Sebuah Fakta Part 7

Teng-teng tepat jam 10 pagi anak-anak berhamburan keluar menemui jemputan masing-masing setelah bersalaman dengan Ariesya. Setelah memastikan anak-anak dijemput oleh jemputan masing-masing Ariesya bergegas menuju ruang guru.

“huff akhirnya selesai juga” gumam Ariesya mendaratkan pantatnya di kursi ruang guru.  Diedarkan pandangannya ke seisi ruangan, tampak 2 rekannya sudah bersiap-siap ingin pulang. Ia sendiri malas untuk berdiri & berjalan pulang, rasanya lelah sudah beberapa hari ini banyak kerjaan menumpuk, well bukan sibuk disekolah tapi sibuk  mengetik naskah novel, ia kadang mendapat kerjaan sampingan dari sahabatnya. Memang sahabatnya ini bekerja disebuah penerbitan & sepertinya novelnya harus segera diterbitin & jadilah Rista meminta bantuannya. Lumayan hasil uang dari mengetik dapat ia pergunakan untuk tambahan sehari-hari. Karena gaji sebagai guru TK sedikit kecil.

“Sya kita mau pulang dulu, kau belum ingin pulang?” ujar bu Rina yg umurnya 5 tahun  lebih tua dari Ariesya sambil membenarkan letak kacamatanya, ia memandang Ariesya yg masih enggan berpisah dengan kursinya.

“ya sepertinya begitu...” Ariesya menggerakkan bahunya. Kemudian 2 rekannya itu melenggang keluar. Tinggalah sekarang ini Ariesya sendirian, didongakannya kepalanya keatas sambil memejamkan matanya. Tak berapa lama ia membuka matanya, ia menghembuskan nafasnya. Tampak ia berpikir & matanya menerawang .Sudah 3 hari ini Ara tak masuk sekolah, dalam keterangan suratnya ia sakit. Dan ia sudah 3 hari ini juga tak bertemu Bianca. Mungkin Bianca khawatir sekali dengan anaknya meskipun ia sendiri tak bisa lagi merawat anaknya sendiri. Setidaknya ia bisa menghibur Ara. Pikir Ariesya ketika mengingat Bianca, ia tau benar perasaan Bianca sebagai ibu. Besok ia berencana akan mengunjungi Ara ingin mengetahui keadaan anak didiknya itu.

“hei, melamun aja”

Ariesya menoleh kearah pemilik suara yg tak asing lagi baginya, dilihatnya Bianca duduk dimeja diseberang tempat ia duduk. Melihat kemunculan Bianca ia tersenyum lebar, ada rasa rindu dihatinya. Padahal tidak bertemu 3 hari, Ariesya terhenyak sendiri dengan pikirannya. Ya meskipun lebih dari seminggu berkenalan rasanya ia sudah menjadi sahabat dekat. Bahkan ia & Bianca seperti bersaudara, iapun tak keberatan jika ia dipanggil kakak ipar oleh Bianca. Ia tersenyum-senyum sendiri memikirkan Biyon yg tampan, ia berandai-andai kalau ia menjadi istrinya. Husss itu tak mungkin terjadi, alam bawah sadarnya mengingatkan. & ya ampun, kenapa ia berpikiran sejauh itu. Ariesya menggelengkan kepalanya. Tanpa dia sadari Bianca memperhatikan tingkahnya yg tersenyum sendirian, apa Riesya lagi jatuh cinta ya? Bianca mengernyitkan dahinya.

“Sya kalau kau senyum-senyum terus seperti itu dikira orang kau sedikit gangguan jiwa tanpa berkata dengankupun kau sudah terlihat jelas”
Bianca membuyarkan lamunan Ariesya.

“eh,ya” Ariesya jadi salah tingkah didepan Bianca, membuat Bianca tertawa terpingkal-pingkal sedangkan Ariesya hanya mengerucutkan mulutnya sambil manyun.

“eh, gimana kabar sikecil? Udah sehat?” lanjut Ariesya

“ya udah mendingan, dibandingkan 2 hari yang lalu.”

“ya syukurlah kalau begitu, besok rencananya aku mau mengunjunginya”

“bagus, Ara pasti senang. Sepertinya ia senang dekat denganmu. Dan tentunya itu jalan untuk bisa menghubungkanmu dekat dengan Biyon.” Bianca sangat bersemangat.

“ya mau gimana lagi itulah jalan satu-satunya untuk memberitahukan tentang kebenaran dirimu, oh ya Bi, aku mau pulang dulu udah siang, nih perut mau minta jatah” ujar Ariesya sambil menunjuk perutnya yg sudah terasa lapar, Bianca mengangguk tanda mengerti & menghilang dalam beberapa detik. Ariesya berdiri sambil menyampirkan tasnya kebahu kemudian melangkah keluar.
                        ****

Ariesya berdiri mematung didepan pintu gerbang sebuah rumah mewah bergaya eropa yang dicat berwarna krem. Tanganya kanannya memegang keranjang kecil yg berisi beraneka buah-buahan segar & tangan kirinya memegang secarik kertas kecil. Berkali-kali ia melihat kertas yg berisikan alamat rumah yg ditujunya, ia tak mungkin salah ia sudah melihat datanya disekolah kemarin & tentunya sedikit petunjuk dari Bianca.  Ariesya menelan ludahnya & membasahi bibirnya dengan lidahnya yg sedikit kering. Kalau saja Bianca bisa menemaninya sebentar tentu ia bisa sedikit tenang. Ariesya menarik nafasnya & dihembuskannya perlahan-lahan sebelum jari-jarinya memencet bel didepan pintu pagar. Setelah nafasnya sudah sedikit teratur, barulah ia memencet bel. Selang beberapa menit kemudian pintu pagar kecil terbuka & seorang security berkumis sedikit menyeramkan yg berumur sekitar 35 tahun.

“maaf anda mau menemui siapa?” ujar security itu tegas.

“ummm perkenalkan saya Ariesya gurunya Ara, saya ingin mengunjungi Ara” jawab Ariesya sedikit takut.

Security itu melihat Ariesya dari bawah keatas dengan teliti & sepertinya memastikan apakah tamu bosnya itu mencurigakan atau tidak. Ia memegang kumis tipisnya & berpikir sejenak. Melihat dirinya diperhatikan seperti itu Ariesya sedikit grogi.

“tapi apakah anda sudah memiliki janji dengan pak Biyon sebelumnya bahwa anda diizinkan untuk menjenguk nona Ara?” tanya security itu menyelidik. Ariesya hanya menggeleng, ia tak tau bahwa ketemu dengan anak didiknya Ara harus membuat janji terlebih dahulu dengan Biyon. Kenapa Bianca tak menceritakannya terlebih dahulu kalau ketemu dengan Ara saja harus sesulit ini.

“maaf, karena anda tak punya izin dari pak Biyon sebelumnya anda tak bisa menemui nona Ara. Anda harus punya janji terlebih dahulu” ujar security itu tegas.

“tapi pak, saya kan gurunya. Saya hanya ingin berkunjung melihat kondisi Ara” ujar Ariesya memelas. Duh sulit banget  ngunjungin Ara, batin Ariesya. Security itu hanya menggeleng, ya mau gimana lagi ia hanya menjalankan tugas agar tetap aman. Security itu akan menutup pintu pagar kecil ketika mobil sedan mewah hitam berhenti didepan gerbang besar. Kemudian security itu membuka pagarnya, sebelum melaju lagi mobil itu berhenti didepan security itu lagi & sepertinya ia berbicara sesuatu. Tak lama kemudian muncul kepala dari balik pintu mobil, yang ternyata Biyon. Biyon pun tersenyum ketika ia mengetahui siapa tamu anak saudara kembarnya. Ariesya membalas senyuman dingin itu. Ah untunglah Biyon ada, batin Ariesya lega.

“saya kenal siapa dia pak, ini nona Riesya gurunya Ara” ujar Biyon kepada security itu. Security itu hanya  mengangguk mengerti.

“nona Riesya mari bareng saya saja kedalam” tawar Biyon kepada Ariesya yg sedari tadi seperti orang kebingungan.

“terima kasih” Akhirnya pikir Ariesya sangat lega lebih dari tadi. Security itu membukakan pintu samping supir & tersenyum ramah tak seperti sebelumnya.

“maafkan saya tadi sedikit kurang ramah” ujar security itu dengan wajah  bersalah.

“tak apa-apa pak, saya mengerti tugas anda” jawab Ariesya tersenyum ramah. Security itu menutup pintu mobil ketika Ariesya  sudah didalamnya. Biyon melambaikan tangannya & menjalankan mobilnya masuk. Ia dan Biyon sama-sama diam Ariesya sendiri tak berani membuka percakapan. Ia hanya memandang takjub kepada pemandangan yg dilihatnya.Disepanjang jalan menuju rumah mewah tersebut berjejer pohon palem kecil membentuk barisan pagar. Ditengah-tengahnya berbagai aneka ragam bunga yang sedang bermekaran. Membuat semakin indah pemandangan taman itu.
“terima kasih bu guru Riesya telah menjenguk Ara, ia pasti senang melihat anda” Biyon membuka percakapan diantara mereka. Matanya tetap pokus memandang kedepan tanpa menoleh ke Ariesya.

“ya sama-sama, itu sudah tugas saya memastikan bahwa anak didik saya baik-baik saja.” Ariesya menoleh kearah Biyon, ia memandang tak berkedip kearahnya. Sungguh tampan mahkluk laki-laki disampingnya ini, batin Ariesya. Dan tentunya ia bisa duduk sedekat ini dengannya membuat jantung Ariesya berdegup kencang tak karuan samar-samar ia mencium aroma parfum mahal keluar dari tubuh Biyon. Membuat Ariesya ingin sekali menyandarkan tubuhnya kedada bidang Biyon sambil menghirup aroma itu dalam-dalam, seperti apa rasanya ya?pikir Ariesya. Hus-hus jauhi pikiran itu, itu tak mungkin terjadi, alam bawah sadar Ariesya mengingatkannya, membuat Ariesya sedikit tak senang dengan perubahan itu. Sedikit menghayal tak apakan? Batin Ariesya lagi. Iapun memaksakan matanya kembali menyusuri jalanan indah tak ingin ia tertangkap basah oleh Biyon sedang memperhatikannya. Tak berapa lama mereka berhenti didepan rumah tersebut. Ariesya turun dari mobil mengikuti Biyon yg sudah didepannya. Tampak didepan pintu seorang wanita setengah baya sedang berdiri didepan pintu. Yang ternyata adalah kepala pelayan dirumah itu.

“bi Sastri bagaimana keadaan Ara?” ujar Biyon sambil menaiki tangga yg hanya 3 undakan.

“oh nona Ara baik-baik saja panasnya sudah makin turun mendekati normal. Sekarang ia sedang istirahat dikamar” jawab bibi Sastri dengan berwibawa, matanya kemudian tertuju kepada wanita dibelakang Biyon. Biyon mengerti tatapan bibi Sastri, kemudian ia mengenalkan Ariesya.

“bi kenalkan ini bu guru Riesya, gurunya Ara. & kenalkan ini bibi Sastri kepala pelayan disini sekaligus yg mengurusi Ara” ujar Biyon mengenalkan mereka berdua. Mereka saling berjabat tangan. Setelah mengetahui maksud kedatangan Ariesya ia kemudian membawa Ariesya ke lantai 2 tempat kamarnya Ara berada. Sekilas ia melirik Biyon yg mengekor mereka dari belakang & kemudian melewati mereka berdua yg berhenti didepan kamar Ara & Biyon pun masuk kekamar utama yang tentunya sangat besar. Bi Sastri membuka kamar Ara, ia melihat Ara sedang duduk memeluk boneka panda besar diranjangnya & disampingnya duduk Bianca. Diliriknya bi Sastri yg bertanya dalam hati apakah ia bisa melihat Bianca. Tapi Ariesya sepertinya sudah tau jawabannya tampak ia melihat ekspresi bi Sastri biasa saja yg hanya melihat Ara saja. Ara kemudian melihat kearah Ariesya matanya membuka lebar melihat siapa yg menjenguknya & tersenyum manis menghiasi mulutnya yg mungil. Iapun berlari menghambur kepelukan Ariesya, sejenak Ariesya kaget dengan tingkah Ara tapi kemudian ia menundukkan tubuhnya mensejajarkan tinggi Ara. Riesya membelai rambut panjang bergelombang pirang milik Ara. Kulit tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Ara yg masih sedikit panas. Melihat mereka berdua bi Sastri tersenyum, sudah lama ia tak melihat nona kecilnya ini tersenyum polos bahagia semenjak ibunya meninggal dunia. Dan tentunya nona kecilnya ini tak tau bahwa ibunya sudah meninggal, mereka hanya memberitahu bahwa ibunya pergi jauh keluar kota. Begitulah perintah tuan mudanya Biyon yg bermaksud baik. Ia kemudian mengundurkan diri memberi ruang pada Riesya & Ara. Setelah pintu ditutup barulah Ariesya bisa bernafas lega kemudian ia mengikuti Ara duduk diranjang. Ia meletakkan keranjang buah-buahan diatas meja disamping tempat tidur.

“bu Riesya aku kangen sekali, aku juga kangen sama teman-teman disekolah, dirumah membosankan gak ada teman” seru Ara sambil mengembungkan pipinya yg tampak membulat.

“iya bu Riesya tau kok, bu Riesya juga kangen begitu juga dengan teman-teman mereka juga kangen sama Ara, nanti kalau Ara sudah benar-benar sembuh Ara boleh kesekolah lagi” ujar Ariesya tersenyum. Ara hanya mengangguk riang.

“eh ma... lanjutin cerita tadi dong” Ara kemudian berkata pada Bianca yg sedari tadi tak beranjak dari sisi Ara.

“eh sudah waktunya mama pergi, sekarang waktunya bu Riesya yg mengambil alih” Bianca mengerlingkan matanya penuh arti pada Ariesya, Ariesya pun mengerti maksud Bianca ia hanya mengangguk.

“ya mama... kan ceritanya belum selesai” ujar Ara manja sambil menunjukkan wajah cemberut lucunya. Bianca hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.

“iya mama tau, tapi ini waktunya bu Riesya. Mama tak ingin mengganggu kalian berdua lagian kalau mama yang cerita kan nanti terdengar diluar ganjil apalagi kalau papa Biyon membuka pintu tiba-tiba. Ara taukan maksud mama?” dengan berat hati Ara menganggukkan kepalanya.

“dan ingat kan apa yg mama bicarakan tadi?” ujar Bianca lagi.

“yap...Ara ingat ma” Ara tersenyum sambil memberi tanda hormat pada Bianca. Membuat mereka semua tertawa. Tak butuh waktu lama Bianca pun sudah menghilang dari pandangan Ariesya & Ara. Apa sih yg dibicarakan Bianca pada Ara sepertinya rahasia, Ariesya mengernyitkan dahinya.
“ok, Ara. Sampai dimana mamamu tadi bercerita?” Ariesya membuka percakapan mereka. Ara mengambil sebuah buku cerita bergambar yg tergeletak tak jauh dari samping tempat ia duduk. Buku itu berjudul “ Cinderella”. Tak lama mereka terhanyut dengan cerita tersebut.
               ****
Biyon mengganti baju kantornya dengan baju kaos putih polos ditambah dengan celana jeans selutut. Membuatnya tampak lebih santai & makin tampan. Setelah lelah bekerja seharian, ditambah lagi ia tadi bekerja sedikit sekitar sejam sesampainya ia dirumah untuk memeriksa kembali dokumen dikantornya. Ya bagi seseorang yg gila kerja  seperti dirinya waktu adalah segalanya. Sejenak ia berpikir teringat dengan wanita mungil nan manis yg bersamanya tadi. Apa yang sekarang dilakukan Ariesya & Ara dikamar Ara ya? sudah hampir satu jam ia meninggalkan Ariesya  bersama Ara tanpa berkata sedikit pun dengannya. Entah kenapa ada getaran aneh dalam dadanya setiap ia berdekatan dengan gadis itu. Tak pernah ia merasakan ini sebelumnya kepada wanita manapun bahkan  dengan tunangannya sekalipun. Biyon menghela nafasnya, kemudian ia beranjak keluar & menuju kekamar Ara melihat keadaannya. Ketika ia sudah didepan pintu kamar Ara samar-samar ia mendengar suara tawa riang Ara. Tak pernah ia mendengar tawa lepas Ara setelah kepergian adik kembarnya Bianca. Bagaimana Ariesya bisa membuatnya tertawa selepas itu, bahkan tunangannya Monica saja tak bisa membuat Ara terhibur.

“cinderella akhirnya bertemu dengan pangerannya dan hidup...” kata-kata Ariesya terpotong saat ia melihat Biyon sudah berdiri didepan kamar Ara, memperhatikan mereka berdua.

“terus Cinderella hidup bagaimana bu Riesya?” celoteh Ara yang tak sabaran ingin mendengar cerita selanjutnya ia sangat menyimak ceritanya hingga tak memperhatikan keberadaan papanya Biyon. Tak seperti Ara, Ariesya sedikit gugup diperhatikan oleh Biyon dengan tatapan tajam.
“ehm...biar kutebak pasti Cinderella hidup bahagia selamanya bersama pangeran, iya kan?” Biyon akhirnya angkat bicara karena ia melihat Ariesya hanya diam saja memperhatikannya.

“papa...” teriak Ara ketika mengetahui siapa pemilik suara yang ikutan nimbrung ketika ia mendengarkan cerita dari Ariesya. Iapun seketika itu juga berlari kearah Biyon, yang langsung digendong oleh papanya itu. Ariesya hanya tersenyum melihat pemadangan antara Biyon & Ara.

“sepertinya badannya udah gak panas lagi” ujar Biyon sambil meraba kening Ara & tetap menggendongnya. Ara hanya mengangguk.

“berarti Ara besok bisa masuk sekolah lagi ya bu guru?” Ara menoleh kearah Ariesya yang masih tetap duduk diranjangnya.

“ya tentu saja boleh, tapi kalau Ara benar-benar sembuh” Ariesya tersenyum kepada Ara.

“ya benar apa yg dikatakan oleh bu guru Riesya, sepertinya Ara besok belum bisa kesekolah. Toh panasnya juga belum stabil, masih  suka kumat-kumatan” ujar Biyon lembut kepada Ara, iapun melangkah kearah ranjang & menurunkan Ara. Ara cemberut mendengar penjelasan Biyon ditambah lagi ia enggan untuk turun dari gendongannya Biyon.

“ya papa, tapikan Ara mau cepat-cepat kesekolah biar bisa ketemu teman-teman, kalau dirumah sepi membosankan.” Ujar Ara dengan wajah cemberut terbersit diwajahnya yang putih polos tampak kesepian. Ia meringkuk sambil memeluk boneka beruang besar. Biyonpun mengusap kepala Ara dengan lembut & duduk disamping Ara.
“ya mau gimana lagi, Ara kan masih sakit. Benarkan bu guru Riesya?” Biyon memandang Ariesya menegaskan bahwa perkataannya benar yang di ikuti anggukan Ariesya.

“ya benar Ra apa yang dikatakan oleh papamu, karena besok Ara belum bisa kesekolah sebagai gantinya ibu yang akan mengunjungimu lagi. Bagaimana???”

“mau mau, mau banget bu Riesya” Ara melompat kegirangan sambil memeluk Ariesya. Ariesya kaget mendapat pelukan mendadak dari Ara. Iapun membelai rambut pirang bergelombang milik Ara. Hmmm... coba yang memeluknya ini adalah Mr dingin yang duduk disamping mereka. Ariesya hanya tersenyum kecil membayangkan pikirannya yang tak karuan ini, ya semenjak ia bertemu dengan Mr dingin ini ia selalu berfantasi liar. Ariesya segera mengusir hal-hal aneh dikepalanya. Sedangkan Biyon memperhatikan Ariesya & Ara sambil tersenyum. Semenjak Ara bertemu dengan Ariesya guru barunya ini ia banyak tersenyum, sebelumnya setelah kepergian Bianca, Ara hanya diam. Entah apa yg dipikirkannya, apakah anak umur kurang dari 5 tahun sudah mengerti arti kehilangan ibunya? Tapi sekarang ia  sungguh senang melihat perubahan Ara & itu karena wanita mungil ini, pikir Biyon.

“bu guru Riesya janji ya besok mau nengokin Ara lagi?” ujar Ara seraya melepaskan pelukannya. Ariesya tersenyum & mengaitkan jari kelingkingnya ke Ara. Satu langkah lagi jalan yang terbuka untuk mendekati Biyon & mengungkapkan kebenaranya, pikir Ariesya.

“eh sudah sore nih, ibu mau pulang dulu yach” Ariesya melihat jam dinding yang terletak tepat didepan ranjang Ara.

“ya bu Riesya, nanti aja yach pulangnya” rengek Ara yang tak rela Ariesya pulang. Ariesya hanya menghela nafasnya, ia pun begitu sebenarnya belum ingin pulang masih ingin berada didekat Ara & terlebih lagi dengan si Mr dingin ini.
“sebenarnya ibu juga belum mau pulang, tapi... ibu masih banyak kerjaan & lagi sepertinya hari akan hujan” Ariesya memberikan penjelasan sambil melihat keluar jendela, cuaca tampak mendung awan hitam sudah bergumpal-gumpal sepertinya akan turun hujan deras & dirinya harus segera pulang kalau tidak ingin basah kuyup ditengah jalan atau mungkin dia akan terjebak dirumah ini sambil menunggu hujan reda. Iapun menjatuhkan pilihan pertamanya & harus segera pulang.

“benar  apa yg dikatakan oleh bu Riesya, Ara” ujar Biyon menimpali yang sedari tadi hanya diam & terus memperhatikan mereka saja. Ada segurat kekecewaan diwajah polos Ara, ia masih ingin tetap bersama Ariesya menemaninya.

“ya baiklah... tapi mulai besok bu Riesya harus mengunjungi Ara sampai Ara benar-benar sembuh” Ara mengingatkan janijnya pada Ariesya dengan nada sedikit memaksa & harus ditepati. Ckkk benar-benar mirip sifatnya dengan Mr dingin ini, ya eyalah namanya juga dua seponakan, batin Ariesya. Ariesya hanya mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya.

“baiklah kalau begitu, aku pulang dulu yach”  ujar Ariesya berpamitan seraya mengelus rambut Ara.

“eh, kalau bu Riesya gak keberatan biar aku antar sampai rumah, sepertinya mau hujan deras nih” Biyon menawarkan bantuan sambil beranjak dari tempat duduknya. Ariesya menoleh kearah Biyon yang berjalan kearah pintu & berdiri disana.

“ tak usah repot-repot pak Biyon, saya bisa pulang sendiri kok” ujar Ariesya meyakinkan tapi dilubuk hatinya ia ingin benar diantar oleh Mr dingin ini. Tapi sepertinya keberuntungan berpihak lagi padanya.

“tak apa-apa bu Riesya, lagian sepertinya mau hujan deras nih. Nanti bu Riesya bisa kehujanan dijalan & jatuh sakit pula. Terus gak ada yang mengunjungin Ara lagi” canda Biyon sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Ara yang tertawa sambil menganguk-angguk setuju. Ariesya hanya tersipu malu, tak disangka Mr dingin ini bisa juga bercanda & tertawa lepas, batin Ariesya. Ada begitu banyak sifat hangat dibalik wajahnya yang dingin itu & misteri yang tak diketahui oleh Ariesya selama ini.
“ya baiklah... sepertinya aku tak punya pilihan” ujar Ariesya mengalah & tersenyum pada Biyon. Sekali lagi sebelum keluar kamar Ariesya mengelus rambut Ara dengan kasih sayang seperti seorang ibu membuat Ara merasa tenang & damai. Biyon memperhatikan mereka dengan tajam tanpa berkedip, ada rasa keakraban yang terjalin diantara keponakan & gurunya itu. Seperti ada ikatan batin yang kuat yang tak terlihat. Yaah kalau dilihat seperti ibu & anak benaran saja, pikir Biyon.
Biyon & Ariesya menuruni anak tangga & berhenti ketika mereka berpapasan dengan seorang wanita cantik & sedikit berpakaian seksi dengan model rambut lurus & sedikit diwarnai pirang karena rambut aslinya berwarna hitam yg dipotong pendek,tampaknya ia sebaya dengan Biyon & terlebih lagi ia lebih tinggi dari Ariesya bahkan Ariesya kelihatan pendek karena wanita itu memakai sepatu berhak sangat tinggi. Membuat Ariesya sedikit minder bila ia dibandingkan dengan wanita itu. Mata Ariesya kemudian beralih kepada pria disebelah wanita itu. Pria ini tampan juga meski tak setampan Mr dingin disebelahnya ini & lagi-lagi tak setinggi Mr dingin juga. Ariesya membandingkan pria itu dengan Mr dingin disebelahnya sama seperti ia membandingkan dirinya dengan wanita itu. 
Dan membuat Ariesya sedikit mengerutkan dahinya adalah ia merasakan hawa jahat di mereka berdua. Dan jangan-jangan... firasatnya mengatakan kalau mereka adalah....Deg...
“perkenalkan bu Riesya, ini adalah tunangan saya... Monica Clara. Dan Monica ini adalah Ariesya Rusdi gurunya Ara” ujar Biyon mengenalkan mereka berdua. Mereka saling berjabat tangan & tersenyum. Benar dugaannya tak salah lagi merekalah yg dibicarakan oleh Bianca, pikir Ariesya.
“dan lelaki disebelahnya ini adalah mantan suami adik kembarku Bianca, Bayu Pratama” Biyon kembali mengenalkan mereka berdua. Ariesya tersenyum simpul, ya sebenarnya ia sudah mengenal nama mereka terlebih dahulu tanpa mengetahui wajah mereka, pikir Ariesya. Ariesya memandang Monica yg bergelayut manja dibahu Biyon. Ada rasa cemburu menghampirinya, apa cemburu??? Batin Ariesya, hus-hus menjauhlah dari pikiranku. Ariesya menekan pikirannya itu jauh-jauh.
“eh, kok kalian bisa datang secara bersamaan?” ujar Biyon kepada Monica & Bayu,sambil mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Ye tentu saja, kan mereka punya hubungan spesial. Kasihan kamu Biyon dibohongi oleh mereka berdua, ujar Ariesya dalam hati merasa prihatin pada Biyon. Monica & Bayu saling berpandangan  kemudian tersenyum dipaksa.
“oh, itu... kebetulan aku bertemu Monic didepan salon sedang menunggu taksi & memberinya tumpangan, katanya sih mau ketemu kamu Biyon & aku ingin melihat Ara” ujar Bayu memberi penjelasan panjang lebar diiringi anggukan oleh Monica. Huh alasan saja, padahal mungkin mereka dari rumah Bianca sedang bermesraan, gerutu Ariesya dalam hati mendengar penjelasan mereka berdua. Ariesya benar-benar geregetan melihat kebohongan mereka. Iapun memperhatikan mereka dengan tatapan dongkol tapi tak ia tampakkan didepan mereka apalagi didepan Biyon. Bisa-bisa Biyon menganggapnya orang aneh karena membenci orang yang barusan dikenal. Lama mereka berempat diam dengan pikiran masing-masing.
“ehmmm...” Ariesya berdehem membuat keheningan diantara mereka berempat mencair sedikit.
“kalau begitu pak Biyon aku pulang dulu” Ariesya kembali mengingatkan Biyon.
“tunggu sebentar, aku sudah janji padamu bahwa aku akan mengantarmu. Baiklah Monica kutinggal sebentar ya, aku mau mengantar gurunya Ara pulang dulu”  ujar Biyon melepaskan tangan Monica yang sedari tadi bergelayut ditubuh Biyon. Kemudia Biyon memperhatikan penampilan Monica & sedikit agak terganggu. Monica memakai Dress selutut yang bagian dadanya terbuka lebar.
“Monica bisa gak sih kamu berpakaian sopan sedikit, apalagi kalau berkunjung kerumahku & dilihat oleh Ara” untuk kesekian kalinya Biyon mengingatkan Monica yang berpakain kurang pantas apabila bertamu dirumahnya. Monica cemberut tak setuju dengan komentar Biyon yang tak suka cara dia berpenampilan.
“ya suka-suka aku dong...lagian aku berdandan kayak gini juga biar aku kelihatan cantik & pastinya aku berdandan kayak gini juga untukmu” kilah Monica kembali bergelayut manja. Ariesya yang mendengarnya mencibir dalam hati.
“tapi kan Monic, cantik itu tak perlu dengan berpakaian seksi apalagi dengan bagian dada yang terbuka begitu. Dan tentunya kamu tak perlu berdandan seperti ini untukku.” Ujar Biyon tegas & melepaskan kembali tangan Monica. Ariesya mengangguk setuju dengan perkataan Biyon. Biyon menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar jengkel dengan tingkah Monica. Kadang ia tak mengerti dengan jalan pikiran Monica & itu sering menciptakan pertengkaran-pertengkaran kecil diantara mereka, ya karena mereka sama-sama keras kepala.
“terserah kau saja Monic, cukup kali ini saja aku mengingatkanmu. Atau...kau tau sendirilah akibatnya, aku tak mau berdebat lagi denganmu” ucap Biyon dengan tegas. Monica makin cemberut mendengar perkataan Biyon yang tegas, ia tau benar sifat Biyon yang satu ini. Kalau ia bilang harus berarti mesti dikerjakan.
“oh ya maaf bu Riesya harus mendengarkan perdebatan kecil kami tadi...baiklah mari sekarang aku antar” Biyon berkata kepada Ariesya, ia tau gadis mungil ini mendengar percakapan mereka tadi.
“tak apa-apa pak Biyon, saya maklum kok” ujar Ariesya tersenyum dalam penuh arti. Eh kalau sekarang Biyon yang mengantarnya terus siapa yang akan menjaga Ara? Kalau Ara ditinggalkan sebentar bersama Monica & Bayu bisa gawat nih. Tiba-tiba hal itu baru kepikiran olehnya, ini tak boleh dibiarkan. Tadi Ara aman-aman saja kalau ia ditinggalkan bersama bi  Sastri tapi kalau dirumah ini bertambah dengan dua orang jahat ini berarti Ara tak aman dong.
“eh pak Biyon, sepertinya anda tak usah mengantar saya. Kasihan Ara sendirian, lagian gak enak sama nona Monica yang barusan datang ingin menjenguk anda” ujar Ariesya sambil melirik Monica yang berdiri disamping Biyon. Pada mulanya Biyon menolak alasan Ariesya, tapi karena Ariesya tetap dengan alasannya yang sedikit agak memaksa. Ya itu demi keselamatan Ara & Biyon juga sih meski sekarang si Mr dingin ini tak tau alasan yg sebenarnya,batin Ariesya.
“ya baiklah kalau bu Riesya tetap ingin pulang sendirian... saya doakan semoga anda tak kehujanan dijalan...” ujar Biyon menyerah akan keputusan Ariesya.

“tapi semoga yang ini anda tak menolaknya bu Riesya...saya sudah menyuruh pak Marwan untuk mengantar anda” kembali Biyon berkata dengan nada tegas & memerintah. Membuat Ariesya meneguk ludahnya sendiri, benar-benar sifat Mr dingin, pikirnya. Ariesya akhirnya mengikuti perkataan Biyon dengan hati sedikit berat biarlah ia diantar supirnya Biyon, daripada ia harus meninggalkan Ara dengan 2 makhluk jahat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar