Sebuah Fakta

Sinopsis


   Ariesya Rusdi tidak menyangka akan dimintai tolong oleh seorang wanita cantik untuk mengungkap kasus pembunuhan yg rumit. Rumit karena wanita yg di tolongnya itu adalah seorang hantu bernama Bianca Yuspov. Dan kemudian Bianca meminta Ariesya untuk memberitahukan kepada saudara kembarnya Biyon Yuspov bahwa ia dalam bahaya. Mampukah Ariesya menolong Bianca??? Ditambah lagi diam-diam Ariesya jatuh cinta kepada saudara kembar Bianca yg ternyata sudah mempunyai tunangan....

Bab 1 . Siapa kau???

    Seorang wanita berusia 25 tahun sedang mondar-mandir dikamar kost-nya yg tidak begitu besar ia tampak gelisah sekali sambil menghembuskan nafasnya dalam2,wajahnya tampak berkerut memikirkan sesuatu. Tubuhya yg mungil membuatnya bebas bergerak kesana kemari. Lama-lama temannya yg sedari tadi melihatnya gerah juga.

“Ariesya Rusdi!!! berhentilah mondar-mandir didepan ku.Kau membuatku tak bisa konsentrasi membaca” teriak Rista sambil melempar majalah ke tempat tidur.Wanita yg dipanggil Ariesya seketika itu juga menghentikan langkahnya, ia akhirnya mendaratkan pantatnya dikasur empuk.



“Ris,aku bingung banget” Ariesya menatap sahabatnya itu yg duduk disampingnya. Ia merebahkan badannya dikasur.Ia kembali menghembuskan nafasnya.



“bingung kenapa,Sya?” tanya Rista sambil kembali meraih majalahnya yg ia lempar tadi.



“tanpa dijelaskan pun,kau sepertinya sudah tau masalahku”jawab Ariesya tanpa menoleh kesahabatnya,matanya lurus memandang langit2 kamarnya.Ya itu benar, sudah 2 bulan Ariesya merantau ke kota Jakarta mengikuti sahabatnya.Ia nekat meninggalkan kota kelahirannya Palembang,untuk mengadu nasib di kota Jakarta seperti kebanyakan orang lainnya. Tak seperti yg dibayangkannya,ternyata tak mudah mencari pekerjaan yg diinginkan. Ia kini belum punya pekerjaan yg berimbas kepada hidupnya sekarang,uang tabungannya semakin lama semakin menipis akibat biaya hidup yg tinggi di Jakarta. Mau pulang ke Palembang pun,ia segan. Karena tak ada tempat tujuan untuk pulang kembali,orang tuanya sudah lama meninggal.Ia hanya hidup berdua dengan kakaknya saja.Kakaknya pun sudah menikah dan dikaruniai seorang putra yg tampan. Dengan dalih tidak ingin membebani kakaknya & istrinya, iapun akhirnya merantau ke Jakarta.Sebenarnya tindakan nekadnya ini benar2 berani karena ia harus berhenti dari pekerjaanya sebagai guru TK, dan di usianya yang ke 25 bagi wanita seperti dirinya dan yg lainnya tak mudah mencari pekerjaan. Dan yg membuatnya makin ingin meniggalkan kota kelahirannya adalah Rio mantan kekasihnya. Rio telah membuatnya patah hati yg sangat mendalam karena Rio telah menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Dari awal orang tua Rio tak pernah setuju ia menjalin kasih dengan anaknya. Well, karena bagi orang tua Rio,anaknya pantas menikah dengan orang yg sederajat dengannya, tidak dengan dirinya yg hidupnya pas-pasan. Maka disinilah ia sekarang,di kota Jakarta tanpa pekerjaan yg pasti.
        Ariesya memejamkan matanya sejenak,mencoba mengusir pikiran yg mengingatkannya pada masa lalu yg buruk. Tidak, dia harus kuat sekarang pikirnya.Ia tak boleh lemah, percuma ia kembali ke kota kelahirannya tak ada harapan, ia harus meraih masa depannya sekarang di kota Jakarta. Ia yakin ada suatu kebahagiaan yg menantinya di kota ini.Entah itu apa.

“Sya, sepertinya aku punya solusi buat masalah mu sekarang”ujar Rista membuyarkan lamunannya.Kontan saja Ariesya langsung duduk,kaget mendengar Rista bicara.

“apa itu Ris???”

“masalahmu kan gak punya pekerjaan,itu ada ibunya teman ku yg kekurangan guru TK di sekolahnya.Kalau kamu mau nanti bisa masukin lamarannya kesana”.

“tentu aku mau,kan dulunya aku juga guru TK” mata Ariesya langsung berbinar2 bahagia,karena satu masalahnya telah terselesaikan.Ariesya langsung memeluk sahabatnya itu.

“makasih banyak ya Ris” ujar Ariesya sambil melepaskan pelukannya.
Rista pun mengangguk. Ariesya melihat majalah yg dibaca oleh Rista sedari tadi. Majalah bisnis,ia tak tertarik dengan bacaan seperti itu,pikir Ariesya.Ariesya beranjak dari duduknya menuju meja,dan mulai membuat surat lamaran pekerjaan.

                                       *****
       Ariesya memandang dirinya dicermin,ia memastikan bahwa penampilannya hari ini harus rapi. Ia memakai pakaian kemeja putih berkerah dipadu dengan blezer berwarna hitam,sengaja blezer-nya tidak ia kancingkan agar kelihatan renda2 panjang dikemejanya. Ditambah lagi dengan ia memakai rok hitam selutut, membuatnya seperti seorang wanita karir yg bekerja di perusahaan bonafit. Pikirannya melayang akan 2 hari yg lalu, ketika ia menerima telepon bahwa ia dipanggil untuk tes wawancara. Ariesya tersenyum puas, semoga dengan penampilannya ini menambah nilai plus dlm tes wawanacaranya nanti. Ia tersentak kaget, ketika melihat jam di hp-nya menunjukkan jam sembilan pagi. Padahal tes wawancaranya akan dimulai setengah jam lagi. Secepat kilat ia menyambar tasnya dan memakai sepatunya, kemudian ia mengunci kamarnya.
           Ariesya setengah berlari kepintu pagar sebuah sekolah TK, kurang 5 menit lagi ia hampir terlambat. Sebelum mengetuk pintu ruang kepsek, ia menghembuskan nafasnya. Mencoba menenangkan dirinya, yg tiba2 saja disergap rasa gugup luar biasa. Ia harus bisa melewati semuanya, pikirnya menyemangati dirinya sendiri. Tok,tok,tok....
            30 menit kemudian ia keluar dari ruang kepsek dengan wajah berseri2. Mulai detik ini ia resmi jadi guru TK disini. Secepatnya ia ingin pulang kekost-nya dan mengabarkan kepd sahabatnya bahwa ia sudah diterima. Terbayang dibenaknya mulai Senin ini ia akan mengajar anak-anak kecil yg lucu nan polos. Ia melangkah menyusuri ruang kelas yg sepi, 5 menit yg lalu anak-anak baru pulang. Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil perempuan sedang duduk di bangku panjang sambil menggoyangkan kaki kecilnya. Tampaknya ia menunggu jemputannya. Ariesya menghampirinya...

 “hai dik, lagi apa?”

“lg nunggu jemputan...!” jawab anak kecil ini dengan polos. Ia memandang Ariesya lekat-lekat, belum pernah ia melihat wanita ini sebelumnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita yg didepannya ini, tampaknya ia juga bukan orang jahat yg ingin menculiknya. Tapi ia takut juga...teringat pesan mamanya bahwa ia harus hati-hati kalau bertemu dengan orang asing. Ya takut kalau ia diculik, karena kata mamanya ia menyandang nama belakang keluarga yg apabila orang mendengar namanya akan membuat mereka kaget, bahkan orang jahat akan menggunakan kesempatan itu untuk menculiknya dan memeras keluarganya. Ia sendiri tak mengerti, tp menurut mamanya ia akan mengerti ketika ia remaja nanti.

“namaku Ariesya Rusdi, mulai senin ini aku akan menjadi guru barumu” Ariesya menjawab apa yg ada dipikiran anak itu, ia maklum akan sikap anak tersebut, ya apalagi di zaman modern sekarang ini.

“terus siapa namamu nak?” kata Ariesya lagi, sedari tadi ia melihat anak kecil ini diam saja.

“namaku Zahra Yuspov, biasa dipanggil dengan Ara saja bu guru dan aku berumur 4 tahun” akhirnya Ara menjawab dengan muka yg sangat lucu sekali dan tersenyum polos khas anak-anak. Membuat Ariesya tersenyum.

“oh jadi namamu Ara ya, nama yg bagus. Kalau ibu panggil aja dengan nama ibu Risya.”

“Ara siapa yg jemput?” lanjut Ariesya lagi, tampaknya ia merasakan ada ikatan yg kuat pd Ara, entah itu apa.

“pak Marwan, supir pribadi”

“lho kok supir, emangnya kemana mama Ara?”

Ara langsung menundukkan mukanya, tampaknya ia sangat sedih sekali. Ia memilin-milin jari-jari mungilnya.

“mama udah gak ada, kata papa sih mama pergi jauuuuuh sekali, ketempat yg indah, diatas langit”
    Ariesya tersentak kaget, ia tahu apa yg dimaksud oleh  Ara. Kasihan Ara, anak sekecil ini sudah harus kehilangan ibunya. Disaat ia masih banyak membutuhkan kasih sayang ibunya.

“bu Risya, tuh jemputan Ara sudah datang. Ara pulang dulu ya bu, by-by bu guru cantik”

“by-by Ara yg imut...!” Ariesya memandang Ara berlari-lari dengan riang menuju mobil mewah hingga hilang dari pandangannya. Ara pasti anak orang kaya,tuh jemputannya aja mobil berkelas,pikir Ariesya. Ia pun melangkah pulang....
                                 ****
      Sudah hampir 15 menit Ariesya berdiri didepan halte bus. Pantatnya pun terasa panas, karena sedari tadi ia hanya duduk saja. Akhirnya ia berdiri meregangkan otot-otot kakinya. Di halte ini, ia hanya sendiri saja tak ada seorang pun dari tadi. Tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda dewasa, duduk agak jauh darinya. Ia mengernyitkan dahinya, kapan ia ada disini? Pikirnya. Ariesya mencermati wanita itu, ia memakai gaun biru setinggi lutut dengan rambut pirang panjang lurus sebahu dibiarkan tergerai tampak anggun sekali.Sepertinya blasteran dilihat raut mukanya, entah negara mana, yg pasti keturunan negara-negara eropa. Tapi yg membuat Ariesya kaget bercampur ngeri karena wanita itu penuh darah dibajunya, didahinya mengucur darah, pun dengan mulutnya. Tapi wanita itu memandang lurus kedepan entah pa yg dipikirkannya hingga ia tak merasakan sakit ditubuhnya. Semula Ariesya tak peduli dengan apa yg di lihatnya, tapi lama kelamaan Ariesya iba melihat wanita malang itu, ia pun mencoba menolong semampunya.

“ya ampun... mbak kenapa? Biar aku antar mbak kerumah sakit terdekat” Ariesya langsung duduk disamping wanita itu dan mengeluarkan tisu untuk membersihkan darah.  Tapi ditepis oleh wanita itu,ia tampak sangat terkejut, sama seperti Ariesya tadi.

“kau..kau...” ia diam sejenak “kau bisa melihatku?”

Ariesya kaget apa yg dikatakan oleh wanita dihadapannya itu.
“tentu saja, aku lihat dari tadi kok. Mana mungkin aku gak lihat anda yg sedang terluka parah, mataku ini belum rabun, kecuali kalau anda bukan manusia berarti anda hantu donk” jawab Ariesya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia terdiam,jangan-jangan ia benar2 hantu. Toh barusan ia lihat 2 orang laki-laki lewat didepannya biasa-biasa aja.Kalau mereka melihat wanita ini pastilah mereka akan menolong wanita ini, sama seperti dirinya. Ah mungkin perasaannya saja, bukankan orang yg hidup di kota besar rasa pedulinya sedikit sekali.
Ariesya mengangkat bahunya, tanda tak mengerti. Tapi kecurigaannya terbukti, kali ini ia melihat 2 orang wanita lewat didepannya juga gak peduli. Wah ini benar-benar gawat, jangan-jangan wanita disampingnya ini memang benar hantu. Keringat dingin mulai menetes dipelipisnya. Kali ini ia benar-benar takut.

“wah bearti mbak sudah tahu siapa aku” wanita itu langsung berkata ia tahu apa yg dipikirkan wanita muda disebelahnya itu yg tampak ketakutan. Ariesya tak menjawab wanita itu, ia langsung berdiri,berungtung sebuah bus berhenti didepannya. Ariesya langsung naik bus itu dan duduk paling belakang. Ia menghembuskan nafasnya, tak mungkin ia melihat hantu, itu hanya pikirannya saja karena dari tadi ia hanya sendiri menunggu bus sehingga ia mengkhayal terlalu jauh. Ariesya memejamkan matanya, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri lagi. Ia membuka matanya dan menoleh kesamping berharap ada orang bisa diajaknya ngobrol. Tapi matanya langsung melebar melihat siapa yg duduk disebelahnya, wanita tadi.

“aaaarghhhh”  spontan saja Ariesya berteriak kencang, membuat orang yg ada didalamnya kaget. Ariesya mengucek matanya, loh hantu wanita tadi sudah gak ada. Ia melihat sekeliling, orang-orang pada memperhatikannya dengan muka bingung.

“maaf, maafkan aku telah buat keributan” Ariesya terdiam seribu bahasa ia malu sekali mungkin orang kira ia orang gak waras. Terpaksa ia berhenti di tengah jalan, takut ia membuat keributan lg. Dengan gontai ia menyusuri jalan, karena tempat kost-nya masih agak jauh. Ia memikirkan hantu wanita tadi, kenapa siang-siang ia muncul, bukankah hantu biasanya muncul malam hari,seperti kebanyakan film-film yg ia tonton. Bahkan ia tak merasa kalau ternyata wanita itu adalah hantu, Ia memperlebar langkahnya, agar cepat sampai di kost-nya. Baru setengah jalan ia melihat hantu wanita itu lagi, dan tepat berdiri didepannya. Ariesya kembali kaget, tapi kali ini Ariesya diam saja dan mengabaikan hantu wanita itu,dan terus berjalan. Berpura-pura tak melihatnya.

“mbak...mbak bisa lihat aku kan?” kata hantu itu, lagi-lagi ia berdiri sejajar dengan Ariesya. Tentu saja,sungut Ariesya dalam hati. Tapi ia tak mau menanggapi hantu itu, takut orang disekitarnya berpikir kalau ia gila. Ariesya makin cepat berjalan.

“hah, akhirnya sampai juga di kosan” Ariesya berkata sendiri ketika ia sudah masuk kedalam kamarnya. Ia membuka sepatunya dan melemparkannya kesamping ranjang. Ariesya langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya sambil menghirup udara banyak-banyak seakan ia hampir kehilangan hidupnya sesaat lalu dihembuskannya perlahan. Ya itu benar, barusan ia bertemu dengan hantu wanita yg mengganggunya sedari tadi sehingga membuat ia seperti orang gila saja. Ariesya membuka matanya dan memandang langit-langit kamarnya.

“mbak...”  refleks Ariesya menoleh kesampingnya dimana suara itu  berasal.
“kyaaaaa” teriak Ariesya, ia mengambil bantal guling disampingnya dan memukulnya. Tapi apa daya, ia memukul  hantu yg tentu saja tembus. Ariesya mencoba memukulnya lagi tapi hasilnya nihil. Ariesya terengah-engah.

“nyerah?” tanya hantu itu yg tiba-tiba saja ia sudah duduk diatas meja tak jauh dari rangjang. Kali ini Ariesya menyerah, percuma ia berteriak atau melempar-lempar sesuatu. Ariesya menghembuskan nafasnya lagi & mencoba tenang.

“sebenarnya apa maumu sih dan siapa kamu? Kenapa menggangguku?”

“nah gitu dong dari tadi” jawab hantu itu, kemudian ia melanjutkan kata-katanya.

“namaku Bianca Yuspov, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu”
Bianca Yuspov? Tanya Ariesya dalam hati, sepertinya ia pernah mendengar nama Yuspov, tapi entah dimana.

“oh jadi nama kamu Bianca, baiklah hantu Bianca. Jadi apa  keinginanmu?” jawab Ariesya lunak, ia sudah tak takut lagi sekarang, meskipun ia masih ngeri melihat noda darah dimana-mana baik dibajunya maupun diwajahnya.Meskipun begitu ia masih tampak cantik dan sedikit pucat.

“mbak...”

“panggil aku Risya, namaku adalah ARIESYA RUSDI” Ariesya mencoba menekankan namanya, sengaja ia berkata begitu.Sebenarnya dirinya merinding mendengar ia dipanggil dengan sebutan mbak, apalagi kalau yg memanggilnya adalah hantu dengan suara yg sedikit pelan, samar-samar dengan intonasi panjang. Membuat ia bergidik ngeri.

“baiklah, Risya. Sya aku ingin kau mengungkap siapa pembunuhku”

“aaaaapa??? Gila. Aku gak mauuuuu” teriak Ariesya kembali histeris, kali ini ia benar-benar gak kuat. Coba pikir siapa yg percaya sama omongan Ariesya nanti, dia sendiri saja gak percaya apa lagi orang lain, bisa-bisa orang benar-benar menganggapnya gila betulan. Siapa yg bakalan percaya kalau ia dapat buktinya dari hantu. Seluruh dunia bakalan menertawainya karena kekonyolannya.

“pleeeease tolong aku Sya, please help me!” ujar Binca dengan wajah hantu yg memelas.

“pokoknya aku gak mau” teriak Ariesya “lagian kenapa kamu gak minta tolong aja pada orang lain yg punya indera keenam atau minta tolong tu pada anak-anak indigo, mereka pasti akan menolongmu”
Ariesya teringat dengan acara-acara di tv yg menampilkan orang yg punya kelebihan melihat mahkluk gaib.

“gak bisa Sya, mereka tu Cuma maunya diliput di tv. Atau mungkin mereka gak bisa lihat aku. Sudah satu minggu ini semenjak aku mati, gak ada yg bisa ngelihat aku Sya. Baru tadi siang inilah ada orang yg melihat aku yaitu kamu, aku senang sekali Sya...tolong bantu aku Sya,please!” Bianca kembali memohon. Ariesya hanya diam, dia bingung mau bagaimana.

“gak bisa Bian, aku gak mau, terlalu berbahaya” jawab Ariesya dengan nada halus, agar hantu cantik didepannya ini megerti. Tapi yg namanya Bianca, seorang hantu yg keras kepala dan pantang menyerah.

“please help me,Sya. Pada siapa lagi aku minta to...”
Tok,tok,tok.... tiba-tiba pintu kamar Ariesya diketok seseorang.

“Sya, kau didalam kan?” teriak suara perempuan dr luar yg sangat dikenal oleh Ariesya.

“ya” jawab Ariesya pendek, ia melihat Bianca didepannya sudah gak ada. Ariesya membuka pintunya, ia langsung memeluk Rista. Rista kaget karena langsung dipeluk tiba-tiba oleh sahabatnya ini, seakan-akan sudah berpisah bertahun-tahun lamanya. Dilihatnya sahabatnya ini, Ariesya begitu pucat.

“kamu kenapa Sya, kok pucat sekali. Apa kamu sakit? Kamu udah makan?” tanya Rista cemas ketika mereka sudah duduk diranjang. Ariesya menggeleng, ia memang belum makan dr tadi. Kryuk-kryuk bunyi suara didalam perutnya, ia baru merasakan lapar ketika Rista menanyakannya. Tadi ia tak merasa lapar, bagaimana mau lapar kalau dr tadi ia terus diganggu hantu cantik, pikir Ariesya.

“sudahlah Sya, gak usah banyak mikir. Kita cari makanan diluar, aku juga udah lapar” Rista menarik tangan Ariesya keluar.
                                           ****
sebuah fakta part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar