Sebuah Fakta Part 8

Ariesya menghempaskan tubuhnya kekasur ketika ia sudah sampai dirumah. Tak berapa lama hujan turun dengan derasnya, untungnya saja ia sudah sampai dirumah pikir Ariesya bersyukur karena ia tak kehujanan.

“Sya, gimana cerita tadi siang?” tiba-tiba Bianca telah berbaring disebelahnya. Ariesya menoleh sebentar ke Bianca kemudian ia menengadahkan kembali kepalanya kelangit-langit kamarnya.

“ya sedikit ada kemajuan sih, tadinya Biyon mau mengantarku pulang, tapi kutolak deh!”

“Apa? Kenapa ditolak?Kau ini, jarang-jarang loh ada cowok tampan beri sedikit perhatian” ujar Bianca sambil memuji saudara kembarnya sendiri, ia sangat kaget mendengar perkataan Ariesya tadi. Ariesya kembali menoleh kearah Bianca dengan raut wajah cemberut dan kesal mendengar celotehan Bianca.

“ia sih tampan tapi dingin....soal aku tolak si Biyon itu karena ada tunangannya dan mantan suamimu datang, gak mungkin lah aku biarkan Biyon mengantarku sedangkan Ara ditinggal sendiri, ya kau bisa tebak sendirilah apa yang terjadi selanjutnya kalau itu benar-benar terjadi” sahut Ariesya panjang lebar. Bianca membenarkan perkataan Ariesya, ya memang itulah masalahnya. Dua orang yang ia paling benci didunia ini Bayu mantan suaminya dan Monica calon kakak iparnya yang membuat hidupnya menjadi tragis.

“besok aku masih mengunjungi Ara lagi, karena sudah janji sama Ara tadi. Itu artinya aku masih punya kesempatan untuk mendekati Biyon dan secara perlahan akan membuka fakta dibalik kematian mu nanti, apabila aku sudah mengenal lebih dekat saudara kembarmu itu.” Lanjut Ariesya sedikit mengagetkan Bianca yang sibuk dengan pikirannya sendiri tapi tetap mendengarkan ucapan Ariesya.

“ya kau benar Sya, tentunya dengan bukti juga.” Ujar Bianca entah tau-tau dia sudah duduk diatas meja didekat ranjang tak jauh dari Ariesya berbaring. Huh dasar hantu semaunya sendiri menghilang dan muncul, gerutu Ariesya yang merasa iri melihat Bianca yang bisa seenaknya muncul dan menghilang didepan matanya.
“ya tentu saja Ca, kalau gak ada bukti mana ada yang mau percaya sama aku.” Ariesya menimpali perkataan Bianca tadi. Ariesya kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kedapur.

“mau ngapain Sya?” tanya Bianca yang sedari tadi matanya terus memperhatikan gerak-gerik Ariesya. Ariesya menoleh kearah Bianca yang ternyata sudah berdiri disamping pintu dapur.

“mau mandi, emangnya kamu mau ikut mandi?” goda Ariesya sambil menyunggingkan senyumnya kepada Bianca.

“huh emangnya hantu butuh mandi?” cibir Bianca. Mendengar cibiran Bianca, Ariesya tertawa tergelak-gelak.

“ye...mungkin aja, siapa tau seorang hantu cantik butuh mandi juga hahahahaha....” ujar Ariesya tergelak-gelak, yang mau tak mau  Bianca ikut tertawa juga.
                *****

Teeeet-teeeet tanda bel pulang berbunyi, tepat jam 10 pagi anak-anak TK berhamburan keluar kelas menghampiri orang tua masing-masing. Ariesya pun bergegas keruang guru mengambil tasnya. Hari ini ia ada janji dengan Ara untuk membesuknya lagi. Tak lupa ia membawa buku bergambar untuk diwarnai oleh Ara nanti karena hari ini memang ia memberikan PR pada murid-muridnya. Ariesya menutup pintu ruang guru karena ia orang terakhir pulang, ketika akan mengunci pintu tau-tau Bianca sudah berdiri disampingnya.

“eh Sya, sudah selesai?” tanya Bianca bersender didinding dekat Ariesya.

“ya, makanya nih aku lagi ngunci pintunya” ujar Ariesya sambil tetap pokus mengunci pintu tanpa memandang Bianca.

“kalau kamu ada disini, terus Ara dijagain sama siapa?” lanjut Ariesya khawatir.
“Ara lagi sama Biyon, makanya aku gak khawatir kalau Ara sendirian mana bisa aku tinggalin, setidaknya kalau gak sama Biyon Ara pasti dengan bi Sastri” jawab Bianca.

“syukurlah kalau begitu, setidaknya Monica & Bayu tidak bisa mendekati Ara.” Ujar Ariesya. “sudah...aku mau jenguk Ara sekarang” lanjutnya.

“eh iya ya...kan kamu sudah janji dengan Ara kemarin” ujar Bianca tersenyum kemudian menghilang dari pandangan Ariesya. Ariesya mengedarkan pandangan disekelilingnnya takut kalau nanti ada yang melihat dia sedang berbicara dengan Bianca, bisa-bisa ia dikira orang gak waras. Ternyata memang sudah sepi disekolah tempat ia berdiri  sekarang. Ariesya pun melangkah keluar gerbang sekolah dan menunggu bis.
****

“huuuufff....! akhirnya sampai juga di tempat tujuan” gumam Ariesya ketika sudah dipintu pagar rumah Biyon. Ia kemudian memencet bel dipintu pagar tersebut selang beberapa menit keluarlah security yang kemarin. Tidak seperti sikap security itu kemarin yang sedikit galak, kali ini security itu tampak ramah  & terseyum lebar ketika mengetahui siapa yang didepannya ini.

“emmm, boleh saya menemui Ara?” ujar Ariesya sambil tersenyum membalas senyuman security itu.

“tentu saja boleh, pak Biyon sudah memberitahu saya sebelumnya” jawab security itu dengan sopan kemudian ia mempersilahkan Ariesya masuk. Ariesya mengucapkan terima kasih kepada security, kemudian iapun bergegas masuk menyusuri jalan setapak menuju  rumah besar bergaya eropa itu. Tampak dari kejauhan Ariesya melihat Biyon sedang menggendong Ara dibalkon kamar Ara. Sepertinya Ara menangis, terlihat Biyon kebingungan mendiamkan Ara. Tiba-tiba Biyon melihat kearah Ariesya dan kemudian tersenyum melihat siapa yang datang. Biyon menunjuk kearah Ariesya diikuti oleh Ara, sepertinya Biyon sedang berbicara dengan Ara, tak berapa lama kemudian Ara berhenti menangis dan turun dari gendongan Biyon berlari masuk kedalam diikuti oleh Biyon. Ariesya berdiri didepan pintu rumah mewah itu dan menekan bel pintu, sebelum ia sempat menekan bel tersebut, tiba-tiba pintu terbuka. Muncul Ara dibalik pintu sambil tersenyum lebar.

“bu guru Riesya....!” teriak Ara kegirangan sambil memeluk Ariesya yang membuat Ariesya sedikit kaget bercampur senang.  Iapun membalas pelukan Ara, Ariesya mengelus rambut Ara yang panjang bergelombang.

“kenapa Ara nangis?” tanya Ariesya sambil menyentuh pipi Ara yang lembut tampak disana masih ada bekas airmata, Riesya pun menyekanya dengan tisu.

“Ara ingin main diluar tapi papa Biyon melarang” jawab Ara bergelayut manja dengan Ariesya.

“karena kamu lagi sakit, tuh panas tubuhmu saja belum turun sepenuhnya. Kalau diizinkan bisa-bisa makin panas” ujar Biyon dari belakang. Ariesya dan Ara menoleh bersamaan, Ariesya tersenyum senang bertemu kembali dengan Biyon. Ara cemberut mendengar penjelasan Biyon.

“iya Ara, apa yang dikatakan oleh papa Biyon itu benar. Papa melarang Ara karena papa Biyon sayang sama Ara, Ara ngertikan?” ujar Ariesya. Ara hanya mengangguk dengan wajah masih sedikit cemberut. Ariesya mengerti apa yang diinginkan Ara, iapun mengambil sesuatu didalam tasnya. Ara melonjak kegirangan ketika melihat apa yang ada ditangan Ariesya, sebuah boneka barbie dan buku gambar. Sengaja Ariesya membeli boneka barbie  sebelum ia mengungjungi Ara, ia tahu Ara penggemar boneka. Ara memeluk kembali Ariesya sambil mengucapkan terima kasih kepada Ariesya. Biyon tersenyum melihat pemandangan didepannya.

“terima kasih banyak bu Riesya sudah mengunjungi Ara lagi, ditambah sudah membelikan Ara boneka. Aku tak bisa bayangkan kalau saja bu Riesya tidak datang tadi” ujar Biyon membuka percakapan ketika sudah berada dikamar Ara. Mereka berdua melihat Ara sedang sibuk memawarnai gambar yang diberikan Ariesya tadi. Ariesya hanya mengangguk dan tersenyum ramah kepada Biyon. Lama mereka memperhatikan Ara mewarnai gambar, Ariesya sendiri tak berani membuka percakapan. Duh kenapa Biyon bisa setampan ini, kalau didekat Mr Dingin ini lama-lama ia bisa kehabisan nafas nih, pikir Ariesya sambil tersenyum-senyum sendirian.

“ehm...lagi mikirin apa bu Riesya?” ujar Biyon memperhatikan Ariesya membuat Ariesya sendiri kaget bercampur malu.

“eh...lagi mikirin kegiatan anak-anak pagi tadi”jawab Ariesya dengan muka merah seperti udang rebus.Duh kalau ia tahu apa yang kupikirin hehehe...bagaimana jadinya? Pikir Ariesya lagi dalam diam kali ini ia sadar ia tak mau tersenyum-senyum sendirian. Biyon hanya tersenyum mendengar penjelasan Ariesya.

“eh tuan saatnya makan siang” ujar bi Sastri memecahkan keheningan diantara mereka. Biyon pun mengajak Ariesya makan siang bersama. Pada mulanya Ariesya menolak ajakan Biyon, tapi perutnya tak bisa diajak kompromi tiba-tiba saja perutnya berbunyi ketika mendengar kata makan. Membuat Biyon tertawa kecil mendengar suara keroncongan dari perut Ariesya, Ariesya hanya nyengir menahan malu. Ariesya merutuki dirinya sendiri kenapa ia tak makan sebelum kerumah Biyon.

“tuh,bu Riesya ternyata perutnya lebih jujur” ujar Biyon.

“iya nih...maaf ya pak Biyon jadi mengganggu makan siang pak Biyon dan Ara” ujar Ariesya tertunduk malu sambil memegangi perutnya. Duh dasar perut sialan kenapa sebelum kerumah Biyon tadi tak bunyi, gerutu Ariesya kesal pada perutnya sendiri.

“tak apa-apa Bu Riesya, aku senang kok biasanya makan berdua saja dengan Ara. Apalagi Ara pasti sangat senang, betulkan Ara?”

“iya bu guru Riesya...Ara senang kok, kalau bu guru mau kita bisa makan bersama terus kok” ujar Ara dengan riang. Ariesya hanya tersenyum mendengar ucapan Ara. Merekapun menuju ruang makan, tampak suasana hari itu terasa lebih ramai dan ceria dari biasanya. Sesekali Ariesya tersenyum mendengar celotehan Ara. Biyon tampak senang melihat pemandangan didepannya, sudah lama ia tak melihat Ara seceria itu dimeja makan semenjak Bianca meninggal. Biyon merasa bersyukur semenjak ada Ariesya, Ara tak merasa sedih lagi.
                              
                                         ******

Lama Biyon dan Ariesya saling berdiam diri ketika mereka ada dimobil dalam perjalanan menuju tempat kos Ariesya. Baik Biyon maupun Ariesya tak ada yang berani bicara.

“terima kasih ya bu Riesya” ujar Biyon memecahkan kesunyian diantara mereka.

“terima kasih untuk apa?” tanya Ariesya mengerutkan dahinya.

“telah membuat Ara ceria kembali seperti sedia kala” jawab Biyon tanpa menoleh kearah Ariesya dan tetap fokus menyetir.

“oh itu.... sudah kewajiban saya menghibur anak didik saya yang sedang sakit” ujar Ariesya merendah. Emang sih menghibur Ara tapi sebenarnya ada alasan lain. Ariesya menggumam dalam hati. Kembali mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Diam-diam Ariesya mencuri pandang pada Biyon yang menyetir disebelahnya, duh kenapa Mr Dingin ini begitu tampannya, jerit Ariesya dalam hati. Beruntung hari ini ia diantar Biyon, kali ini ia tak bisa menolak tawaran Biyon, tak ada alasan seperti kemarin. Tak berapa lama mereka pun sampai ditempat kostnya Ariesya. Ariesya menawari Biyon untuk singgah sebentar kekostnya, tapi karena hari sudah mulai sore dan Ara sendirian dirumah akhirnya Biyon hanya bisa mengantar saja.  Lama Ariesya memperhatikan mobil Biyon hingga tidak kelihatan lagi. Ia pun masuk kekostnya.
“duh segernya...” ujar Ariesya ketika ia selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.  Kemudian ia membuka lemari pakaian dan mengambil kaos pavoritnya, ketika ia mau menutup lemari Bianca sudah berdiri disampingnya. 
“eh kemana aja Ca, tadi anakmu nangis tuh waktu aku datang kerumahmu” ujar Ariesya sambil memakai kaos, tanpa memperdulikan Bianca.
“ya keluyuran...” jawab Bianca dengan entengnya.
Mendengar jawaban ketus Bianca, Ariesya menoleh kearah Bianca yg kini telah duduk diranjangnya.
“kamu ini, Ara itu anakmu loh.Kasihan ia nangis lama banget, untung ketika aku datang ia berhenti menangis” Ariesya mengambil bantal gemas melihat sikap Bianca yg sedikit melupakan anaknya,dan melemparkan bantal tersebut kearah Bianca, bantal tersebut melewati tubuh Bianca yg tembus pandang dan hanya membentur tiang ranjang. Ariesya hanya mencelos melihat bantal tersebut tak mengenai tubuh Bianca. Bianca tersenyum melihat raut muka Ariesya yg sedikit kesal melihat bantal yg tak bisa mengenainya.
“bukannya aku lupa dengan Ara anakku” ujar Bianca seakan tahu apa yg dipikirkan Ariesya “malahan Sya aku mendengar suara tangisan Ara dari jauh, seketika itu juga aku sudah ada disampingnya tapi Ara tak bisa melihatku. Aku hanya bisa melihat Biyon menenangkan Ara.”sambung Bianca lagi dengan raut muka sedih.
“ya mungkin Ara lagi tak melihatmu aja, mungkin karena Biyon ada disampingnya” ujar Ariesya menghibur Bianca yg sedih. Ia tahu bagaimana sedihnya seorang ibu melihat anaknya menangis tapi tak bisa menenangkan anaknya.
“ya mungkin saja, atau... karena waktuku tinggal sedikit lagi sehingga Ara mulai tak bisa melihatku?” ujar Bianca lagi. Ariesya menghela nafasnya, ia juga bingung mau berkomentar apa lagi. Memang waktu Bianca didunia ini tinggal 2 bulan lagi, sedangkan kemajuannya belum banyak. Dengan Biyon saja ia belum kenal betul, bagaimana ia bisa memberitahu Biyon.
“sya... apa yang kau pikirkan?” tanya Bianca tiba-tiba membuyarkan lamunan Ariesya.
“emm... memikirkan bagaimana langkah kita selanjutnya” ujar Ariesya.
“iya benar Sya, sepertinya harus dikebut nih... soalnya waktu kita tinggal sedikit”
Ariesya mengiyakan perkataan Bianca.
“sudah dulu Sya, aku mau menjenguk Ara dulu. Mungkin bersama Ara, aku punya ide selanjutnya” ujar Bianca, selang beberapa detik kemudian Bianca sudah menghilang dari pandangan Ariesya. Tak berapa lama Bianca hilang, pintu Ariesya diketuk.
“Sya, kamu ada didalam gak?” tanya pemilik suara itu dari luar, Ariesya sangat tau betul suara itu. Cepat-cepat ia membuka pintu kosnya, Rista sahabatnya sudah berdiri didepannya sambil menenteng kantong plastik yang berisi kue.
“hai Ris sudah lama gak ketemu...” ujar Ariesya senang sambil mempersilahkan Rista masuk.
“ya sudah lama gak ketemu, kalau gak salah udah 2 minggu ini kita gak telpon-telponan” Rista menempatkan kantong plastiknya kemeja.
“ya mau gimana lagi, sama-sama sibuk sih. Terlebih kamu, yang sibuk di penerbitan...” Ariesya menimpali perkataan Rista sambil tersenyum yang langsung dibalas oleh Rista dengan Anggukan.
“ya sudah... nih sebagai gantinya aku bawa roti pavorit kita untuk kita makan sambil  curhat...hihihi...” ujar Rista tertawa.
“yap bagus, aku buatkan teh dulu” Ariesya beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur bersiap memasak air.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar