Sebuah Fakta Part 6

Dering alarm mengejutkan Ariesya yg sedang tertidur pulas, yg dengan paksa membawa Ariesya kembali kealam nyata dari mimpi indahnya. Suara alarm yg kuat itu memekakan telinganya membuat Ariesya mau tak mau harus membuka matanya, tangannya meraba-raba meja disampingnya & menemukan benda kecil tersebut & mematikan suaranya. Jam weker itu didekatkannya kematanya, & ia melihat jam setengah enam pagi. Sambil melempar jam weker kesampingnya ia pun beranjak dari ranjangnya. Beruntungnya ia tak perlu tergesa-gesa karena terlambat, tempatnya bekerja masuk jam setengah delapan pagi.

Ariesya mematut dirinya dicermin, pagi ini ia memakai blus berwarna krem  dengan setelan celana panjang berwarna hitam yg sangat pas dengan tubuhnya yg mungil memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Diliriknya jam weker diranjangnya yg ia lempar tadi kemudian diletakkannya kembali ke meja disampingnya. Jam di wekernya menunjukkan setengah tujuh pagi, hmmm masih ada waktu setengah jam lagi sebelum ia berangkat. Iapun menuju dapur kecilnya dan mulai menyeduh teh. Ariesya merapatkan kursi kemeja didekat jendela yg bisa melihat pemandangan dari dapurnya. Ariesya mengaduk perlahan teh panasnya sambil meniup-niupnya. Kemudian  gelas tehnya ia dekatkan ke bibirnya setelah agak dingin ia minum perlahan-lahan. Sambil menikmati tehnya ia memandang keluar jendelanya, dari sini ia bisa melihat jalan dimana anak-anak sekolah atau karyawan kantor sedang menuju arah tujuan masing-masing, atau ibu-ibu yg sedang pulang dari pasar membawa keranjang bawaannya.

“hei, belum berangkat?”

Repleks Ariesya menoleh kearah suara tersebut, tampak Bianca sedang berdiri mengambang didepan pintu kamar mandi. Ariesya tampak tenang sambil kembali menyeruput tehnya yg mulai dingin. Kemudian ia berbalik lagi menatap Bianca.

“belum, sebentar lagi...eh Bi semalam kemana kamu?”

“tumben kamu nanyain kemana aku pergi, bukankah lebih bagus kalau kita jarang ketemu itukan selama ini yg kau mau?” goda Bianca membuat Ariesya mengerucutkan bibirnya.

“iya juga sih...huh bukankah kamu yg selalu muncul tiba-tiba mengagetkan?” Ariesya balik bertanya, rasanya Ariesya ingin menjitak kepala hantu cantik didepannya ini kalau ia bisa disentuh.

“maaf, itu memang kebiasaanku, masa hantu harus janjian dulu dengan manusia kalau mau menampakkan diri, gimana cara memberitahunya??? Atau lewat sms?” goda Bianca lagi yg disambut gelak tawa Ariesya.

“tuh sekalian aja kau bikin pesan di FB atau Twitter ke aku hahaha...”

“bisa aja kau Sya, semalam aku nemuin anakku Ara” jelas Bianca yg akhirnya bicara serius juga.

“oh begitu... tapi kau tak menggunakan kepolosan anak kecil untuk mengungkap kasuskan?” tanya Ariesya khawatir.
“tentu saja tidak, mana mau aku mengorbankan anakku sendiri, terlalu bahaya. Aku hanya menemani Ara tidur saja.”

“baguslah kalau begitu” Ariesya senang mendengar penjelasan Bianca, ia kemudian berjalan kearah meja riasnya dan mengambil tasnya, diliriknya wekernya menunjukkan tepat jam tujuh.

“udah mau berangkat Sya?”  tanya Bianca yg sudah muncul & duduk diranjangnya. Ariesya hanya mengangguk.

“ok deh kalau begitu selamat bekerja !!!” tanpa dikomando Bianca sudah tak terlihat lagi, Ariesya memasang sepatunya dengan cepat & menutup kamar kosnya.
                                         ****

Bel pulang berbunyi, anak-anak berhamburan keluar setelah berdo’a & menyalami Ariesya. Setelah memastikan anak-anak sudah dijemput semua, barulah Ariesya bisa pulang dengan tenang. Baru mau ia melangkah keruang guru ia melihat sikecil Ara belum pulang, seperti biasanya ia menunggu jemputannya. Kenapa sih pak Marwan si supir pribadi selalu telat jemput Ara? Ariesya bertanya-tanya dalam hati. Apa gak khawatir tuh papanya Ara? Mestinya anak kecil seperti Ara seharusnya ditungguin saja, ya apalagi dengan jaman modern seperti ini plus ia anak dari salah satu pemilik kerajaan bisnis terbesar di Indonesia ini, bisa-bisa ia diculik. Ariesya mendekati Ara dan duduk disebelahnya, gadis kecil itupun tersenyum polos.

“mau ibu temanin?” ujar Ariesya tersenyum, Arapun mengangguk. Ara kemudian membuka tas mencari sesuatu, setelah ia mendapatkannya, diambilnya keluar. Terlihat ditangannya yg mungil sebuah botol kecil berisi air semacam air sabun & peniupnya. Ia  pun mulai meniupnya & keluarlah gelembung-gelembung kadang besar kadang kacil. Ia pun mencelupkannya lagi kebotol kemudian ditiupnya lagi, semakin banyak gelembungnya Ara semakin antusias mengulanginya. Tanpa terasa sudah hampir satu jam Ariesya menemani Ara, tapi jemputan Ara belum kelihatan. Ariesya heran kenapa jemputan Ara belum datang, tak semestinya anak kecil dibiarkan menunggu sendirian. Ia harus membicarakan ini kepada papanya Ara, pikir Ariesya.

“hei kalian berdua kenapa belum pulang?” ujar Bianca tiba-tiba muncul & berdiri bersender ditiang didepan mereka.

“mama...” ujar Ara riang sepertinya ia juga tak kaget dengan munculnya Bianca tiba-tiba. “nih lihat ma, Ara punya gelembung-gelembung” Ara menunjuk botol yg ditangannya itu sambil didekatkannya tiupan kemulutnya & menghembuskan nafasnya pelan-pelan & keluarlah gelembung-gelembung.

“wow, indahnya...”ujar Bianca tersenyum sambil bertepuk tangan.

“Bia, mungkin kau tau penyebabnya kenapa jemputan Ara belum datang?” tanya Ariesya menatap Bianca yg sedari tadi memperhatikan Ara meniup gelembungnya.

“entahlah Sya aku juga gak tau, kenapa pak Marwan telat menjemputnya. Selama aku hidup sih.. aku yg mengantar jemput Ara, karena sekarang aku gak ada lagi, jadinya dipercayakan dengan pak Marwan.” Ujar Bianca menjelaskan tanpa mengalihkan perhatiannya pada Ara. Tiba-tiba sebuah mobil silver entah merek apa Ariesya tak tau, yg pasti mobil yg berhenti dipekarangan sekolah TK ini sangatlah berkelas & mewah. Dan yg membuat Ariesya menahan nafasnya adalah pemiliknya yg tak kalah keren dari mobilnya. Seorang pria tampan dengan memakai pakaian ala bos-bos besar, turun dari mobilnya. Ariesya memandang lekat-lekat pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pria ini memiliki mata berwarna cokelat, dengan rambut yg berwarna kuning keemasan. Ditambah dengan postur tubuh tinggi tegap. Dilihat dari warna mata dan rambut pastilah ia keturunan bule 75% dan 25%  sisanya keturunan Indonesia. Wow seperti artis pria Hollywood yg seksi, pikir Ariesya terkagum-kagum. Tapi ada satu yg membuat dahi Ariesya berkerut yaitu ekspresi wajahnya yg dingin. Melihat seseorang yg turun dari mobil yg dikenalnya Ara langsung melompat kegirangan.

“papa...” teriak Ara berlari menghampiri pria itu yg langsung disambut dengan digendongnya Ara & tersenyum hangat pada Ara. Eh papa? Wajah Ariesya berkerut heran, bearti ia mantan suami Bianca kah? Tanya Ariesya dalam hati. Ariesya menghampiri Ara & pria itu sambil membawa tas Ara yg terlupakan karena melihat papanya.

“senang ya Ara papa udah jemput” ujar Ariesya mengusik 2 orang didepannya ini. Pria itu mengalihkan pandangannya ke Ariesya, dan menyunggingkan sedikit senyuman tidak seperti ia tersenyum pada Ara tadi. Yeah meskipun begitu ia tetap tampan, bahkan membuat para wanita seperti dirinya bisa mati penasaran. Ariesya membalas senyuman pria itu dengan senyuman hangat nan tulus.

“kenalkan aku gurunya Ara, Ariesya Rusdi” Ariesya mengulurkan tangannya yg disambut dengan hangat oleh pria itu, ketika tangan Ariesya bersentuhan dengan tangan pria itu ada semacam aliran listrik menyentuh tangannya & perasaan aneh, membuat Ariesya takjub sekaligus pipinya merona merah tanpa ia sadari.

“aku papanya Ara, Biyon Yuspov” Biyon menyambut uluran tangan Ariesya. Mereka saling bertatapan lama, ada perasaan aneh yg menyelinap di benak Ariesya. Entah itu apa, Ariesya sedikit mengernyitkan alisnya.

“kenapa papa yg jemput Ara, memangnya kemana pak Marwan?” celoteh Ara yg sedari tadi masih digendong oleh Biyon sambil   mengacak-acak rambut Biyon yg semula rapi menjadi sedikit berantakan. Celotehan Ara membuat Ariesya & Biyon tersadar dr pandangan masing-masing.
“mobil pak Marwan mogok, ia pikir takkan lama... eh taunya sudah satu jam. Ia pun menelepon papa, akhirnya papa yg jemput Ara.” Ujar Biyon menarik tangan Ara yg sedari tadi mengacak rambutnya. Ara hanya mengangguk.

“seharusnya lama atau tidak sisupir mesti memberitahukan bapak agar Ara tak terlalu lama menunggu, anda tau sendiri kan jaman apa sekarang” ujar Ariesya sedikit emosional mengingat sudah beberapa hari ini Ara menunggu jemputan sendirian. Biyon kembali menoleh ke Ariesya yg sedari tadi ia sibuk bercanda dengan Ara, ia menatap wanita mungil didepannya ini. Ada perasaan kagum terselip dihatinya, Ariesya benar-benar seorang guru yg perhatian, pikir Biyon. Ia menurunkan Ara dari gendongannya. & menyisir rambutnya dengan tangan.

“iya aku tahu, maaf telah merepotkan anda” Biyon meminta maaf.

“ya tak apa-apa, aku bisa memakluminya” Ariesya terseyum manis.

“papa yok kita pulang, Ara mau makan” Ara menarik tangan Biyon.

“ya baiklah..., bu guru Ariesya sekali lagi terima kasih telah telah menemani Ara” Biyon membukakan pintu di samping sopir, diikuti Ara naik kedalamnya.

“ sama-sama & panggil saya Risya saja” ujar Ariesya sedikit malu-malu. Ia menyerahkan tas Ara yg sedari tadi dipegangnya kepada Biyon.

“oh bu Risya...bu Risya mau kuantar pulang? Sekalian aku mau mengantar Ara pulang” Biyon mengambil tas Ara dari tangan Ariesya.

“tidak usah...sebenarnya aku udah ada janji dengan teman & menunggu disini, terima kasih telah menawariku” Ariesya menolak tawaran Biyon dengan halus, sebenarnya sih ia tak ada janji dengan teman. Tak etislah baru kenalan juga udah mau numpang mobil, tapi...siapa sih yg tak mau duduk disamping orang tampan seperti Biyon, Ariesya berkata dalam hati.

“baiklah kalau begitu, kami pergi duluan” ujar Biyon pamit sambil masuk kedalam mobil, & mulai menghidupkan mesin mobil. Ia melambaikan tangannya pada Ariesya sambil menyunggingkan senyum tipis ciri khasnya Biyon.

“by-by bu guru...” Ara menjulurkan kepalanya keluar kearah Ariesya berdiri & melambaikan tangannya.

“by-by Ara yg imut” Ariesya membalas lambaian Ara. Ara kembali duduk manis disamping Biyon.

“hei, gimana kakak kembarku? Tampan kan?” ujar Bianca yg tiba-tiba sudah ada disamping Ariesya mengagetkanya yg sedari tadi memandangi mobil Biyon hingga tak terlihat lagi. Ia kemudian menatap Bianca tajam, matanya mengisyarat kan kalau ia ingin pulang & tidak ingin diganggu ketika dalam perjalanan. Sepertinya Bianca mengerti isyarat Ariesya, ia pun menatap Ariesya & lewat matanya juga ia menjawab, baik. Dalam hitungan detik Bianca sudah tak terlihat lg dari pandangan.
                               ****

”ya emang benar dia tampan...” ujar Ariesya merebahkan tubuhnya keranjang ketika ia sudah tiba dirumah. Bianca mengangguk tersenyum ia sedang duduk dimeja. Ia muncul bersamaan dengan Ariesya sampai dikosnya. Ariesya mengerutkan keningnya, ia mengingat pertemuannya tadi dengan Biyon di TK. Ia melanjutkan kata-katanya “tampan,tapi...”

“dingin...” ujar Bianca dengan cepat memotong pembicaraan Ariesya. Ariesya hanya mengangguk setuju. Eh tunggu sebentar pikir Ariesya, tadi Bianca bilang kakak kembar? Bukan suaminya?
“jadi Biyon itu kakak kembar mu? Bukan suamimu?”
         “yeah begitulah, aku kan sudah bercerai dari suamiku & memakai nama gadisku kembali, masak kau tak menyadarinya?.” Bianca balik bertanya.

“huh tentu saja tidak, karena dari awal kau hanya bercerita tanpa menyebutkan nama hanya menyebut kakak saja, suami, atau calon kakak ipar. Jadi aku benar-benar tak tau” Ariesya melotot mencoba membela diri, tubuhnya dimiringkan menghadap Bianca duduk dimeja. Bianca hanya cengar-cengir, ia menyadari kesalahannya karena selama ia bercerita ia tak pernah menyebut nama orang.

“maaf, aku lupa memberitahu...” ujar Bianca menggaruk kepalanya yg tak gatal “baiklah akan beritahu jika bertemu mereka nanti kau tidak terlalu terkejut seperti tadi, nama mantan suamiku adalah Bayu Pratama sedangkan calon kakak iparku adalah Monica Clara”

“oh begitu, itu nama mereka.”

“ah ya...” Bianca berkata sedikit keras sambil mengacungkan jari telunjuknya membuat Ariesya kaget.

“aku punya ide” ujar Bianca lagi tiba-tiba saja ia sudah muncul disamping Ariesya tidur.

“oh ya... terus apa idemu itu” Ariesya sangat antusias mendengar ide Bianca. Bianca tersenyum lebar saat akan bicara.

“begini... untuk bisa mendekati kakak kembarku kau harus mendekati anakku Ara”

“apa???” Ariesya terlonjak kaget, ia langsung duduk akibatnya kepalanya sedikit berdenyut iapun memijit dahinya.

“ya begitulah...”

“kau...apa yg kau pikirkan Bianca, kenapa kau melibatkan anakmu” ujar Ariesya marah ia sedikit meninggikan volume suaranya.

“iya aku... tapi aku tak tak melibatkan Ara terlalu jauh, kita hanya butuh sedikit bantuan Ara untuk mendekatkanmu dengan Biyon, itulah satu-satunya cara...”
Ariesya menelan ludahnya,ia tak bisa berkata apa-apa. Ia teringat wajah tampan Biyon pagi tadi tapi sedikit dingin. Ya memang benar Ara adalah satu-satunya penghubung ia dan Biyon untuk  rencana selanjutnya. Ariesya menghela nafasnya, ini benar-benar sulit. Ia tau dengan melihat wajah dingin Biyon tak mudah untuk mendekatinya & tentunya akan sulit untuk memberitahukan dibalik kematian Bianca. Ia memijit lagi dahinya yg semakin berdenyut.

“sepertinya kau butuh istirahat Sya” Bianca melihat Ariesya  yg berkali-kali memijit dahinya. Ariesya hanya mengangguk, tak berapa lama Bianca sudah tak terlihat lagi. Ariesya membaringkan tubuhnya & tak lama iapun terlelap.
                       ****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar