Sebuah Fakta part 2


Bab 2 : tak percaya

“Ris, malam ini aku tidur dikosan mu aja, ya!” Ariesya membuka percakapannya ketika mereka sudah sampai diwarung makan. Tampak diwarung makan yg mereka singgahi sudah ramai oleh pengungjung karena sekarang waktunya jam makan siang bagi karyawan-karyawan kantor.

 Rista mengangguk “ya tentu saja, sekalian aku mau bertanya dengan kamu”
Selang beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Baik Ariesya maupun Rista sama-sama diam, dilihatnya Rista sangat menikmati makananya, sedangkan dirinya tak bersemangat makan, ya gimana mau nafsu makan kalau dr tadi ia terus memikirkan kejadian tadi. Ariesya menghela nafasnya, ia tak sadar karena dari tadi ia diperhatikan oleh sahabatnya itu. Apa ia tak diterima di TK itu, ya? Pikir Rista.
                                     ****
“nah sekarang kamu cerita apa yg mengganggu pikiranmu itu” tanya Rista ketika mereka sudah dikamar kosnya. Ariesya menghela nafasnya, diambilnya segelas air yg ada diatas meja tak jauh dari mereka duduk. Setelah selesai minum, ia menghirup udara banyak-banyak dan dihembuskannya perlahan.

“Ris, tadi siang aku diganggu hantu cantik”
Rista terdiam setelah mendengar penuturan sahabatnya itu, ia tahu Ariesya tak pernah percaya akan hal-hal begituan sama seperti dirinya. Apa begitu beratnya ia tak diterima bekerja hingga membuat wanita mungil didepannya ini merasakan yg aneh-aneh. Ia memegang dahi sahabatnya itu, normal gak panas.

“aku masih normal Ris, namanya adalah....ya ampun namanya sama persis dengan yg ada dimajalah mu itu!” Ariesya menunjuk majalah yg ada di atas meja. “Bianca Yuspov Adik Dari Pemilik Kerajaan Bisnis Salah Satu Terbesar Di Indonesia Telah Meninggal Dunia Kemarin” begitu kutipan dari judul ulasan yg ia lihat. Ariesya melihat tanggal terbit majalah itu hari sabtu yg lalu, dan hari ini juga hari sabtu sudah seminggu yg lalu cocok dengan apa yg dikatakan oleh hantu Bianca tadi. Rista melihat ulasan yg sudah ia baca itu, isinya yaitu tentang Bianca Yuspov yg meninggal karena kecelakaan.
“tak mungkin Sya, itu karena kamu terlalu banyak pikiran” Rista meyakinkan sahabatnya yg mulai bicara ngawur. Ariesya terdiam, Rista sahabatnya sendiripun tak percaya akan omongannya ini, apalagi orang lain.

“sudahlah Sya gak usah dipikirin, terus bagaimana dengan hasil tes wawancaramu?”
Ya ampun, Ariesya menepuk keningnya sendiri. Bagaimana ia bisa lupa memberitahukan kabar gembira itu pada sahabatnya. Pasti dari tadi Rista berpikir kalau ia terguncang karena ia tak diterima bekerja.
Ariesya tersenyum lebar membuktikan bahwa ia sehat-sehat saja, tak seperti yg dipikirkan sahabatnya itu.

“hasilnya...mulai senin ini aku mulai bekerja”

“selamat ya...”

Ariesya mengangguk, hampir ia tak bisa bernafas karena tiba-tiba sahabatnya ini langsung memeluknya, barulah ia bisa bernafas ketika Rista melepaskan pelukannya.

“ya sudah Sya, kita tidur aja udah malam...Hoaaamm”
Rista menutup mulutnya karena menguap. Rista beranjak dari tempat duduknya diiringi Ariesya menuju ranjang.

“selamat tidur Sya...” Rista mematikan lampu dan tidur membelakangi Ariesya.

“selamat tidur juga Ris” Ariesya menarik selimutnya keatas hingga menutupi seluruh tubuhnya. Matanya menerawang keatas, kemana hantu Bianca tadi? Apa mungkin Bianca sudah tahu bahwa ia tak sanggup menuruti kemauannya dan menghilang. Lebih baik begitu, pikir Ariesya. Tak berapa lama iapun terlelap dalam tidurnya.
                                      *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar