasanya senyuman gadis mungil ini membuat ia merasa tenteram dan damai, seketika itu juga rasa kesal dihatinya hilang. Selang beberapa menit kemudian mereka telah sampai dirumah Biyon. Melihat siapa yang turun dari mobil, Ara berlari memeluk Ariesya.
“horee… akhirnya bu guru Riesya datang juga, hari ini bu guru akan menemani Ara seharian benarkan?” ujar Ara manja tak lupa ia menagih janjinya.  Ariesya mengangguk membenarkan perkataan Ara “ya benar”
“nah sekarang tugas papa sudah selesai, sekarang papa mau kembali kekantor” Biyon beranjak menuju kemobilnya di iringi anggukan Ara. “terima kasih juga sudah mengantar saya mengunjungi Ara” sambung Ariesya ketika Biyon membuka pintu mobilnya.
“ya sama-sama,… Ara jangan lupa makan ya terus ajak bu gurunya makan juga” Ariesya terkejut mendengar perkataan terakhir Biyon, ia tak menyangka kalau Biyon sampai memperhatikan dirinya kalau ia belum sempat makan.
“oke baik boss…” ujar Ara riang sambil memberi tanda hormat kepada Biyon. Melihat tingkah lucu Ara, Ariesya dan Biyon tertawa. “ummm… anda juga jangan lupa makan” ujar Ariesya malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
“tuh kan… papa dengar kata-kata bu guru Riesya, jangan lupa makan… kerja terus yang dipikirkan” Ara ikut-ikutan berkata, ia berkacak pinggang layaknya seperti wanita dewasa saja. Biyon menjitak kepala Ara. “gadis kecil, belajar dari mana kata-kata kayak gitu?” ujar Biyon gemas melihat tingkah laku Ara.
“dari mama, kalau mama lagi marahin papa” ungkap Ara polos.
“dasar anak muda sekarang, seharusnya kalau marahin suami atau istri jangan didepan anak-anak, mereka peniru ulung” ujar Biyon geleng-geleng kepala merasa prihatin melihat anak-anak jaman sekarang. Ia mengelus rambut Ara yang panjang bergelombang.
“nah sekarang papa mau berangkat, papa benar-benar telat nih…” ujar Biyon sambil melirik arloji ditangannya. Iapun bergegas masuk dan buru-buru menghidupkan mesin mobil. “maaf ya Riesya, gak bisa menemani kalian makan siang” sambung Biyon lagi. Iapun melambaikan tangannya dan mobilpun mulai bergerak meninggalkan kediamannya. Ariesya dan Ara masuk kerumah ketika mobil Biyon sudah tak terlihat lagi.

@@@@@@
“sukses besar… akhirnya rencana kita berjalan dengan lancar” ujar Bianca tersenyum puas ketika Ariesya dan Ara sudah berada dikamar Ara. “ya benar ma…” sambung Ara ikut-ikutan tertawa. Mereka saling tos, walaupun mereka tidak bisa saling bersentuhan. 
“apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Ariesya sambil duduk ditepi ranjang.
“ada deh… bakalan ada kejutan buat mu Sya” ujar Bianca sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ara.  “kejutan? Kejutan apa lagi sih? Aku gak suka kejutan!” suara Ariesya meninggi sedikit sambil menunjukkan wajah penasaran. “duh, apalagi yang bakalan 2 makhluk cantik ini perbuat padaku” batin Ariesya sedikit khawatir akan kejutan yang ia terima. Bianca dan Ara saling berpandangan dan kemudian tersenyum, mereka tak mau buka mulut. “apaan sih, pakai rahasia segala. Ayo beri tahu dong....” ujar Ariesya dengan nada memohon bercampur gusar. Yang ditanya malah makin bikin penasaran, Bianca hanya mengedikkan bahunya, sengaja ia tak menceritakan rencananya kali ini kepada gadis mungil didepannya ini. Ariesya makin jutek dibuat mereka berdua
“baiklah kalau gak mau beri tau, akan ku buat Ara bicara...” Ariesya kemudian menggelitiki perut Ara, yang membuat Ara berguling-guling diranjangnya. Bianca tertawa melihat pemandangan didepannya tanpa berbuat sesuatu.
“hahaha... bu guru geli tau! Hahaha...!” ujar Ara sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Ariesya, tapi Ariesya tak mau berhenti dan terus menggelitiki Ara hingga kapok dan mau bicara. “mau bicara gak?” ujar Ariesya merayu sambil tangannya tetap bergerilya diperut Ara. “gak, gak mauuuu...!” Ara tetap pada pendiriannya. Ariesya berhenti menggelitiki Ara ketika bi Sastri mengagetkan mereka.
“ehm... maaf menganggu nona, tapi saatnya makan siang!” Ara langsung melompat dari ranjangnya menjauh dari Ariesya kemudian tersenyum lega. “dan untuk nona Ara setelah makan, nanti minum obatnya ya!” bi Sastri kembali mengingatkan majikan kecilnya itu. Mendengar kata obat, Ara menggembungkan pipinya. Ternyata ia tak suka minum obat.

“biar Ara cepat sembuh kalau minum obat dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman Ara” ujar Ariesya yang bisa mengerti perasaan Ara. Ara hanya mengangguk mengerti meskipun wajahnya sedikit cemberut karena akan meminum obatnya. Mereka pun beranjak keluar kamar setelah memberi tanda pada Bianca dan selang beberapa detik kemudian Bianca menghilang dari pandangan.

Bersambung ke Sebuah Fakta Part 10