Ariesya
menghempaskan tubuhnya kekasur ketika ia sudah sampai dirumah. Tak berapa lama
hujan turun dengan derasnya, untungnya saja ia sudah sampai dirumah pikir
Ariesya bersyukur karena ia tak kehujanan.
“Sya,
gimana cerita tadi siang?” tiba-tiba Bianca telah berbaring disebelahnya.
Ariesya menoleh sebentar ke Bianca kemudian ia menengadahkan kembali kepalanya
kelangit-langit kamarnya.
“ya
sedikit ada kemajuan sih, tadinya Biyon mau mengantarku pulang, tapi kutolak
deh!”
“Apa?
Kenapa ditolak?Kau ini, jarang-jarang loh ada cowok tampan beri sedikit
perhatian” ujar Bianca sambil memuji saudara kembarnya sendiri, ia sangat kaget
mendengar perkataan Ariesya tadi. Ariesya kembali menoleh kearah Bianca dengan
raut wajah cemberut dan kesal mendengar celotehan Bianca.
“ia
sih tampan tapi dingin....soal aku tolak si Biyon itu karena ada tunangannya
dan mantan suamimu datang, gak mungkin lah aku biarkan Biyon mengantarku
sedangkan Ara ditinggal sendiri, ya kau bisa tebak sendirilah apa yang terjadi
selanjutnya kalau itu benar-benar terjadi” sahut Ariesya panjang lebar. Bianca
membenarkan perkataan Ariesya, ya memang itulah masalahnya. Dua orang yang ia
paling benci didunia ini Bayu mantan suaminya dan Monica calon kakak iparnya
yang membuat hidupnya menjadi tragis.
“besok
aku masih mengunjungi Ara lagi, karena sudah janji sama Ara tadi. Itu artinya
aku masih punya kesempatan untuk mendekati Biyon dan secara perlahan akan
membuka fakta dibalik kematian mu nanti, apabila aku sudah mengenal lebih dekat
saudara kembarmu itu.” Lanjut Ariesya sedikit mengagetkan Bianca yang sibuk
dengan pikirannya sendiri tapi tetap mendengarkan ucapan Ariesya.
“ya
kau benar Sya, tentunya dengan bukti juga.” Ujar Bianca entah tau-tau dia sudah
duduk diatas meja didekat ranjang tak jauh dari Ariesya berbaring. Huh dasar
hantu semaunya sendiri menghilang dan muncul, gerutu Ariesya yang merasa iri
melihat Bianca yang bisa seenaknya muncul dan menghilang didepan matanya.
“ya
tentu saja Ca, kalau gak ada bukti mana ada yang mau percaya sama aku.” Ariesya
menimpali perkataan Bianca tadi. Ariesya kemudian beranjak dari tempat tidurnya
dan menuju kedapur.
“mau
ngapain Sya?” tanya Bianca yang sedari tadi matanya terus memperhatikan
gerak-gerik Ariesya. Ariesya menoleh kearah Bianca yang ternyata sudah berdiri
disamping pintu dapur.
“mau
mandi, emangnya kamu mau ikut mandi?” goda Ariesya sambil menyunggingkan senyumnya
kepada Bianca.
“huh
emangnya hantu butuh mandi?” cibir Bianca. Mendengar cibiran Bianca, Ariesya
tertawa tergelak-gelak.
“ye...mungkin
aja, siapa tau seorang hantu cantik butuh mandi juga hahahahaha....” ujar
Ariesya tergelak-gelak, yang mau tak mau
Bianca ikut tertawa juga.
*****
Teeeet-teeeet
tanda bel pulang berbunyi, tepat jam 10 pagi anak-anak TK berhamburan keluar
kelas menghampiri orang tua masing-masing. Ariesya pun bergegas keruang guru
mengambil tasnya. Hari ini ia ada janji dengan Ara untuk membesuknya lagi. Tak
lupa ia membawa buku bergambar untuk diwarnai oleh Ara nanti karena hari ini
memang ia memberikan PR pada murid-muridnya. Ariesya menutup pintu ruang guru
karena ia orang terakhir pulang, ketika akan mengunci pintu tau-tau Bianca
sudah berdiri disampingnya.
“eh
Sya, sudah selesai?” tanya Bianca bersender didinding dekat Ariesya.
“ya,
makanya nih aku lagi ngunci pintunya” ujar Ariesya sambil tetap pokus mengunci
pintu tanpa memandang Bianca.
“kalau
kamu ada disini, terus Ara dijagain sama siapa?” lanjut Ariesya khawatir.
“Ara
lagi sama Biyon, makanya aku gak khawatir kalau Ara sendirian mana bisa aku
tinggalin, setidaknya kalau gak sama Biyon Ara pasti dengan bi Sastri” jawab
Bianca.
“syukurlah
kalau begitu, setidaknya Monica & Bayu tidak bisa mendekati Ara.” Ujar
Ariesya. “sudah...aku mau jenguk Ara sekarang” lanjutnya.
“eh
iya ya...kan kamu sudah janji dengan Ara kemarin” ujar Bianca tersenyum
kemudian menghilang dari pandangan Ariesya. Ariesya mengedarkan pandangan
disekelilingnnya takut kalau nanti ada yang melihat dia sedang berbicara dengan
Bianca, bisa-bisa ia dikira orang gak waras. Ternyata memang sudah sepi
disekolah tempat ia berdiri sekarang.
Ariesya pun melangkah keluar gerbang sekolah dan menunggu bis.
****
“huuuufff....!
akhirnya sampai juga di tempat tujuan” gumam Ariesya ketika sudah dipintu pagar
rumah Biyon. Ia kemudian memencet bel dipintu pagar tersebut selang beberapa
menit keluarlah security yang kemarin. Tidak seperti sikap security itu kemarin
yang sedikit galak, kali ini security itu tampak ramah & terseyum lebar ketika mengetahui siapa
yang didepannya ini.
“emmm,
boleh saya menemui Ara?” ujar Ariesya sambil tersenyum membalas senyuman
security itu.
“tentu
saja boleh, pak Biyon sudah memberitahu saya sebelumnya” jawab security itu
dengan sopan kemudian ia mempersilahkan Ariesya masuk. Ariesya mengucapkan
terima kasih kepada security, kemudian iapun bergegas masuk menyusuri jalan
setapak menuju rumah besar bergaya eropa
itu. Tampak dari kejauhan Ariesya melihat Biyon sedang menggendong Ara dibalkon
kamar Ara. Sepertinya Ara menangis, terlihat Biyon kebingungan mendiamkan Ara.
Tiba-tiba Biyon melihat kearah Ariesya dan kemudian tersenyum melihat siapa
yang datang. Biyon menunjuk kearah Ariesya diikuti oleh Ara, sepertinya Biyon
sedang berbicara dengan Ara, tak berapa lama kemudian Ara berhenti menangis dan
turun dari gendongan Biyon berlari masuk kedalam diikuti oleh Biyon. Ariesya
berdiri didepan pintu rumah mewah itu dan menekan bel pintu, sebelum ia sempat
menekan bel tersebut, tiba-tiba pintu terbuka. Muncul Ara dibalik pintu sambil
tersenyum lebar.
“bu
guru Riesya....!” teriak Ara kegirangan sambil memeluk Ariesya yang membuat
Ariesya sedikit kaget bercampur senang.
Iapun membalas pelukan Ara, Ariesya mengelus rambut Ara yang panjang
bergelombang.
“kenapa
Ara nangis?” tanya Ariesya sambil menyentuh pipi Ara yang lembut tampak disana
masih ada bekas airmata, Riesya pun menyekanya dengan tisu.
“Ara
ingin main diluar tapi papa Biyon melarang” jawab Ara bergelayut manja dengan
Ariesya.
“karena
kamu lagi sakit, tuh panas tubuhmu saja belum turun sepenuhnya. Kalau diizinkan
bisa-bisa makin panas” ujar Biyon dari belakang. Ariesya dan Ara menoleh
bersamaan, Ariesya tersenyum senang bertemu kembali dengan Biyon. Ara cemberut
mendengar penjelasan Biyon.
“iya
Ara, apa yang dikatakan oleh papa Biyon itu benar. Papa melarang Ara karena
papa Biyon sayang sama Ara, Ara ngertikan?” ujar Ariesya. Ara hanya mengangguk
dengan wajah masih sedikit cemberut. Ariesya mengerti apa yang diinginkan Ara,
iapun mengambil sesuatu didalam tasnya. Ara melonjak kegirangan ketika melihat
apa yang ada ditangan Ariesya, sebuah boneka barbie dan buku gambar. Sengaja
Ariesya membeli boneka barbie sebelum ia
mengungjungi Ara, ia tahu Ara penggemar boneka. Ara memeluk kembali Ariesya
sambil mengucapkan terima kasih kepada Ariesya. Biyon tersenyum melihat
pemandangan didepannya.
“terima
kasih banyak bu Riesya sudah mengunjungi Ara lagi, ditambah sudah membelikan Ara
boneka. Aku tak bisa bayangkan kalau saja bu Riesya tidak datang tadi” ujar
Biyon membuka percakapan ketika sudah berada dikamar Ara. Mereka berdua melihat
Ara sedang sibuk memawarnai gambar yang diberikan Ariesya tadi. Ariesya hanya
mengangguk dan tersenyum ramah kepada Biyon. Lama mereka memperhatikan Ara
mewarnai gambar, Ariesya sendiri tak berani membuka percakapan. Duh kenapa
Biyon bisa setampan ini, kalau didekat Mr Dingin ini lama-lama ia bisa
kehabisan nafas nih, pikir Ariesya sambil tersenyum-senyum sendirian.
“ehm...lagi
mikirin apa bu Riesya?” ujar Biyon memperhatikan Ariesya membuat Ariesya
sendiri kaget bercampur malu.
“eh...lagi
mikirin kegiatan anak-anak pagi tadi”jawab Ariesya dengan muka merah seperti
udang rebus.Duh kalau ia tahu apa yang
kupikirin hehehe...bagaimana jadinya? Pikir Ariesya lagi dalam diam kali
ini ia sadar ia tak mau tersenyum-senyum sendirian. Biyon hanya tersenyum
mendengar penjelasan Ariesya.
“eh
tuan saatnya makan siang” ujar bi Sastri memecahkan keheningan diantara mereka.
Biyon pun mengajak Ariesya makan siang bersama. Pada mulanya Ariesya menolak
ajakan Biyon, tapi perutnya tak bisa diajak kompromi tiba-tiba saja perutnya
berbunyi ketika mendengar kata makan. Membuat Biyon tertawa kecil mendengar
suara keroncongan dari perut Ariesya, Ariesya hanya nyengir menahan malu.
Ariesya merutuki dirinya sendiri kenapa ia tak makan sebelum kerumah Biyon.
“tuh,bu
Riesya ternyata perutnya lebih jujur” ujar Biyon.
“iya
nih...maaf ya pak Biyon jadi mengganggu makan siang pak Biyon dan Ara” ujar
Ariesya tertunduk malu sambil memegangi perutnya. Duh dasar perut sialan kenapa sebelum kerumah Biyon tadi tak bunyi, gerutu
Ariesya kesal pada perutnya sendiri.
“tak
apa-apa Bu Riesya, aku senang kok biasanya makan berdua saja dengan Ara.
Apalagi Ara pasti sangat senang, betulkan Ara?”
“iya
bu guru Riesya...Ara senang kok, kalau bu guru mau kita bisa makan bersama
terus kok” ujar Ara dengan riang. Ariesya hanya tersenyum mendengar ucapan Ara.
Merekapun menuju ruang makan, tampak suasana hari itu terasa lebih ramai dan
ceria dari biasanya. Sesekali Ariesya tersenyum mendengar celotehan Ara. Biyon
tampak senang melihat pemandangan didepannya, sudah lama ia tak melihat Ara
seceria itu dimeja makan semenjak Bianca meninggal. Biyon merasa bersyukur
semenjak ada Ariesya, Ara tak merasa sedih lagi.
******
Lama
Biyon dan Ariesya saling berdiam diri ketika mereka ada dimobil dalam
perjalanan menuju tempat kos Ariesya. Baik Biyon maupun Ariesya tak ada yang
berani bicara.
“terima
kasih ya bu Riesya” ujar Biyon memecahkan kesunyian diantara mereka.
“terima
kasih untuk apa?” tanya Ariesya mengerutkan dahinya.
“telah
membuat Ara ceria kembali seperti sedia kala” jawab Biyon tanpa menoleh kearah
Ariesya dan tetap fokus menyetir.
“oh
itu.... sudah kewajiban saya menghibur anak didik saya yang sedang sakit” ujar
Ariesya merendah. Emang sih menghibur Ara
tapi sebenarnya ada alasan lain. Ariesya menggumam dalam hati. Kembali mereka
sibuk dengan pikirannya masing-masing. Diam-diam Ariesya mencuri pandang pada
Biyon yang menyetir disebelahnya, duh
kenapa Mr Dingin ini begitu tampannya, jerit Ariesya dalam hati. Beruntung
hari ini ia diantar Biyon, kali ini ia tak bisa menolak tawaran Biyon, tak ada
alasan seperti kemarin. Tak berapa lama mereka pun sampai ditempat kostnya
Ariesya. Ariesya menawari Biyon untuk singgah sebentar kekostnya, tapi karena
hari sudah mulai sore dan Ara sendirian dirumah akhirnya Biyon hanya bisa
mengantar saja. Lama Ariesya
memperhatikan mobil Biyon hingga tidak kelihatan lagi. Ia pun masuk kekostnya.
“duh
segernya...” ujar Ariesya ketika ia selesai mandi dan mengeringkan rambutnya
dengan handuk kecil. Kemudian ia membuka
lemari pakaian dan mengambil kaos pavoritnya, ketika ia mau menutup lemari
Bianca sudah berdiri disampingnya.
“eh
kemana aja Ca, tadi anakmu nangis tuh waktu aku datang kerumahmu” ujar Ariesya
sambil memakai kaos, tanpa memperdulikan Bianca.
“ya
keluyuran...” jawab Bianca dengan entengnya.
Mendengar
jawaban ketus Bianca, Ariesya menoleh kearah Bianca yg kini telah duduk
diranjangnya.
“kamu
ini, Ara itu anakmu loh.Kasihan ia nangis lama banget, untung ketika aku datang
ia berhenti menangis” Ariesya mengambil bantal gemas melihat sikap Bianca yg
sedikit melupakan anaknya,dan melemparkan bantal tersebut kearah Bianca, bantal
tersebut melewati tubuh Bianca yg tembus pandang dan hanya membentur tiang
ranjang. Ariesya hanya mencelos melihat bantal tersebut tak mengenai tubuh
Bianca. Bianca tersenyum melihat raut muka Ariesya yg sedikit kesal melihat
bantal yg tak bisa mengenainya.
“bukannya
aku lupa dengan Ara anakku” ujar Bianca seakan tahu apa yg dipikirkan Ariesya
“malahan Sya aku mendengar suara tangisan Ara dari jauh, seketika itu juga aku
sudah ada disampingnya tapi Ara tak bisa melihatku. Aku hanya bisa melihat
Biyon menenangkan Ara.”sambung Bianca lagi dengan raut muka sedih.
“ya
mungkin Ara lagi tak melihatmu aja, mungkin karena Biyon ada disampingnya” ujar
Ariesya menghibur Bianca yg sedih. Ia tahu bagaimana sedihnya seorang ibu
melihat anaknya menangis tapi tak bisa menenangkan anaknya.
“ya
mungkin saja, atau... karena waktuku tinggal sedikit lagi sehingga Ara mulai
tak bisa melihatku?” ujar Bianca lagi. Ariesya menghela nafasnya, ia juga
bingung mau berkomentar apa lagi. Memang waktu Bianca didunia ini tinggal 2
bulan lagi, sedangkan kemajuannya belum banyak. Dengan Biyon saja ia belum
kenal betul, bagaimana ia bisa memberitahu Biyon.
“sya...
apa yang kau pikirkan?” tanya Bianca tiba-tiba membuyarkan lamunan Ariesya.
“emm...
memikirkan bagaimana langkah kita selanjutnya” ujar Ariesya.
“iya
benar Sya, sepertinya harus dikebut nih... soalnya waktu kita tinggal sedikit”
Ariesya
mengiyakan perkataan Bianca.
“sudah
dulu Sya, aku mau menjenguk Ara dulu. Mungkin bersama Ara, aku punya ide
selanjutnya” ujar Bianca, selang beberapa detik kemudian Bianca sudah
menghilang dari pandangan Ariesya. Tak berapa lama Bianca hilang, pintu Ariesya
diketuk.
“Sya,
kamu ada didalam gak?” tanya pemilik suara itu dari luar, Ariesya sangat tau
betul suara itu. Cepat-cepat ia membuka pintu kosnya, Rista sahabatnya sudah
berdiri didepannya sambil menenteng kantong plastik yang berisi kue.
“hai
Ris sudah lama gak ketemu...” ujar Ariesya senang sambil mempersilahkan Rista
masuk.
“ya
sudah lama gak ketemu, kalau gak salah udah 2 minggu ini kita gak
telpon-telponan” Rista menempatkan kantong plastiknya kemeja.
“ya
mau gimana lagi, sama-sama sibuk sih. Terlebih kamu, yang sibuk di penerbitan...”
Ariesya menimpali perkataan Rista sambil tersenyum yang langsung dibalas oleh
Rista dengan Anggukan.
“ya
sudah... nih sebagai gantinya aku bawa roti pavorit kita untuk kita makan
sambil curhat...hihihi...” ujar Rista
tertawa.
“yap
bagus, aku buatkan teh dulu” Ariesya beranjak dari tempat duduknya dan menuju
dapur bersiap memasak air.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar