Dering alarm
mengejutkan Ariesya yg sedang tertidur pulas, yg dengan paksa membawa Ariesya
kembali kealam nyata dari mimpi indahnya. Suara alarm yg kuat itu memekakan
telinganya membuat Ariesya mau tak mau harus membuka matanya, tangannya
meraba-raba meja disampingnya & menemukan benda kecil tersebut &
mematikan suaranya. Jam weker itu didekatkannya kematanya, & ia melihat jam
setengah enam pagi. Sambil melempar jam weker kesampingnya ia pun beranjak dari
ranjangnya. Beruntungnya ia tak perlu tergesa-gesa karena terlambat, tempatnya
bekerja masuk jam setengah delapan pagi.
Ariesya
mematut dirinya dicermin, pagi ini ia memakai blus berwarna krem dengan setelan celana panjang berwarna hitam
yg sangat pas dengan tubuhnya yg mungil memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya.
Diliriknya jam weker diranjangnya yg ia lempar tadi kemudian diletakkannya
kembali ke meja disampingnya. Jam di wekernya menunjukkan setengah tujuh pagi,
hmmm masih ada waktu setengah jam lagi sebelum ia berangkat. Iapun menuju dapur
kecilnya dan mulai menyeduh teh. Ariesya merapatkan kursi kemeja didekat
jendela yg bisa melihat pemandangan dari dapurnya. Ariesya mengaduk perlahan
teh panasnya sambil meniup-niupnya. Kemudian gelas tehnya ia dekatkan ke bibirnya setelah
agak dingin ia minum perlahan-lahan. Sambil menikmati tehnya ia memandang
keluar jendelanya, dari sini ia bisa melihat jalan dimana anak-anak sekolah
atau karyawan kantor sedang menuju arah tujuan masing-masing, atau ibu-ibu yg
sedang pulang dari pasar membawa keranjang bawaannya.
“hei, belum
berangkat?”
Repleks
Ariesya menoleh kearah suara tersebut, tampak Bianca sedang berdiri mengambang
didepan pintu kamar mandi. Ariesya tampak tenang sambil kembali menyeruput
tehnya yg mulai dingin. Kemudian ia berbalik lagi menatap Bianca.
“belum,
sebentar lagi...eh Bi semalam kemana kamu?”
“tumben kamu
nanyain kemana aku pergi, bukankah lebih bagus kalau kita jarang ketemu itukan
selama ini yg kau mau?” goda Bianca membuat Ariesya mengerucutkan bibirnya.
“iya juga
sih...huh bukankah kamu yg selalu muncul tiba-tiba mengagetkan?” Ariesya balik
bertanya, rasanya Ariesya ingin menjitak kepala hantu cantik didepannya ini
kalau ia bisa disentuh.
“maaf, itu
memang kebiasaanku, masa hantu harus janjian dulu dengan manusia kalau mau
menampakkan diri, gimana cara memberitahunya??? Atau lewat sms?” goda Bianca
lagi yg disambut gelak tawa Ariesya.
“tuh sekalian
aja kau bikin pesan di FB atau Twitter ke aku hahaha...”
“bisa aja kau
Sya, semalam aku nemuin anakku Ara” jelas Bianca yg akhirnya bicara serius
juga.
“oh begitu...
tapi kau tak menggunakan kepolosan anak kecil untuk mengungkap kasuskan?” tanya
Ariesya khawatir.
“tentu saja
tidak, mana mau aku mengorbankan anakku sendiri, terlalu bahaya. Aku hanya
menemani Ara tidur saja.”
“baguslah
kalau begitu” Ariesya senang mendengar penjelasan Bianca, ia kemudian berjalan
kearah meja riasnya dan mengambil tasnya, diliriknya wekernya menunjukkan tepat
jam tujuh.
“udah mau
berangkat Sya?” tanya Bianca yg sudah
muncul & duduk diranjangnya. Ariesya hanya mengangguk.
“ok deh kalau
begitu selamat bekerja !!!” tanpa dikomando Bianca sudah tak terlihat lagi,
Ariesya memasang sepatunya dengan cepat & menutup kamar kosnya.
****
Bel pulang
berbunyi, anak-anak berhamburan keluar setelah berdo’a & menyalami Ariesya.
Setelah memastikan anak-anak sudah dijemput semua, barulah Ariesya bisa pulang
dengan tenang. Baru mau ia melangkah keruang guru ia melihat sikecil Ara belum
pulang, seperti biasanya ia menunggu jemputannya. Kenapa sih pak Marwan si
supir pribadi selalu telat jemput Ara? Ariesya bertanya-tanya dalam hati. Apa
gak khawatir tuh papanya Ara? Mestinya anak kecil seperti Ara seharusnya
ditungguin saja, ya apalagi dengan jaman modern seperti ini plus ia anak dari
salah satu pemilik kerajaan bisnis terbesar di Indonesia ini, bisa-bisa ia
diculik. Ariesya mendekati Ara dan duduk disebelahnya, gadis kecil itupun
tersenyum polos.
“mau ibu
temanin?” ujar Ariesya tersenyum, Arapun mengangguk. Ara kemudian membuka tas
mencari sesuatu, setelah ia mendapatkannya, diambilnya keluar. Terlihat
ditangannya yg mungil sebuah botol kecil berisi air semacam air sabun &
peniupnya. Ia pun mulai meniupnya &
keluarlah gelembung-gelembung kadang besar kadang kacil. Ia pun mencelupkannya
lagi kebotol kemudian ditiupnya lagi, semakin banyak gelembungnya Ara semakin
antusias mengulanginya. Tanpa terasa sudah hampir satu jam Ariesya menemani
Ara, tapi jemputan Ara belum kelihatan. Ariesya heran kenapa jemputan Ara belum
datang, tak semestinya anak kecil dibiarkan menunggu sendirian. Ia harus
membicarakan ini kepada papanya Ara, pikir Ariesya.
“hei kalian
berdua kenapa belum pulang?” ujar Bianca tiba-tiba muncul & berdiri
bersender ditiang didepan mereka.
“mama...” ujar
Ara riang sepertinya ia juga tak kaget dengan munculnya Bianca tiba-tiba. “nih
lihat ma, Ara punya gelembung-gelembung” Ara menunjuk botol yg ditangannya itu
sambil didekatkannya tiupan kemulutnya & menghembuskan nafasnya pelan-pelan
& keluarlah gelembung-gelembung.
“wow,
indahnya...”ujar Bianca tersenyum sambil bertepuk tangan.
“Bia, mungkin
kau tau penyebabnya kenapa jemputan Ara belum datang?” tanya Ariesya menatap
Bianca yg sedari tadi memperhatikan Ara meniup gelembungnya.
“entahlah Sya
aku juga gak tau, kenapa pak Marwan telat menjemputnya. Selama aku hidup sih..
aku yg mengantar jemput Ara, karena sekarang aku gak ada lagi, jadinya
dipercayakan dengan pak Marwan.” Ujar Bianca menjelaskan tanpa mengalihkan
perhatiannya pada Ara. Tiba-tiba sebuah mobil silver entah merek apa Ariesya
tak tau, yg pasti mobil yg berhenti dipekarangan sekolah TK ini sangatlah
berkelas & mewah. Dan yg membuat Ariesya menahan nafasnya adalah pemiliknya
yg tak kalah keren dari mobilnya. Seorang pria tampan dengan memakai pakaian
ala bos-bos besar, turun dari mobilnya. Ariesya memandang lekat-lekat pria itu
dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pria ini memiliki mata berwarna cokelat,
dengan rambut yg berwarna kuning keemasan. Ditambah dengan postur tubuh tinggi
tegap. Dilihat dari warna mata dan rambut pastilah ia keturunan bule 75% dan
25% sisanya keturunan Indonesia. Wow
seperti artis pria Hollywood yg seksi, pikir Ariesya terkagum-kagum. Tapi ada
satu yg membuat dahi Ariesya berkerut yaitu ekspresi wajahnya yg dingin.
Melihat seseorang yg turun dari mobil yg dikenalnya Ara langsung melompat
kegirangan.
“papa...”
teriak Ara berlari menghampiri pria itu yg langsung disambut dengan
digendongnya Ara & tersenyum hangat pada Ara. Eh papa? Wajah Ariesya berkerut
heran, bearti ia mantan suami Bianca kah? Tanya Ariesya dalam hati. Ariesya
menghampiri Ara & pria itu sambil membawa tas Ara yg terlupakan karena
melihat papanya.
“senang ya Ara
papa udah jemput” ujar Ariesya mengusik 2 orang didepannya ini. Pria itu
mengalihkan pandangannya ke Ariesya, dan menyunggingkan sedikit senyuman tidak
seperti ia tersenyum pada Ara tadi. Yeah meskipun begitu ia tetap tampan,
bahkan membuat para wanita seperti dirinya bisa mati penasaran. Ariesya
membalas senyuman pria itu dengan senyuman hangat nan tulus.
“kenalkan aku
gurunya Ara, Ariesya Rusdi” Ariesya mengulurkan tangannya yg disambut dengan
hangat oleh pria itu, ketika tangan Ariesya bersentuhan dengan tangan pria itu
ada semacam aliran listrik menyentuh tangannya & perasaan aneh, membuat
Ariesya takjub sekaligus pipinya merona merah tanpa ia sadari.
“aku papanya
Ara, Biyon Yuspov” Biyon menyambut uluran tangan Ariesya. Mereka saling
bertatapan lama, ada perasaan aneh yg menyelinap di benak Ariesya. Entah itu
apa, Ariesya sedikit mengernyitkan alisnya.
“kenapa papa
yg jemput Ara, memangnya kemana pak Marwan?” celoteh Ara yg sedari tadi masih
digendong oleh Biyon sambil
mengacak-acak rambut Biyon yg semula rapi menjadi sedikit berantakan.
Celotehan Ara membuat Ariesya & Biyon tersadar dr pandangan masing-masing.
“mobil pak
Marwan mogok, ia pikir takkan lama... eh taunya sudah satu jam. Ia pun
menelepon papa, akhirnya papa yg jemput Ara.” Ujar Biyon menarik tangan Ara yg
sedari tadi mengacak rambutnya. Ara hanya mengangguk.
“seharusnya
lama atau tidak sisupir mesti memberitahukan bapak agar Ara tak terlalu lama
menunggu, anda tau sendiri kan jaman apa sekarang” ujar Ariesya sedikit
emosional mengingat sudah beberapa hari ini Ara menunggu jemputan sendirian.
Biyon kembali menoleh ke Ariesya yg sedari tadi ia sibuk bercanda dengan Ara,
ia menatap wanita mungil didepannya ini. Ada perasaan kagum terselip dihatinya,
Ariesya benar-benar seorang guru yg perhatian, pikir Biyon. Ia menurunkan Ara
dari gendongannya. & menyisir rambutnya dengan tangan.
“iya aku tahu,
maaf telah merepotkan anda” Biyon meminta maaf.
“ya tak
apa-apa, aku bisa memakluminya” Ariesya terseyum manis.
“papa yok kita
pulang, Ara mau makan” Ara menarik tangan Biyon.
“ya
baiklah..., bu guru Ariesya sekali lagi terima kasih telah telah menemani Ara”
Biyon membukakan pintu di samping sopir, diikuti Ara naik kedalamnya.
“ sama-sama
& panggil saya Risya saja” ujar Ariesya sedikit malu-malu. Ia menyerahkan
tas Ara yg sedari tadi dipegangnya kepada Biyon.
“oh bu Risya...bu
Risya mau kuantar pulang? Sekalian aku mau mengantar Ara pulang” Biyon
mengambil tas Ara dari tangan Ariesya.
“tidak
usah...sebenarnya aku udah ada janji dengan teman & menunggu disini, terima
kasih telah menawariku” Ariesya menolak tawaran Biyon dengan halus, sebenarnya
sih ia tak ada janji dengan teman. Tak etislah baru kenalan juga udah mau
numpang mobil, tapi...siapa sih yg tak mau duduk disamping orang tampan seperti
Biyon, Ariesya berkata dalam hati.
“baiklah kalau
begitu, kami pergi duluan” ujar Biyon pamit sambil masuk kedalam mobil, &
mulai menghidupkan mesin mobil. Ia melambaikan tangannya pada Ariesya sambil
menyunggingkan senyum tipis ciri khasnya Biyon.
“by-by bu
guru...” Ara menjulurkan kepalanya keluar kearah Ariesya berdiri & melambaikan
tangannya.
“by-by Ara yg
imut” Ariesya membalas lambaian Ara. Ara kembali duduk manis disamping Biyon.
“hei, gimana
kakak kembarku? Tampan kan?” ujar Bianca yg tiba-tiba sudah ada disamping
Ariesya mengagetkanya yg sedari tadi memandangi mobil Biyon hingga tak terlihat
lagi. Ia kemudian menatap Bianca tajam, matanya mengisyarat kan kalau ia ingin
pulang & tidak ingin diganggu ketika dalam perjalanan. Sepertinya Bianca
mengerti isyarat Ariesya, ia pun menatap Ariesya & lewat matanya juga ia
menjawab, baik. Dalam hitungan detik Bianca sudah tak terlihat lg dari
pandangan.
****
”ya emang
benar dia tampan...” ujar Ariesya merebahkan tubuhnya keranjang ketika ia sudah
tiba dirumah. Bianca mengangguk tersenyum ia sedang duduk dimeja. Ia muncul
bersamaan dengan Ariesya sampai dikosnya. Ariesya mengerutkan keningnya, ia
mengingat pertemuannya tadi dengan Biyon di TK. Ia melanjutkan kata-katanya “tampan,tapi...”
“dingin...”
ujar Bianca dengan cepat memotong pembicaraan Ariesya. Ariesya hanya mengangguk
setuju. Eh tunggu sebentar pikir Ariesya, tadi Bianca bilang kakak kembar?
Bukan suaminya?
“jadi Biyon
itu kakak kembar mu? Bukan suamimu?”
“yeah begitulah, aku kan sudah
bercerai dari suamiku & memakai nama gadisku kembali, masak kau tak
menyadarinya?.” Bianca balik bertanya.
“huh tentu
saja tidak, karena dari awal kau hanya bercerita tanpa menyebutkan nama hanya
menyebut kakak saja, suami, atau calon kakak ipar. Jadi aku benar-benar tak
tau” Ariesya melotot mencoba membela diri, tubuhnya dimiringkan menghadap
Bianca duduk dimeja. Bianca hanya cengar-cengir, ia menyadari kesalahannya
karena selama ia bercerita ia tak pernah menyebut nama orang.
“maaf, aku
lupa memberitahu...” ujar Bianca menggaruk kepalanya yg tak gatal “baiklah akan
beritahu jika bertemu mereka nanti kau tidak terlalu terkejut seperti tadi,
nama mantan suamiku adalah Bayu Pratama sedangkan calon kakak iparku adalah
Monica Clara”
“oh begitu,
itu nama mereka.”
“ah ya...”
Bianca berkata sedikit keras sambil mengacungkan jari telunjuknya membuat
Ariesya kaget.
“aku punya
ide” ujar Bianca lagi tiba-tiba saja ia sudah muncul disamping Ariesya tidur.
“oh ya...
terus apa idemu itu” Ariesya sangat antusias mendengar ide Bianca. Bianca
tersenyum lebar saat akan bicara.
“begini...
untuk bisa mendekati kakak kembarku kau harus mendekati anakku Ara”
“apa???”
Ariesya terlonjak kaget, ia langsung duduk akibatnya kepalanya sedikit
berdenyut iapun memijit dahinya.
“ya
begitulah...”
“kau...apa yg
kau pikirkan Bianca, kenapa kau melibatkan anakmu” ujar Ariesya marah ia
sedikit meninggikan volume suaranya.
“iya aku...
tapi aku tak tak melibatkan Ara terlalu jauh, kita hanya butuh sedikit bantuan
Ara untuk mendekatkanmu dengan Biyon, itulah satu-satunya cara...”
Ariesya
menelan ludahnya,ia tak bisa berkata apa-apa. Ia teringat wajah tampan Biyon
pagi tadi tapi sedikit dingin. Ya memang benar Ara adalah satu-satunya
penghubung ia dan Biyon untuk rencana
selanjutnya. Ariesya menghela nafasnya, ini benar-benar sulit. Ia tau dengan
melihat wajah dingin Biyon tak mudah untuk mendekatinya & tentunya akan
sulit untuk memberitahukan dibalik kematian Bianca. Ia memijit lagi dahinya yg
semakin berdenyut.
“sepertinya
kau butuh istirahat Sya” Bianca melihat Ariesya
yg berkali-kali memijit dahinya. Ariesya hanya mengangguk, tak berapa
lama Bianca sudah tak terlihat lagi. Ariesya membaringkan tubuhnya & tak
lama iapun terlelap.
****