Pagi ini udara terasa agak panas, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi matahari pagi sudah siap menyinari segala makhluk yang ada di bumi. Seperti biasa Ariesya sudah duduk dimeja sambil menikmati secangkir teh dan sebuah roti untuk menambah tenaga memulai aktifitasnya hari ini. Tepat setengah delapan pagi ia bergegas untuk berangkat kesekolah.
Ariesya duduk dihalte menunggu bis, tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini hitam mengkilap berhenti didepannya, kaca mobil yang menghadap ke Ariesya lambat laun terbuka dan ia melihat ternyata pemiliknya adalah Biyon. Ariesya tersenyum manis melihat siapa yang ia lihat itu. Biyon melambaikan tangannya dan kepalanya dijulurkan keluar.
“Lagi menunggu bis ya Sya?” Tanya Biyon, kali ini ia memanggil wanita mungil didepannya ini dengan nama saja. Ia teringat ketika kemarin Ariesya keberatan jika ia dipanggil ibu oleh Biyon. Seperti seorang wanita yang sudah tua saja, begitu Ariesya berbicara sambil menirukan seorang tante-tante dewasa yang malah membuatnya semakin kelihatan lucu dan innocent. Biyon tertawa melihat perubahan wajah Ariesya, sedangkan Ariesya hanya manyun dan beberapa menit kemudian iapun ikut tertawa.
“ya benar lagi menunggu bis” suara Ariesya membuat Biyon tersadar dari lamunannya.
“kalau kamu gak keberatan boleh aku antar sekolah kebetulan jalan tempat tujuan kita sama” tawar Biyon.
“tapi… nanti anda sendiri terlambat kekantor” mendengar penuturan Ariesya, Biyon tertawa.
“hahaha… kalau soal itu gak usah dipikirkan, lagian siapa yang berani memarahi saya?”
Ia juga sih, Biyon kan punya perusahaan sendiri. Mana ada yang berani memarahi bosnya sendiri, pikir Ariesya.
“Sya kamu gak usah banyak mikir loh, nanti terlambat, bisa-bisa kamu yang dimarahi oleh kepsek” Biyon pun membuka pintu mobil disebelahnya dan mempersilahkan Ariesya masuk. Dengan canggung Ariesya duduk disamping Biyon. Samar2 ia mencium aroma parfume Biyon yang membuatnya ingin sekali merasakan kehangatan tubuh Biyon. Bagaimana ya rasanya dipeluk lelaki tampan yang digilai banyak wanita, pikir Ariesya. Duh lagi-lagi melamunkan Mr Dingin disebelahnya ini, Ariesya menggigit bibirnya. Ia kesal sendiri dengan dirinya mengapa ia selalu berfantasi liar bila didekat Mr Dingin ini. Ariesya memalingkan mukanya keluar jendela berpura-pura melihat pemadangan, tak ingin ia tertangkap oleh Biyon sedang mengaguminya. Selang beberapa menit kemudian mereka sampai dihalaman sekolah.
“terima kasih sudah mengantar sampai sekolah” Ariesya tersenyum manis
“Ya sama-sama, tapi apakah nanti kamu akan kerumah lagi Sya?” tanya Biyon sebelum Ariesya benar-benar keluar dari mobilnya.
“ya sepertinya begitu, memang ada apa? Apakah kamu keberatan kalau aku kesana?” tanya Ariesya dengan heran dan sedikit kecewa.
“ah kamu jangan salah sangka dulu Sya, aku senang kok kamu kesana. Malah aku benar-benar mengharapkan kamu berkunjung kerumahku lagi, soalnya kalau kamu sampai gak kerumahku Ara pasti sedih, sebab tadi pagi ia sudah bersemangat ingin bertemu denganmu lagi” Ariesya tersenyum lebar mendengar penuturan Biyon.
“kalau begitu aku pergi dulu ya, dan selamat berkerja” Biyon pun menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari pandangan Ariesya.
******
Biyon termangu dimobil sambil menatap lurus sekolah Ara dari kejauhan. Teringat percakapan ia tadi pagi dengan Ara.
“pokoknya Papa Biyon harus menjemput bu guru Riesya dari sekolah” teriak Ara dari kamarnya. Ara menggembungkan pipinya sambil terus memegang boneka Bear besar yang hampir sepantar dengan dirinya. Biyon kewalahan menghadapi anak adik kembarnya itu, apa yang dimaui oleh Ara harus dituruti, benar-benar sifatnya Ara ini diwariskan oleh dirinya. Biyon menghembuskan nafasnya, rasanya itu tak mungkin ia menuruti kemauan Ara. Kenal dengan Ariesya saja tidak, ia hanya tahu kalau Ariesya itu adalah guru Ara, hanya sebatas itu yang ia tahu. Ia salut dengan Ariesya karena bisa cepat akrab dengan Ara, dan seakan-akan Ara sudah kenal dengan Ariesya bertahun-tahun.
“kenapa papa harus menjemput bu Riesya, Ara? Ara taukan kalau papa sibuk” terang Biyon sambil sedikit kesal.
“pokoknya Ara tak mau tau, bu guru Riesya harus datang mengunjungi Ara. Kemarin bu guru Riesya udah janji mau datang” rengek Ara keras kepala.
“tapiiii… papa….”
“nggak, Ara nggak mau dengar. Pokoknya papa harus menjemput bu Riesya” teriak Ara makin keras sambil menutup telinganya, ia tau papanya Biyon tidak akan mau menuruti permintaannya. Biyon menghembuskan nafasnya, ia benar-benar kewalahan menghadapi Ara.
“oke baik, papa akan menjemput bu guru Riesya… tapi yang menjemputnya nanti pak Marwan saja bagaimana?” bujuk Biyon, ia duduk disamping Ara yang duduk sambil memeluk boneka kesayangannya.
“pokoknya papa yang harus menjemput bu guru Riesya” pekik Ara makin kuat sehingga Biyon harus menutup telinganya. Mendengar jeritan Ara yang kuat bibi Sastri langsung menuju kekamar Ara dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan tanpa disadari mereka, Bianca juga ada disitu.
“ oke, oke papa jemput bu guru Riesya. Tapi apa yang membuat Ara ingin papa menjemput bu guru?” ujar Biyon bingung, kenapa Ara memaksakan kehendaknya agar ia menjemput Ariesya.
“karena bu guru Riesya udah janji kemarin mau menemani Ara, dan kalau papa gak jemput bu Riesya nanti bu Riesya gak jadi datang… dan Ara kesepian karena gak ada teman, lagian papa sama bu Riesya melarang Ara sekolah” ujar Ara sedih, matanya memancarkan rasa kesepian yang teramat dalam. Wajahnya ditundukkan kebawah sembari tangannya memegang erat bonekanya. Biyon merasakan apa yang dirasakan oleh keponakan tersayangnya itu, ia hampir lupa bahwa Ara sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Bahkan selamanya keponakannya ini takkan bisa bertemu dengan ibunya. Mungkin inilah kenapa Ara ingin Ariesya menemaninya, karena Ara rindu terhadap ibunya dan sosok Ariesya benar-benar mirip seperti Bianca, hanya Bianca keras kepala dan Ariesya lemah lembut. Biyon memeluk Ara, menandakan bahwa ia mengerti apa yang dirasakan oleh keponakannya itu. Ara menangis seketika itu juga, air matanya tak bisa ia bendung lagi.
“sudah, sudah jangan menangis lagi” Biyon menyeka airmata Ara dan menggendongnya ke balkon.
“maafkan papa kalau Ara kesepian dan papa sangat menyesal tidak punya banyak waktu untuk menemani Ara, sekarang papa mengerti kenapa Ara ngotot ingin papa menjemput bu guru Riesya” ujar Biyon sambil terus menyeka airmata Ara yang masih terus mengalir dipipinya yang mungil itu. Mendengar penjelasan Biyon, raut wajah Ara seketika berubah ceria kembali dan sesungging senyuman terlihat jelas diwajah Ara.
“janji? papa akan jemput bu guru Riesya?” tanya Ara kembali, Biyon pun tersenyum, kemudian ia memberikan jari kelingkingnya tanda kalau ia berjanji dengan Ara, yang dibalas Ara dengan mengaitkan jari kelingking mungilnya, begitulah Biyon kalau berjanji dengan Ara. Ara kemudian memeluk Biyon dengan manja seakan ia tak mau melepaskan Biyon. Tanpa disadari oleh Biyon yang kepalanya menghadap kearah taman, Ara mengacungkan jari jempolnya kearah Bianca dan tersenyum puas yang dibalas dengan senyuman pula oleh Bianca. Mata Ara mengisyaratkan kalau rencana ia dan ibunya berjalan mulus.
Dan disinilah ia sekarang, didalam mobil yang ia pakirkan tak jauh dari sekolah. Biyon mengetuk jari-jarinya kestir mobil sambil menatap lurus ke pintu gerbang sekolah. Diliriknya arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 10 tepat. Terdengar suara bel pulang berbunyi, selang beberapa menit kemudian anak-anak seumuran dengan Ara berhamburan keluar menghampiri ibu atau nenek yang setia menunggu mereka sedari tadi. Biyon menghembuskan nafasnya, rasanya berat untuk bertemu kembali dengan Ariesya. Apalagi untuk memintanya pulang bersamanya. Jarang sekali atau bahkan ia tak pernah menjemput wanita kalau bukan karena bisnis, kecuali wanita itu adalah ibu atau adik kembarnya sendiri yang meminta dijemput, dan bahkan tunangannya Monica saja jarang sekali ia jemput. Pagi tadi saja ia tak sengaja melihat Ariesya menunggu bis dan menawarinya untuk mengantarnya kesekolah, untung saja wanita mungil tersebut mau diantarnya walaupun terlihat dibola matanya yang hitam sedikit agak sungkan. Dan siang ini juga ia akan menawarinya untuk menjemputnya pulang. Biyon menertawakan dirinya sendiri, betapa konyolnya ia mau saja diperintah oleh keponakannya yang imut tersebut, tapi apa mau dikata keponakannya yang keras kepala itu merengek dengan memelas bahkan menangis didepannya. Biyon paling tak suka melihat wanita yang menangis, apalagi orang tersebut adalah orang yang ia sayangi. Biyon pun luluh hatinya dan menyanggupi permintaan keponakannya itu. “well kita lihat saja nanti, pria dingin seperti ku mau menjemput seorang wanita yang tak begitu lama ia kenal” gumam Biyon menghidupkan mobilnya dan melaju kearah gerbang sekolah ketika ia melihat sesosok gadis mungil sudah terlihat keluar gerbang.
@@@@@@@@
Ariesya menghempaskan pantatnya dikursi ketika ia sudah sampai diruang guru. Hari ini ia telah selesai mengajar muridnya. Tak berapa lama rekan kerjanya juga beranjak pulang dan tinggallah ia sendirian diruang guru. Sesosok hantu cantik duduk diatas meja kerjanya yang tak lain adalah Bianca. Tampaknya Bianca bahagia, itu terlihat jelas dari wajahnya yang sedari tadi tersenyum-senyum.
“mikirin apa sih? Dari tadi kamu senyum-senyum saja?” ujar Ariesya, ia menatap lekat-lekat hantu cantik didepannya ini.
“mikirin kejadian pagi tadi Sya” jawab Bianca sambil memainkan rambutnya yang panjang pirang bergelombang.
“apaan tuh” Ariesya mulai tertarik dengan perkataan Bianca. Kemudian ia bercerita kalau pagi tadi Ara memaksa Biyon untuk menjemput Ariesya siang ini. Terbayang jelas di ingatan Bianca kalau Biyon sangat keberatan akan permintaan Ara tersebut. Ya namanya juga Ara yang mau tak mau harus menuruti kemauannya.
“ya jangan kaget kalau nanti setelah keluar dari gerbang kau akan menemui kakakku Biyon menjemputmu” ujar Bianca panjang lebar. Ariesya tersenyum membayangkan wajah dingin Biyon yang keberatan itu.
“apakah ini juga bagian dari rencana kamu Ca?” tanya Ariesya “apakah tadi pagi juga rencana kamu?” lanjut Ariesya tiba-tiba saja ia ingat akan pagi tadi yang tak sengaja Biyon mengantarnya kesekolah. Bianca mengerutkan dahinya mendengar penuturan Ariesya.
“kalau menjemput kamu pulang dari sekolah iya, tapi kalau mengantar kamu rasanya gak direncanain deh”
“jadi gak direncanain yang pagi tadi ya?” tanya Ariesya kembali, Bianca hanya mengangguk membenarkan. Jadi apakah itu suatu keberuntungan? Pikir Ariesya. Ariesya pun tersenyum memikirkannya.
“hayo jangan senyum-senyum sendirian, cepat sana pulang. gak baik kakakku dibiarkan menunggu lama” suara Bianca memecah lamunan Ariesya.
“oke,” Ariesya pun beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tasnya. Sebelum ia keluar ruangan Bianca mengingatkan kembali walaupun sudah tau kalau Biyon menjemputnya berpura-puralah seakan-akan ia tak tau. Dan benar saja ketika ia sudah berada didepan gerbang sekolah tampak dari kejauhan ia melihat mobil Biyon menuju kearah dirinya. Ariesya memasang wajah pura-pura bingung. Biyon menghentikan mobilnya tepat dimana Ariesya berdiri, sebelum ia menurunkan pintu kaca mobilnya ia menghembuskan nafasnya.
“hai ketemu lagi” Biyon melambaikan tangannya. Kali ini ia turun dari mobilnya dan menghampiri Ariesya.
“ada perlu apa ya? Ara hari ini kan gak masuk” tanya Ariesya. Sebenarnya ia tau akan maksud kedatangan Mr Dingin ini kemari. Tapi ia ingin melihat bagaimana cara Mr Dingin yang kaku ini menyampaikan maksud kedatangannya. Biyon menyelinapkan jari-jari tangannya kerambut dan menyisirnya yang semulanya rapi malah jadi berantakan dan itu tampak lebih cool dimata Ariesya sedangkan tangan yang satu lagi ia masukkan kesaku celananya.
“ummm… sebenarnya aku ingin mengantar kamu pulang kalau gak keberatan” ujar Biyon kaku dan sesungging senyuman tipis menghias wajahnya. Benar-benar Mr Dingin yang tampan hanya dengan tersenyum sedikit saja bisa membuat Ariesya meleleh dibuatnya. Sebelum Ariesya sempat menjawab Biyon sudah berbicara lagi.
“meskipun kamu gak mau, aku tetap memaksa” tanpa banyak bicara lagi Biyon sudah membukakan pintu dan mempersilahkan Ariesya masuk. Ariesya hanya menggigit bibirnya dengan lembut. Ckckckc benar-benar Mr Dingin yang mempunyai sifat dominan yang berkuasa, apapun yang diperintahkan harus dituruti. Ariesya menuruti perintah Biyon dan masuk kemobil.
“maaf kalau aku sedikit memaksa” ujar Biyon ketika mereka sudah berada didalam mobil dan mulai meninggalkan gerbang sekolah. Ternyata Mr Dingin ini punya sisi baiknya juga, pikir Ariesya.
“ya tak apa-apa, tapi apa tidak akan mengurangi waktu anda yang berharga ini hanya untuk meluangkan waktu untuk menjemput seorang gadis sepertiku? Sedangkan bagi anda waktu adalah uang” Ariesya menoleh kearah Biyon, dan untuk kesekian kalinya Ariesya terpana dengan Mr Dingin ini.
“ya itu benar, waktu adalah uang bagiku yang seorang gila kerja ini. Tapi tak ada salahnya juga menuruti kemauan seorang gadis kecil yang keras kepala itu yang juga bagiku satu-satunya keluargaku saat ini” jawab Biyon tanpa menoleh kearah Ariesya dan tetap focus menyetir. Gadis kecil yang dimaksud tentu adalah Ara, pikir Ariesya.
“apakah Ara meminta kamu untuk menjemputku?” Biyon menghentikan mobilnya dan menatap Ariesya. Mata mereka saling bertemu, lama mereka saling berpandangan. Hingga akhirnya Ariesya tak tahan akan pandangan sejuta watt milik Mr Dingin ini dan memalingkan mukanya keluar jendela.
“ya itu benar, dan kita sudah sampai didepan kostmu” jawab Biyon, Ariesya tak sadar kalau mereka sudah sampai didepan kostnya sendiri. Dengan enggan ia mau membuka pintu, seketika itu juga Biyon mencegah Ariesya keluar dan tangan mereka saling bersentuhan. Seperti ada aliran listrik yang dirasakan oleh mereka berdua dan menimbulkan sensasi yang aneh, Ariesya merasakan ada getaran dihatinya. Sama seperti ketika ia jatuh cinta dengan mantannya dahulu, tapi kali ini getaran dihatinya begitu kuat ia rasakan terhadap Mr Dingin ini. Refleks Ariesya membebaskan tangannya dari sentuhan Biyon. Biyon pun demikian ia merasa ada sesuatu dihatinya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“maaf, kalau mengagetkanmu Sya.” Ujar Biyon yang kini menjadi salah tingkah dihadapan Ariesya. “ sebenarnya aku mengantarmu pulang hanya untuk menyuruhmu ganti baju, dan kau harus ikut aku kerumahku setelah itu” sambung Biyon lagi.
“apa? Kenapa harus kerumahmu?” tanya Ariesya bingung.
“ya karena kamu sudah janji dengan Ara akan menemaninya seharian ini. Maka itulah Ara memaksaku untuk menjemputmu, ia pikir kamu lupa akan mengunjunginya lagi. Ia tak ingin kesepian” Biyon menjawab kebingungan Ariesya. Ariesya mengerti dan memakluminya.
“baiklah kalau begitu aku akan ganti baju, tapi sebenarnya aku tak lupa akan janjiku kemarin. Hanya saja mungkin sedikit agak telat” ujar Ariesya turun dari mobil . “tunggu sebentar ya, aku tak akan lama ganti baju” sambung Ariesya, tanpa mendengar jawaban dari Biyon iapun sudah berlari kearah kostnya. Biyon menatap punggung wanita mungil yang berlari didepannya itu, hingga Ariesya sudah tak terlihat lagi. Biyon kembali termangu menatap tangannya yang bersentuhan dengan Ariesya tadi. Masih tersimpan sisa-sisa gelenyar aneh menyeruak dihatinya. Ia sendiri aneh melihat perubahan dirinya ketika ia berada dekat dengan Ariesya apalagi ketika ia bersentuhan dengan gadis mungil ini. Apakah hatinya sudah jatuh cinta kepada gadis mungil ini?. Biyon menepuk-nepuk kepalanya berusaha menghilangkan perasaaan itu.
“damm… menjauh dari pikiran itu men! Bahkan kau sudah bertunangan dengan Monica, tak mungkin kau jatuh cinta dengan gadis mungil ini.” Tiba-tiba saja kata hati Biyon berbicara seakan-akan mengingatkan Biyon kejalur yang semestinya. Biyon benar-benar gelisah dibuat oleh hatinya sendiri dan ia harus mengakui baru pertama kali ini ia merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, bahkan ketika ia bertunangan dengan Monica saja ia tak pernah merasakan getaran dihatinya bahkan untuk wanita lainnya.
“menjauhlah dari cinta atau kau akan dibuatnya sengsara, cinta itu hanya akan membuat dirimu lemah dan saat itu juga musuh-musuhmu akan menghabisimu dan tetaplah menjadi manusia berhati dingin selama ini” kembali pikiran yang tak mengenakkan menyelimuti pikiran Biyon. Beruntung gadis mungil yang ditunggunya bahkan hampir membuat dunianya kacau balau datang. Biyon membukakan pintu mobilnya dan gadis mungil ini sudah berada disampingnya. Biyonpun menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan perlahan.
“maaf sudah menunggu lama” kali ini Ariesya membuka percakapan yang kaku diantara mereka berdua. Ariesya melihat Biyon diam saja ketika ia datang, apakah Biyon marah? Karena ia lama menunggunya ganti baju?, ya tentu saja marah karena bagi Mr Dingin ini waktu adalah uang begitu semboyannya. Sungut Ariesya dalam hati. Biyon tak mendengar Ariesya berbicara, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“ehem…” Ariesya berdehem membuat Biyon tersentak dari lamunannya. Biyon pun menoleh kearah Ariesya dan kembali tersenyum walau hanya senyum kecil.
“ya ada apa?”
“maaf, apa kamu marah sama aku karena lama ganti baju?” tanya Ariesya dengan wajah sedikit agak takut, ia belum pernah melihat Mr Dingin ini kalau marah. Biyon tertawa mendengar perkataan Ariesya, ia memandang gadis mungil disampingnya ini. Benar-benar senang melihat orang kalau takut kepada dirinya, hanya dengan diam saja membuat gadis mungil ini saja takut, pikirnya.
“hahaha…. Kamu ini. Aku tak marah kok, kamu gak lama ganti bajunya” Biyon tertawa lepas, sedangkan Ariesya hanya memandang dengan perasaan heran. Kalau Mr Dingin ini tertawa ia sangat tampan bahkan lebih tampan dari sifatnya yang dingin ini. Lama mereka terdiam tak satupun dari mereka yang berani berbicara. Dering suara ponsel Biyon memecahkan kesunyian diantara mereka, Biyon melirik ponselnya dan melihat siapa yang calling, ternyata Ara.
“ya Ara ada apa?”
“Apa papa udah jemput bu guru Riesya?” tanya Ara diseberang sana
“ya” jawab Biyon singkat.
“mana buktinya kalau papa udah jemput bu guru!” kembali Ara bertanya dengan nada tidak percaya. Biyon menghela nafasnya, tergambar diwajahnya ia kesal dengan sikap Ara tersebut. Kalau bukan Ara adalah keponakannya, ia pasti sudah memarahinya habis-habisan, tak ada yang berani memerintahnya kecuali orang tuanya dan sekarang bertambah satu orang lagi seorang gadis kecil keras kepala. Biyon menoleh ke Ariesya dan memberikan ponselnya, Ariesya bingung dengan tindakan Biyon tersebut.
“Bicara pada Ara tuh… sepertinya ia tak percaya padaku” ujar Biyon kesal yang kemudian ponselnya tersebut sudah berada ditangan Ariesya, sepertinya Ariesya tau maksud Biyon.
“ya Ara! Ini bu guru Riesya” ujarnya lembut.
“bu guru!” ujar Ara gembira mendengar suara Ariesya, kemudian Ariesya memberikan kembali ponsel Biyon kepadanya.
“bagaimana? udah percayakan? Sudah ya papa lagi nyetir nih!” perintah Biyon tampaknya ia tak ingin diganggu ketika lagi menyetir.
“ya ya Ara percaya, dah papa… dah bu guru Riesya” tak lama kemudian Ara memutuskan sambungan telponnya.
“ya begitulah sikap keponakanku, kalau ada maunya harus dituruti….” ujar Biyon geleng-geleng kepala. Ariesya tersenyum melihat Biyon yang kewalahan menghadapi keponakannya itu. Baru pertama kali ini ia melihat seorang Biyon sejak pertama kali bertemu dengan Mr Dingin ini yang biasanya ahli mengendalikan keadaan kini harus menuruti perintah seorang gadis kecil yang lucu nan imut.
“ya namanya juga anak-anak…” ujar Ariesya tersenyum, Biyon menoleh dan membalas senyuman Ariesya. Ia hanya mengangkat bahunya. Rasanya senyuman gadis mungil ini membuat ia merasa tenteram dan damai, seketika itu juga rasa kesal dihatinya hilang. Selang beberapa menit kemudian mereka telah sampai dirumah Biyon. Melihat siapa yang turun dari mobil, Ara berlari memeluk Ariesya.
“horee… akhirnya bu guru Riesya datang juga, hari ini bu guru akan menemani Ara seharian benarkan?” ujar Ara manja tak lupa ia menagih janjinya. Ariesya mengangguk membenarkan perkataan Ara “ya benar”
“nah sekarang tugas papa sudah selesai, sekarang papa mau kembali kekantor” Biyon beranjak menuju kemobilnya di iringi anggukan Ara. “terima kasih juga sudah mengantar saya mengunjungi Ara” sambung Ariesya ketika Biyon membuka pintu mobilnya.
“ya sama-sama,… Ara jangan lupa makan ya terus ajak bu gurunya makan juga” Ariesya terkejut mendengar perkataan terakhir Biyon, ia tak menyangka kalau Biyon sampai memperhatikan dirinya kalau ia belum sempat makan.
“oke baik boss…” ujar Ara riang sambil memberi tanda hormat kepada Biyon. Melihat tingkah lucu Ara, Ariesya dan Biyon tertawa. “ummm… anda juga jangan lupa makan” ujar Ariesya malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
“tuh kan… papa dengar kata-kata bu guru Riesya, jangan lupa makan… kerja terus yang dipikirkan” Ara ikut-ikutan berkata, ia berkacak pinggang layaknya seperti wanita dewasa saja. Biyon menjitak kepala Ara. “gadis kecil, belajar dari mana kata-kata kayak gitu?” ujar Biyon gemas melihat tingkah laku Ara.
“dari mama, kalau mama lagi marahin papa” ungkap Ara polos.
“dasar anak muda sekarang, seharusnya kalau marahin suami atau istri jangan didepan anak-anak, mereka peniru ulung” ujar Biyon geleng-geleng kepala merasa prihatin melihat anak-anak jaman sekarang. Ia mengelus rambut Ara yang panjang bergelombang.
“nah sekarang papa mau berangkat, papa benar-benar telat nih…” ujar Biyon sambil melirik arloji ditangannya. Iapun bergegas masuk dan buru-buru menghidupkan mesin mobil. “maaf ya Riesya, gak bisa menemani kalian makan siang” sambung Biyon lagi. Iapun melambaikan tangannya dan mobilpun mulai bergerak meninggalkan kediamannya. Ariesya dan Ara masuk kerumah ketika mobil Biyon sudah tak terlihat lagi.
@@@@@@
“sukses besar… akhirnya rencana kita berjalan dengan lancar” ujar Bianca tersenyum puas ketika Ariesya dan Ara sudah berada dikamar Ara. “ya benar ma…” sambung Ara ikut-ikutan tertawa. Mereka saling tos, walaupun mereka tidak bisa saling bersentuhan.
“apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Ariesya sambil duduk ditepi ranjang.
“ada deh… bakalan ada kejutan buat mu Sya” ujar Bianca sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ara. “kejutan? Kejutan apa lagi sih? Aku gak suka kejutan!” suara Ariesya meninggi sedikit sambil menunjukkan wajah penasaran. “duh, apalagi yang bakalan 2 makhluk cantik ini perbuat padaku” batin Ariesya sedikit khawatir akan kejutan yang ia terima. Bianca dan Ara saling berpandangan dan kemudian tersenyum, mereka tak mau buka mulut. “apaan sih, pakai rahasia segala. Ayo beri tahu dong....” ujar Ariesya dengan nada memohon bercampur gusar. Yang ditanya malah makin bikin penasaran, Bianca hanya mengedikkan bahunya, sengaja ia tak menceritakan rencananya kali ini kepada gadis mungil didepannya ini. Ariesya makin jutek dibuat mereka berdua
“baiklah kalau gak mau beri tau, akan ku buat Ara bicara...” Ariesya kemudian menggelitiki perut Ara, yang membuat Ara berguling-guling diranjangnya. Bianca tertawa melihat pemandangan didepannya tanpa berbuat sesuatu.
“hahaha... bu guru geli tau! Hahaha...!” ujar Ara sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Ariesya, tapi Ariesya tak mau berhenti dan terus menggelitiki Ara hingga kapok dan mau bicara. “mau bicara gak?” ujar Ariesya merayu sambil tangannya tetap bergerilya diperut Ara. “gak, gak mauuuu...!” Ara tetap pada pendiriannya. Ariesya berhenti menggelitiki Ara ketika bi Sastri mengagetkan mereka.
“ehm... maaf menganggu nona, tapi saatnya makan siang!” Ara langsung melompat dari ranjangnya menjauh dari Ariesya kemudian tersenyum lega. “dan untuk nona Ara setelah makan, nanti minum obatnya ya!” bi Sastri kembali mengingatkan majikan kecilnya itu. Mendengar kata obat, Ara menggembungkan pipinya. Ternyata ia tak suka minum obat.
“biar Ara cepat sembuh kalau minum obat dan bisa bertemu kembali dengan teman-teman Ara” ujar Ariesya yang bisa mengerti perasaan Ara. Ara hanya mengangguk mengerti meskipun wajahnya sedikit cemberut karena akan meminum obatnya. Mereka pun beranjak keluar kamar setelah memberi tanda pada Bianca dan selang beberapa detik kemudian Bianca menghilang dari pandangan.
Bersambung ke Sebuah Fakta Part 10
Bersambung ke Sebuah Fakta Part 10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar