Sebuah Fakta Part 5

Bab 5 : Oh, jadi...



Suasana TK Asri tampak ceria diisi oleh keriangan dan celotehan anak-anak yg berumur antara 4 sampai 5 tahun. Saat ini anak-anak kelas Matahari yg dibimbing oleh Ariesya sedang menggambar. Dilihatnya anak-anak sedang mewarnai gambar mereka dengan antusias. Tepat jam 10 pagi, bel pulang berbunyi.

“gambarnya dilanjutin dirumah, ya anak-anak. Kalian bisa minta  bantuan dengan papa atau mama nanti.” Ujar Ariesya

“ya bu guru” serentak anak-anak menjawab, mereka pun membereskan peralatan mereka. Dan mulai berdo’a, satu-satu anak-anak tersebut menyalami Ariesya & berlarian keluar menghampiri orang tua yg sedang setia menunggu mereka.

“huff... akhirnya selesai juga”gumam Ariesya ketika sudah berada diruang guru. Ia pun membereskan mejanya & beranjak pulang, ketika ia keluar dr ruang guru dilihatnya Ara belum pulang. Anak itu sedang duduk sambil menjuntaikan kakinya yg kecil yg tak menyentuh lantai. Ariesya pun menghampirinya.

“loh jemputan Ara belum datang ya?” ujar Ariesya duduk disamping Ara. Ara menoleh kearah Ariesya, & tersenyum menampakkan giginya yg mugil-mungil.

“ya bu guru Risya...”

“mau bu guru temani?” tawar Ariesya yg diyakan oleh Ara.

“hei belum pulang?”

 Ariesya menoleh kearah pemilik suara tersebut yg tak asing lagi ditelinganya. Bianca sedang bersender di dinding kelas tak jauh dari Ariesya duduk. Ariesya pura-pura tak menyadari keberadaan Bianca, takut kalau Ara yg duduk disampingnya ini mengiranya bicara sendiri. Ara menoleh kesamping Ariesya, matanya terbelalak melihat seseorang yg bersender itu.

“mama....” pekik Ara kegirangan berlari kearah Bianca. Mama? Pikir Ariesya. Eh tunggu dulu, bukankah nama Ara adalah Zahra Yuspov sedangkan Bianca nama belakangnya juga Yuspov. Ya ampun, Ariesya menutup mulutnya. Ia baru ingat, pantasan ia merasa pernah mendengar nama Yuspov ketika Bianca mengenalkan dirinya. Ternyata Ara adalah anak  Bianca, toh.pikir Ariesya.

“Ara... kau bisa melihat mama?” ujar Bianca kaget. Ia baru sadar kalau ia punya anak selama ini, semenjak ia meninggal ia lupa soal  anaknya karena terlalu sibuk dengan pembalasan dendamnya. Dan ternyata Ara juga bisa melihatnya.

Ara mengerutkann dahinya tak mengerti ucapan mamanya “mama...” Ara semakin mendekat ke Bianca, tapi ditahan oleh Bianca sehingga Ara menghentikan langkahnya.

“Mama kemana sih? Kenapa gak bersama Ara lagi?” ujar Ara menampakkan wajahnya kebingungan yg sangat sedih sekaligus rindu itu terlihat dari kedua bola matanya yg berwarna biru laut yg diwarisinya dari Bianca sendiri.

“mama...mama...sebenarnya mama sangat rindu sama Ara, tapi mama udah gak bisa bersama Ara lagi, mama...” ujar Bianca terputus-putus. Ia menggaruk kepalanya yg tak gatal itu, ia mengernyitkan dahinya tanda perpikir. Bagaimana caranya ya agar anaknya Ara mengerti bahwa ia sudah meninggal & tubuhnya menghalus jadi tak bisa dipegang oleh manusia. Sepertinya keluarganya tak memberitahu Ara, ya mau gimana lagi toh Ara masih kecil. Kemudian ia melihat Ariesya, sepertinya Ariesya mengerti yg seharusnya dilakukan.

“Ara mamamu sebenarnya sudah menghadap Tuhan, dan ada ditempat yg jauuuh sekali, makanya gak bisa bersama Ara lagi” ujar Ariesya menjelaskan entah mengerti atau tidak ucapannya itu oleh Ara.
“tapi... apa mama masih bisa menemui Ara?” ujar Ara polos sambil mengerucutkan mulutnya yg mungil.

“tentu sayang, tapi mama gak bisa lama-lama...soal hari ini,Ara jangan ceritakan kesiapapun kalau Ara bertemu mama ya...Ara mau janji?” Bianca tersenyum kepada Ara.

“janji...termasuk menyembunyikannya dari papa?”

“ya termasuk papa, ok?”

“ok, deh!” Ara mengangkat jari jempolnya keatas sambil tersenyum riang. Tak berapa lama mobil jemputan Ara sudah tiba.

“mama, bu guru Risya, Ara pulang dulu ya...by-by” ujar Ara sambil melambaikan tangannya yg dibalas oleh mereka berdua. Setelah mobil Ara sudah tak terlihat lagi Ariesya menatap tajam Bianca.

“oh jadi Ara adalah anakmu, kenapa kamu sampai lupa? & lagi ia bisa melihatmu, sebenarnya sih aku senang Ara bisa melihatmu setidaknya ada orang yg sepertiku, ya hampir bisa dikatakan orang pikir aku gila ketika melihatku bicara sendiri”  ujar Ariesya panjang lebar. Bianca hanya nyengir, ia membenarkan ucapan gadis mungil didepannya ini.

“ya akupun juga kaget ketika Ara bisa melihatku” Bianca berkata jujur. “ ya soal itu lupakan saja dulu, ada yg lebih penting” lanjut Bianca

“ya itu benar, apa langkah kita selanjutnya?”

“ya belum kupikirkan sih...hmmm!” Bianca mengelus dagunya
“sepertinya kau harus berbaur kekeluargaku...ya tepatnya masuk ke kehidupan keluargaku” lanjut Bianca manggut-manggut.

“aaapa? Masuk ke kehidupan keluargamu?” teriak Ariesya terbelalak kaget.

“ya sepertinya begitu, untuk bisa mendapatkan bukti nyata, kau harus bisa mendekati kakakku yg secara otomatis kau bisa dekat juga tunangannya itu” angguk Bianca. “cara mendekati kakakku nanti kita pikirkan lagi, sekarang aku mau mengunjungi anakku” lanjut Bianca, beberapa detik kemudian Bianca sudah lenyap dari pandangan Ariesya. Ya, sudahlah...Ariesya mengangkat bahunya. Ia pun melangkah pulang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar