Teng-teng
tepat jam 10 pagi anak-anak berhamburan keluar menemui jemputan masing-masing
setelah bersalaman dengan Ariesya. Setelah memastikan anak-anak dijemput oleh
jemputan masing-masing Ariesya bergegas menuju ruang guru.
“huff
akhirnya selesai juga” gumam Ariesya mendaratkan pantatnya di kursi ruang
guru. Diedarkan pandangannya ke seisi
ruangan, tampak 2 rekannya sudah bersiap-siap ingin pulang. Ia sendiri malas
untuk berdiri & berjalan pulang, rasanya lelah sudah beberapa hari ini
banyak kerjaan menumpuk, well bukan sibuk disekolah tapi sibuk mengetik naskah novel, ia kadang mendapat
kerjaan sampingan dari sahabatnya. Memang sahabatnya ini bekerja disebuah
penerbitan & sepertinya novelnya harus segera diterbitin & jadilah
Rista meminta bantuannya. Lumayan hasil uang dari mengetik dapat ia pergunakan
untuk tambahan sehari-hari. Karena gaji sebagai guru TK sedikit kecil.
“Sya
kita mau pulang dulu, kau belum ingin pulang?” ujar bu Rina yg umurnya 5
tahun lebih tua dari Ariesya sambil
membenarkan letak kacamatanya, ia memandang Ariesya yg masih enggan berpisah
dengan kursinya.
“ya
sepertinya begitu...” Ariesya menggerakkan bahunya. Kemudian 2 rekannya itu
melenggang keluar. Tinggalah sekarang ini Ariesya sendirian, didongakannya
kepalanya keatas sambil memejamkan matanya. Tak berapa lama ia membuka matanya,
ia menghembuskan nafasnya. Tampak ia berpikir & matanya menerawang .Sudah 3
hari ini Ara tak masuk sekolah, dalam keterangan suratnya ia sakit. Dan ia
sudah 3 hari ini juga tak bertemu Bianca. Mungkin Bianca khawatir sekali dengan
anaknya meskipun ia sendiri tak bisa lagi merawat anaknya sendiri. Setidaknya
ia bisa menghibur Ara. Pikir Ariesya ketika mengingat Bianca, ia tau benar
perasaan Bianca sebagai ibu. Besok ia berencana akan mengunjungi Ara ingin
mengetahui keadaan anak didiknya itu.
“hei,
melamun aja”
Ariesya
menoleh kearah pemilik suara yg tak asing lagi baginya, dilihatnya Bianca duduk
dimeja diseberang tempat ia duduk. Melihat kemunculan Bianca ia tersenyum
lebar, ada rasa rindu dihatinya. Padahal tidak bertemu 3 hari, Ariesya
terhenyak sendiri dengan pikirannya. Ya meskipun lebih dari seminggu berkenalan
rasanya ia sudah menjadi sahabat dekat. Bahkan ia & Bianca seperti
bersaudara, iapun tak keberatan jika ia dipanggil kakak ipar oleh Bianca. Ia
tersenyum-senyum sendiri memikirkan Biyon yg tampan, ia berandai-andai kalau ia
menjadi istrinya. Husss itu tak mungkin terjadi, alam bawah sadarnya
mengingatkan. & ya ampun, kenapa ia berpikiran sejauh itu. Ariesya
menggelengkan kepalanya. Tanpa dia sadari Bianca memperhatikan tingkahnya yg tersenyum
sendirian, apa Riesya lagi jatuh cinta ya? Bianca mengernyitkan dahinya.
“Sya
kalau kau senyum-senyum terus seperti itu dikira orang kau sedikit gangguan
jiwa tanpa berkata dengankupun kau sudah terlihat jelas”
Bianca
membuyarkan lamunan Ariesya.
“eh,ya”
Ariesya jadi salah tingkah didepan Bianca, membuat Bianca tertawa
terpingkal-pingkal sedangkan Ariesya hanya mengerucutkan mulutnya sambil
manyun.
“eh,
gimana kabar sikecil? Udah sehat?” lanjut Ariesya
“ya
udah mendingan, dibandingkan 2 hari yang lalu.”
“ya
syukurlah kalau begitu, besok rencananya aku mau mengunjunginya”
“bagus,
Ara pasti senang. Sepertinya ia senang dekat denganmu. Dan tentunya itu jalan
untuk bisa menghubungkanmu dekat dengan Biyon.” Bianca sangat bersemangat.
“ya
mau gimana lagi itulah jalan satu-satunya untuk memberitahukan tentang
kebenaran dirimu, oh ya Bi, aku mau pulang dulu udah siang, nih perut mau minta
jatah” ujar Ariesya sambil menunjuk perutnya yg sudah terasa lapar, Bianca
mengangguk tanda mengerti & menghilang dalam beberapa detik. Ariesya
berdiri sambil menyampirkan tasnya kebahu kemudian melangkah keluar.
****
Ariesya
berdiri mematung didepan pintu gerbang sebuah rumah mewah bergaya eropa yang
dicat berwarna krem. Tanganya kanannya memegang keranjang kecil yg berisi
beraneka buah-buahan segar & tangan kirinya memegang secarik kertas kecil.
Berkali-kali ia melihat kertas yg berisikan alamat rumah yg ditujunya, ia tak
mungkin salah ia sudah melihat datanya disekolah kemarin & tentunya sedikit
petunjuk dari Bianca. Ariesya menelan
ludahnya & membasahi bibirnya dengan lidahnya yg sedikit kering. Kalau saja
Bianca bisa menemaninya sebentar tentu ia bisa sedikit tenang. Ariesya menarik
nafasnya & dihembuskannya perlahan-lahan sebelum jari-jarinya memencet bel
didepan pintu pagar. Setelah nafasnya sudah sedikit teratur, barulah ia
memencet bel. Selang beberapa menit kemudian pintu pagar kecil terbuka &
seorang security berkumis sedikit menyeramkan yg berumur sekitar 35 tahun.
“maaf
anda mau menemui siapa?” ujar security itu tegas.
“ummm
perkenalkan saya Ariesya gurunya Ara, saya ingin mengunjungi Ara” jawab Ariesya
sedikit takut.
Security
itu melihat Ariesya dari bawah keatas dengan teliti & sepertinya memastikan
apakah tamu bosnya itu mencurigakan atau tidak. Ia memegang kumis tipisnya
& berpikir sejenak. Melihat dirinya diperhatikan seperti itu Ariesya
sedikit grogi.
“tapi
apakah anda sudah memiliki janji dengan pak Biyon sebelumnya bahwa anda
diizinkan untuk menjenguk nona Ara?” tanya security itu menyelidik. Ariesya
hanya menggeleng, ia tak tau bahwa ketemu dengan anak didiknya Ara harus
membuat janji terlebih dahulu dengan Biyon. Kenapa Bianca tak menceritakannya
terlebih dahulu kalau ketemu dengan Ara saja harus sesulit ini.
“maaf,
karena anda tak punya izin dari pak Biyon sebelumnya anda tak bisa menemui nona
Ara. Anda harus punya janji terlebih dahulu” ujar security itu tegas.
“tapi
pak, saya kan gurunya. Saya hanya ingin berkunjung melihat kondisi Ara” ujar
Ariesya memelas. Duh sulit banget
ngunjungin Ara, batin Ariesya. Security itu hanya menggeleng, ya mau
gimana lagi ia hanya menjalankan tugas agar tetap aman. Security itu akan
menutup pintu pagar kecil ketika mobil sedan mewah hitam berhenti didepan
gerbang besar. Kemudian security itu membuka pagarnya, sebelum melaju lagi
mobil itu berhenti didepan security itu lagi & sepertinya ia berbicara
sesuatu. Tak lama kemudian muncul kepala dari balik pintu mobil, yang ternyata
Biyon. Biyon pun tersenyum ketika ia mengetahui siapa tamu anak saudara
kembarnya. Ariesya membalas senyuman dingin itu. Ah untunglah Biyon ada, batin
Ariesya lega.
“saya
kenal siapa dia pak, ini nona Riesya gurunya Ara” ujar Biyon kepada security
itu. Security itu hanya mengangguk
mengerti.
“nona
Riesya mari bareng saya saja kedalam” tawar Biyon kepada Ariesya yg sedari tadi
seperti orang kebingungan.
“terima
kasih” Akhirnya pikir Ariesya sangat lega lebih dari tadi. Security itu
membukakan pintu samping supir & tersenyum ramah tak seperti sebelumnya.
“maafkan
saya tadi sedikit kurang ramah” ujar security itu dengan wajah bersalah.
“tak
apa-apa pak, saya mengerti tugas anda” jawab Ariesya tersenyum ramah. Security
itu menutup pintu mobil ketika Ariesya
sudah didalamnya. Biyon melambaikan tangannya & menjalankan mobilnya
masuk. Ia dan Biyon sama-sama diam Ariesya sendiri tak berani membuka
percakapan. Ia hanya memandang takjub kepada pemandangan yg
dilihatnya.Disepanjang jalan menuju rumah mewah tersebut berjejer pohon palem
kecil membentuk barisan pagar. Ditengah-tengahnya berbagai aneka ragam bunga
yang sedang bermekaran. Membuat semakin indah pemandangan taman itu.
“terima
kasih bu guru Riesya telah menjenguk Ara, ia pasti senang melihat anda” Biyon
membuka percakapan diantara mereka. Matanya tetap pokus memandang kedepan tanpa
menoleh ke Ariesya.
“ya
sama-sama, itu sudah tugas saya memastikan bahwa anak didik saya baik-baik saja.”
Ariesya menoleh kearah Biyon, ia memandang tak berkedip kearahnya. Sungguh
tampan mahkluk laki-laki disampingnya ini, batin Ariesya. Dan tentunya ia bisa
duduk sedekat ini dengannya membuat jantung Ariesya berdegup kencang tak karuan
samar-samar ia mencium aroma parfum mahal keluar dari tubuh Biyon. Membuat
Ariesya ingin sekali menyandarkan tubuhnya kedada bidang Biyon sambil menghirup
aroma itu dalam-dalam, seperti apa rasanya ya?pikir Ariesya. Hus-hus jauhi
pikiran itu, itu tak mungkin terjadi, alam bawah sadar Ariesya mengingatkannya,
membuat Ariesya sedikit tak senang dengan perubahan itu. Sedikit menghayal tak
apakan? Batin Ariesya lagi. Iapun memaksakan matanya kembali menyusuri jalanan
indah tak ingin ia tertangkap basah oleh Biyon sedang memperhatikannya. Tak berapa
lama mereka berhenti didepan rumah tersebut. Ariesya turun dari mobil mengikuti
Biyon yg sudah didepannya. Tampak didepan pintu seorang wanita setengah baya
sedang berdiri didepan pintu. Yang ternyata adalah kepala pelayan dirumah itu.
“bi
Sastri bagaimana keadaan Ara?” ujar Biyon sambil menaiki tangga yg hanya 3
undakan.
“oh
nona Ara baik-baik saja panasnya sudah makin turun mendekati normal. Sekarang
ia sedang istirahat dikamar” jawab bibi Sastri dengan berwibawa, matanya
kemudian tertuju kepada wanita dibelakang Biyon. Biyon mengerti tatapan bibi
Sastri, kemudian ia mengenalkan Ariesya.
“bi
kenalkan ini bu guru Riesya, gurunya Ara. & kenalkan ini bibi Sastri kepala
pelayan disini sekaligus yg mengurusi Ara” ujar Biyon mengenalkan mereka
berdua. Mereka saling berjabat tangan. Setelah mengetahui maksud kedatangan
Ariesya ia kemudian membawa Ariesya ke lantai 2 tempat kamarnya Ara berada.
Sekilas ia melirik Biyon yg mengekor mereka dari belakang & kemudian
melewati mereka berdua yg berhenti didepan kamar Ara & Biyon pun masuk
kekamar utama yang tentunya sangat besar. Bi Sastri membuka kamar Ara, ia
melihat Ara sedang duduk memeluk boneka panda besar diranjangnya &
disampingnya duduk Bianca. Diliriknya bi Sastri yg bertanya dalam hati apakah
ia bisa melihat Bianca. Tapi Ariesya sepertinya sudah tau jawabannya tampak ia
melihat ekspresi bi Sastri biasa saja yg hanya melihat Ara saja. Ara kemudian
melihat kearah Ariesya matanya membuka lebar melihat siapa yg menjenguknya
& tersenyum manis menghiasi mulutnya yg mungil. Iapun berlari menghambur
kepelukan Ariesya, sejenak Ariesya kaget dengan tingkah Ara tapi kemudian ia
menundukkan tubuhnya mensejajarkan tinggi Ara. Riesya membelai rambut panjang
bergelombang pirang milik Ara. Kulit tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Ara yg
masih sedikit panas. Melihat mereka berdua bi Sastri tersenyum, sudah lama ia
tak melihat nona kecilnya ini tersenyum polos bahagia semenjak ibunya meninggal
dunia. Dan tentunya nona kecilnya ini tak tau bahwa ibunya sudah meninggal,
mereka hanya memberitahu bahwa ibunya pergi jauh keluar kota. Begitulah
perintah tuan mudanya Biyon yg bermaksud baik. Ia kemudian mengundurkan diri
memberi ruang pada Riesya & Ara. Setelah pintu ditutup barulah Ariesya bisa
bernafas lega kemudian ia mengikuti Ara duduk diranjang. Ia meletakkan
keranjang buah-buahan diatas meja disamping tempat tidur.
“bu
Riesya aku kangen sekali, aku juga kangen sama teman-teman disekolah, dirumah
membosankan gak ada teman” seru Ara sambil mengembungkan pipinya yg tampak
membulat.
“iya
bu Riesya tau kok, bu Riesya juga kangen begitu juga dengan teman-teman mereka
juga kangen sama Ara, nanti kalau Ara sudah benar-benar sembuh Ara boleh
kesekolah lagi” ujar Ariesya tersenyum. Ara hanya mengangguk riang.
“eh
ma... lanjutin cerita tadi dong” Ara kemudian berkata pada Bianca yg sedari
tadi tak beranjak dari sisi Ara.
“eh
sudah waktunya mama pergi, sekarang waktunya bu Riesya yg mengambil alih”
Bianca mengerlingkan matanya penuh arti pada Ariesya, Ariesya pun mengerti
maksud Bianca ia hanya mengangguk.
“ya
mama... kan ceritanya belum selesai” ujar Ara manja sambil menunjukkan wajah
cemberut lucunya. Bianca hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.
“iya
mama tau, tapi ini waktunya bu Riesya. Mama tak ingin mengganggu kalian berdua
lagian kalau mama yang cerita kan nanti terdengar diluar ganjil apalagi kalau
papa Biyon membuka pintu tiba-tiba. Ara taukan maksud mama?” dengan berat hati
Ara menganggukkan kepalanya.
“dan
ingat kan apa yg mama bicarakan tadi?” ujar Bianca lagi.
“yap...Ara
ingat ma” Ara tersenyum sambil memberi tanda hormat pada Bianca. Membuat mereka
semua tertawa. Tak butuh waktu lama Bianca pun sudah menghilang dari pandangan
Ariesya & Ara. Apa sih yg dibicarakan Bianca pada Ara sepertinya rahasia,
Ariesya mengernyitkan dahinya.
“ok,
Ara. Sampai dimana mamamu tadi bercerita?” Ariesya membuka percakapan mereka.
Ara mengambil sebuah buku cerita bergambar yg tergeletak tak jauh dari samping
tempat ia duduk. Buku itu berjudul “ Cinderella”. Tak lama mereka terhanyut
dengan cerita tersebut.
****
Biyon
mengganti baju kantornya dengan baju kaos putih polos ditambah dengan celana
jeans selutut. Membuatnya tampak lebih santai & makin tampan. Setelah lelah
bekerja seharian, ditambah lagi ia tadi bekerja sedikit sekitar sejam
sesampainya ia dirumah untuk memeriksa kembali dokumen dikantornya. Ya bagi
seseorang yg gila kerja seperti dirinya
waktu adalah segalanya. Sejenak ia berpikir teringat dengan wanita mungil nan manis
yg bersamanya tadi. Apa yang sekarang dilakukan Ariesya & Ara dikamar Ara
ya? sudah hampir satu jam ia meninggalkan Ariesya bersama Ara tanpa berkata sedikit pun
dengannya. Entah kenapa ada getaran aneh dalam dadanya setiap ia berdekatan
dengan gadis itu. Tak pernah ia merasakan ini sebelumnya kepada wanita manapun
bahkan dengan tunangannya sekalipun.
Biyon menghela nafasnya, kemudian ia beranjak keluar & menuju kekamar Ara
melihat keadaannya. Ketika ia sudah didepan pintu kamar Ara samar-samar ia
mendengar suara tawa riang Ara. Tak pernah ia mendengar tawa lepas Ara setelah
kepergian adik kembarnya Bianca. Bagaimana Ariesya bisa membuatnya tertawa
selepas itu, bahkan tunangannya Monica saja tak bisa membuat Ara terhibur.
“cinderella
akhirnya bertemu dengan pangerannya dan hidup...” kata-kata Ariesya terpotong
saat ia melihat Biyon sudah berdiri didepan kamar Ara, memperhatikan mereka
berdua.
“terus
Cinderella hidup bagaimana bu Riesya?” celoteh Ara yang tak sabaran ingin
mendengar cerita selanjutnya ia sangat menyimak ceritanya hingga tak
memperhatikan keberadaan papanya Biyon. Tak seperti Ara, Ariesya sedikit gugup
diperhatikan oleh Biyon dengan tatapan tajam.
“ehm...biar
kutebak pasti Cinderella hidup bahagia selamanya bersama pangeran, iya kan?”
Biyon akhirnya angkat bicara karena ia melihat Ariesya hanya diam saja
memperhatikannya.
“papa...”
teriak Ara ketika mengetahui siapa pemilik suara yang ikutan nimbrung ketika ia
mendengarkan cerita dari Ariesya. Iapun seketika itu juga berlari kearah Biyon,
yang langsung digendong oleh papanya itu. Ariesya hanya tersenyum melihat
pemadangan antara Biyon & Ara.
“sepertinya
badannya udah gak panas lagi” ujar Biyon sambil meraba kening Ara & tetap
menggendongnya. Ara hanya mengangguk.
“berarti
Ara besok bisa masuk sekolah lagi ya bu guru?” Ara menoleh kearah Ariesya yang
masih tetap duduk diranjangnya.
“ya
tentu saja boleh, tapi kalau Ara benar-benar sembuh” Ariesya tersenyum kepada
Ara.
“ya
benar apa yg dikatakan oleh bu guru Riesya, sepertinya Ara besok belum bisa
kesekolah. Toh panasnya juga belum stabil, masih suka kumat-kumatan” ujar Biyon lembut kepada
Ara, iapun melangkah kearah ranjang & menurunkan Ara. Ara cemberut
mendengar penjelasan Biyon ditambah lagi ia enggan untuk turun dari
gendongannya Biyon.
“ya
papa, tapikan Ara mau cepat-cepat kesekolah biar bisa ketemu teman-teman, kalau
dirumah sepi membosankan.” Ujar Ara dengan wajah cemberut terbersit diwajahnya
yang putih polos tampak kesepian. Ia meringkuk sambil memeluk boneka beruang
besar. Biyonpun mengusap kepala Ara dengan lembut & duduk disamping Ara.
“ya
mau gimana lagi, Ara kan masih sakit. Benarkan bu guru Riesya?” Biyon memandang
Ariesya menegaskan bahwa perkataannya benar yang di ikuti anggukan Ariesya.
“ya
benar Ra apa yang dikatakan oleh papamu, karena besok Ara belum bisa kesekolah
sebagai gantinya ibu yang akan mengunjungimu lagi. Bagaimana???”
“mau
mau, mau banget bu Riesya” Ara melompat kegirangan sambil memeluk Ariesya.
Ariesya kaget mendapat pelukan mendadak dari Ara. Iapun membelai rambut pirang
bergelombang milik Ara. Hmmm... coba yang memeluknya ini adalah Mr dingin yang
duduk disamping mereka. Ariesya hanya tersenyum kecil membayangkan pikirannya
yang tak karuan ini, ya semenjak ia bertemu dengan Mr dingin ini ia selalu
berfantasi liar. Ariesya segera mengusir hal-hal aneh dikepalanya. Sedangkan
Biyon memperhatikan Ariesya & Ara sambil tersenyum. Semenjak Ara bertemu
dengan Ariesya guru barunya ini ia banyak tersenyum, sebelumnya setelah
kepergian Bianca, Ara hanya diam. Entah apa yg dipikirkannya, apakah anak umur
kurang dari 5 tahun sudah mengerti arti kehilangan ibunya? Tapi sekarang
ia sungguh senang melihat perubahan Ara
& itu karena wanita mungil ini, pikir Biyon.
“bu
guru Riesya janji ya besok mau nengokin Ara lagi?” ujar Ara seraya melepaskan
pelukannya. Ariesya tersenyum & mengaitkan jari kelingkingnya ke Ara. Satu
langkah lagi jalan yang terbuka untuk mendekati Biyon & mengungkapkan
kebenaranya, pikir Ariesya.
“eh
sudah sore nih, ibu mau pulang dulu yach” Ariesya melihat jam dinding yang
terletak tepat didepan ranjang Ara.
“ya
bu Riesya, nanti aja yach pulangnya” rengek Ara yang tak rela Ariesya pulang.
Ariesya hanya menghela nafasnya, ia pun begitu sebenarnya belum ingin pulang
masih ingin berada didekat Ara & terlebih lagi dengan si Mr dingin ini.
“sebenarnya
ibu juga belum mau pulang, tapi... ibu masih banyak kerjaan & lagi
sepertinya hari akan hujan” Ariesya memberikan penjelasan sambil melihat keluar
jendela, cuaca tampak mendung awan hitam sudah bergumpal-gumpal sepertinya akan
turun hujan deras & dirinya harus segera pulang kalau tidak ingin basah
kuyup ditengah jalan atau mungkin dia akan terjebak dirumah ini sambil menunggu
hujan reda. Iapun menjatuhkan pilihan pertamanya & harus segera pulang.
“benar apa yg dikatakan oleh bu Riesya, Ara” ujar
Biyon menimpali yang sedari tadi hanya diam & terus memperhatikan mereka
saja. Ada segurat kekecewaan diwajah polos Ara, ia masih ingin tetap bersama
Ariesya menemaninya.
“ya
baiklah... tapi mulai besok bu Riesya harus mengunjungi Ara sampai Ara
benar-benar sembuh” Ara mengingatkan janijnya pada Ariesya dengan nada sedikit
memaksa & harus ditepati. Ckkk benar-benar mirip sifatnya dengan Mr dingin
ini, ya eyalah namanya juga dua seponakan, batin Ariesya. Ariesya hanya
mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya.
“baiklah
kalau begitu, aku pulang dulu yach” ujar
Ariesya berpamitan seraya mengelus rambut Ara.
“eh,
kalau bu Riesya gak keberatan biar aku antar sampai rumah, sepertinya mau hujan
deras nih” Biyon menawarkan bantuan sambil beranjak dari tempat duduknya.
Ariesya menoleh kearah Biyon yang berjalan kearah pintu & berdiri disana.
“
tak usah repot-repot pak Biyon, saya bisa pulang sendiri kok” ujar Ariesya
meyakinkan tapi dilubuk hatinya ia ingin benar diantar oleh Mr dingin ini. Tapi
sepertinya keberuntungan berpihak lagi padanya.
“tak
apa-apa bu Riesya, lagian sepertinya mau hujan deras nih. Nanti bu Riesya bisa
kehujanan dijalan & jatuh sakit pula. Terus gak ada yang mengunjungin Ara
lagi” canda Biyon sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Ara yang tertawa
sambil menganguk-angguk setuju. Ariesya hanya tersipu malu, tak disangka Mr
dingin ini bisa juga bercanda & tertawa lepas, batin Ariesya. Ada begitu
banyak sifat hangat dibalik wajahnya yang dingin itu & misteri yang tak diketahui
oleh Ariesya selama ini.
“ya
baiklah... sepertinya aku tak punya pilihan” ujar Ariesya mengalah &
tersenyum pada Biyon. Sekali lagi sebelum keluar kamar Ariesya mengelus rambut
Ara dengan kasih sayang seperti seorang ibu membuat Ara merasa tenang &
damai. Biyon memperhatikan mereka dengan tajam tanpa berkedip, ada rasa
keakraban yang terjalin diantara keponakan & gurunya itu. Seperti ada
ikatan batin yang kuat yang tak terlihat. Yaah kalau dilihat seperti ibu &
anak benaran saja, pikir Biyon.
Biyon
& Ariesya menuruni anak tangga & berhenti ketika mereka berpapasan
dengan seorang wanita cantik & sedikit berpakaian seksi dengan model rambut
lurus & sedikit diwarnai pirang karena rambut aslinya berwarna hitam yg
dipotong pendek,tampaknya ia sebaya dengan Biyon & terlebih lagi ia lebih
tinggi dari Ariesya bahkan Ariesya kelihatan pendek karena wanita itu memakai
sepatu berhak sangat tinggi. Membuat Ariesya sedikit minder bila ia
dibandingkan dengan wanita itu. Mata Ariesya kemudian beralih kepada pria disebelah
wanita itu. Pria ini tampan juga meski tak setampan Mr dingin disebelahnya ini
& lagi-lagi tak setinggi Mr dingin juga. Ariesya membandingkan pria itu
dengan Mr dingin disebelahnya sama seperti ia membandingkan dirinya dengan
wanita itu.
Dan
membuat Ariesya sedikit mengerutkan dahinya adalah ia merasakan hawa jahat di
mereka berdua. Dan jangan-jangan... firasatnya mengatakan kalau mereka
adalah....Deg...
“perkenalkan
bu Riesya, ini adalah tunangan saya... Monica Clara. Dan Monica ini adalah Ariesya
Rusdi gurunya Ara” ujar Biyon mengenalkan mereka berdua. Mereka saling berjabat
tangan & tersenyum. Benar dugaannya tak salah lagi merekalah yg dibicarakan
oleh Bianca, pikir Ariesya.
“dan
lelaki disebelahnya ini adalah mantan suami adik kembarku Bianca, Bayu Pratama”
Biyon kembali mengenalkan mereka berdua. Ariesya tersenyum simpul, ya
sebenarnya ia sudah mengenal nama mereka terlebih dahulu tanpa mengetahui wajah
mereka, pikir Ariesya. Ariesya memandang Monica yg bergelayut manja dibahu
Biyon. Ada rasa cemburu menghampirinya, apa cemburu??? Batin Ariesya, hus-hus
menjauhlah dari pikiranku. Ariesya menekan pikirannya itu jauh-jauh.
“eh,
kok kalian bisa datang secara bersamaan?” ujar Biyon kepada Monica & Bayu,sambil
mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Ye tentu saja, kan mereka punya
hubungan spesial. Kasihan kamu Biyon dibohongi oleh mereka berdua, ujar Ariesya
dalam hati merasa prihatin pada Biyon. Monica & Bayu saling
berpandangan kemudian tersenyum dipaksa.
“oh,
itu... kebetulan aku bertemu Monic didepan salon sedang menunggu taksi &
memberinya tumpangan, katanya sih mau ketemu kamu Biyon & aku ingin melihat
Ara” ujar Bayu memberi penjelasan panjang lebar diiringi anggukan oleh Monica.
Huh alasan saja, padahal mungkin mereka dari rumah Bianca sedang bermesraan,
gerutu Ariesya dalam hati mendengar penjelasan mereka berdua. Ariesya
benar-benar geregetan melihat kebohongan mereka. Iapun memperhatikan mereka
dengan tatapan dongkol tapi tak ia tampakkan didepan mereka apalagi didepan
Biyon. Bisa-bisa Biyon menganggapnya orang aneh karena membenci orang yang
barusan dikenal. Lama mereka berempat diam dengan pikiran masing-masing.
“ehmmm...”
Ariesya berdehem membuat keheningan diantara mereka berempat mencair sedikit.
“kalau
begitu pak Biyon aku pulang dulu” Ariesya kembali mengingatkan Biyon.
“tunggu
sebentar, aku sudah janji padamu bahwa aku akan mengantarmu. Baiklah Monica
kutinggal sebentar ya, aku mau mengantar gurunya Ara pulang dulu” ujar Biyon melepaskan tangan Monica yang
sedari tadi bergelayut ditubuh Biyon. Kemudia Biyon memperhatikan penampilan
Monica & sedikit agak terganggu. Monica memakai Dress selutut yang bagian
dadanya terbuka lebar.
“Monica
bisa gak sih kamu berpakaian sopan sedikit, apalagi kalau berkunjung kerumahku
& dilihat oleh Ara” untuk kesekian kalinya Biyon mengingatkan Monica yang
berpakain kurang pantas apabila bertamu dirumahnya. Monica cemberut tak setuju
dengan komentar Biyon yang tak suka cara dia berpenampilan.
“ya
suka-suka aku dong...lagian aku berdandan kayak gini juga biar aku kelihatan
cantik & pastinya aku berdandan kayak gini juga untukmu” kilah Monica kembali
bergelayut manja. Ariesya yang mendengarnya mencibir dalam hati.
“tapi
kan Monic, cantik itu tak perlu dengan berpakaian seksi apalagi dengan bagian
dada yang terbuka begitu. Dan tentunya kamu tak perlu berdandan seperti ini
untukku.” Ujar Biyon tegas & melepaskan kembali tangan Monica. Ariesya
mengangguk setuju dengan perkataan Biyon. Biyon menghela nafasnya sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar jengkel dengan tingkah Monica.
Kadang ia tak mengerti dengan jalan pikiran Monica & itu sering menciptakan
pertengkaran-pertengkaran kecil diantara mereka, ya karena mereka sama-sama
keras kepala.
“terserah
kau saja Monic, cukup kali ini saja aku mengingatkanmu. Atau...kau tau
sendirilah akibatnya, aku tak mau berdebat lagi denganmu” ucap Biyon dengan
tegas. Monica makin cemberut mendengar perkataan Biyon yang tegas, ia tau benar
sifat Biyon yang satu ini. Kalau ia bilang harus berarti mesti dikerjakan.
“oh
ya maaf bu Riesya harus mendengarkan perdebatan kecil kami tadi...baiklah mari
sekarang aku antar” Biyon berkata kepada Ariesya, ia tau gadis mungil ini
mendengar percakapan mereka tadi.
“tak
apa-apa pak Biyon, saya maklum kok” ujar Ariesya tersenyum dalam penuh arti. Eh
kalau sekarang Biyon yang mengantarnya terus siapa yang akan menjaga Ara? Kalau
Ara ditinggalkan sebentar bersama Monica & Bayu bisa gawat nih. Tiba-tiba
hal itu baru kepikiran olehnya, ini tak boleh dibiarkan. Tadi Ara aman-aman saja
kalau ia ditinggalkan bersama bi Sastri
tapi kalau dirumah ini bertambah dengan dua orang jahat ini berarti Ara tak
aman dong.
“eh
pak Biyon, sepertinya anda tak usah mengantar saya. Kasihan Ara sendirian,
lagian gak enak sama nona Monica yang barusan datang ingin menjenguk anda” ujar
Ariesya sambil melirik Monica yang berdiri disamping Biyon. Pada mulanya Biyon
menolak alasan Ariesya, tapi karena Ariesya tetap dengan alasannya yang sedikit
agak memaksa. Ya itu demi keselamatan Ara & Biyon juga sih meski sekarang
si Mr dingin ini tak tau alasan yg sebenarnya,batin Ariesya.
“ya
baiklah kalau bu Riesya tetap ingin pulang sendirian... saya doakan semoga anda
tak kehujanan dijalan...” ujar Biyon menyerah akan keputusan Ariesya.
“tapi
semoga yang ini anda tak menolaknya bu Riesya...saya sudah menyuruh pak Marwan
untuk mengantar anda” kembali Biyon berkata dengan nada tegas & memerintah.
Membuat Ariesya meneguk ludahnya sendiri, benar-benar sifat Mr dingin,
pikirnya. Ariesya akhirnya mengikuti perkataan Biyon dengan hati sedikit berat
biarlah ia diantar supirnya Biyon, daripada ia harus meninggalkan Ara dengan 2
makhluk jahat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar